Hypersonic, Hyperman dan Hyperhero

Para insinyur penerbangan di Inggris mengumumkan desain pesawat hipersonik yang dapat menjangkau daratan Eropa ke Australia hanya dalam waktu lima jam. Pesawat tersebut akan menjadi moda transportasi cepat melalui udara dalam dua dekade ke depan, demikian berita Kompas Selasa 6 Februari 2008.

Spesifikasi

  • Nama: A2
  • Panjang: 143 meter
  • Kapasitas: 300 penumpang
  • Kecepatan 6.400 km/jam (5 mach)
  • Daya jelajah: 20.000 km tanpa henti
  • Bahan bakar : hidrogen
  • Perkiraan ongkos, eh.. harga tiket: US$ 6.900 Brussel-Australia
  • Selesai 25 tahun lagi

Jadi, kalau kita terbang dari Jakarta ke Medan, yang biasanya dua jam akan menjadi sekitar 20 menit kali ye. Wow, cepat sekali! Kalau belum yakin tolong dihitung sendiri.

Hyperheman dan Hyper Hero
Karena kecepatannya melebihi kecepatan pesawat normal, dulu kita mengenal almarhum Concorde sebagai pesawat supersonik. Lalu, 25 tahun lagi, karena kecepatannya jauh melebihi pesawat supersonik, diberilah nama hipersonik.

Lalu bagaimana jika ada manusia yang kehebatannya melebihi seorang superhero. Dapatkah kita sebut dengan hyperhero? “Ini dia hyperhero kita sudah datang dari planet Porselin”. Rasanya kok nggak enak ya.

Apalagi kalau Superman sudah mati dan muncullah jagoan baru Hyperman. Di sebuah poster film, nanti kita bisa melihat tulisan “Hyperman Return”. Oo, jangan-jangan penonton menyangka ini film 17 tahun ke atas.

Tapi ada hikmahnya kalau Hyperman muncul. Tebakan, “Mengapa Superman pake baju berlogo S ” pasti tidak ada lagi. Lalu ada nggak ya tebakan,”Mengapa Hyperman memakai baju berlogo H?” Tentu saja tidak ada, karena H bukan ukuran baju.

Kata hyper atau hiper dalam bahasa Indonesia tampaknya hanya cocok dilekatkan kepada selain manusia. Jika persaingan sangat ketat, disebutlah hyper competition. Kalau pusat perbelanjaanya sangat luas, disebutlah hypermarket, dsb.

Entahlah, kalau 25 tahun lagi kita sudah terbiasa dengan jet hipersonik. Saat itu, kata hyperman atau hyperhero mungkin sudah dianggap lazim. Bahasa kan hanya masalah kebiasaan dan kesepakatan (Hery Azwan, Jakarta, 20/2/2008)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s