Pantai Ancol

Di Jakarta, tampaknya hanya di Ancol kita dapat menemukan pantai yang tidak terlalu jauh. Kalau harus ke Pangandaran atau Anyer, wah udah capek di jalan duluan. Kalau ke Ancol, apalagi di Minggu pagi, dengan mengeluarkan uang Rp 6.000 kita sudah bisa menikmati jalan tol dalam kota dan tiba di pantai dalam hitungan menit (dengan catatan kalau rumahnya masih di dalam kawasan kota Jakarta).

Minggu kemarin, aku berkesempatan membawa tiga keponakan dari adikku yang di Bandung. Mereka kutawari, mau ke pantai atau berenang di kolam kompleks. Acal dan Miki memilih pantai, hanya Sasa memilih kolam. Maka, kuputuskan untuk ke pantai Ancol. Kami berangkat tanpa papa mereka yang sedang menguji di Purwacaraka Music School cabang Harapan Indah.

Sekitar 06.30 kami bertolak dari rumah dan tiba di Ancol 40 menit kemudian. Ada yang berubah dari Ancol, yaitu HTM-nya naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.000 untuk orang, dan tetap Rp 10.000 untuk mobil.

Setelah memasuki pintu gerbang, parkiran sudah dipenuhi oleh berbagai jenis mobil. Bahkan beberapa mobil sudah menempati ruang kosong di sekitar bundaran di depan pintu masuk. Tampak tulisan,”Family Gathering Embun Pagi”. Entahlah, organisasi apa ini. Ooo, ini yang buat macet rupanya.

Pelan-pelan kucari tempat parkir, tapi penuh semua. Akhirnya aku meminta semua penumpang turun, kecuali aku. Pelan-pelan kuintip tempat parkir yang kosong, namun sia-sia. Akhirnya aku dapat parkir di sekitar bende raksasa. Ternyata jauh juga jalan dari sini ke tempat penumpang kuturunkan tadi. Sambil menggendong tas perbekalan anak-anak, aku menyusuri pantai Ancol menemui mereka.

Lalu cerita serunya mana?

Setiba di tempat anak-anak,  kulihat mereka begitu khusyuknya membentuk pasir menjadi bentuk sesuai selera mereka. Rona bahagia terpancar dari wajah mereka. Sasa yang tadi memilih kolam juga sumringah. Kutanya kepadanya,”Enakan mana Sa dengan kolam?”

“Enakan di sini, Wak”.

Di samping tempat mereka bermain kulihat seorang kakek yang dikerubuti sekitar 5 orang cucunya yang sudah ABG. Sang kakek tampaknya terkena lumpuh sehingga sulit menggerakkan anggota tubuhnya. Dia duduk di atas kursi roda dengan hidung dipasang selang seperti orang diinfus.

Yang menarik, pelan-pelan para cucu memandu sang kakek ke air. Barangkali sang kakek memang sedang diterapi, dan air merupakan salah satu tempat yang sangat ideal untuk terapi. Selanjutnya sang kakek memakai ban berwarna kuning dan berenang di tempat dangkal bersama para cucu. Sebuah pemandangan yang mengharukan. Di zaman sekarang, ternyata masih ada cucu yang peduli dengan kakeknya yang sudah lumpuh. Barangkali, sebenarnya banyak kegiatan lain yang bisa mereka jadikan alasan untuk tidak “bermain” besama kakek. Mereka benar-benar anak muda yang patut diteladani.

Selain itu, aku menduga, sang kakek yang terlihat kurus, sebelumnya telah menginvestasikan kasih sayangnya kepada sang cucu. Jadi, sekarang dia tinggal memetik buahnya. Wah, kok jadi hitung-hitungan gini? Sejauh pengamatanku, jika seorang kakek/nenek kurang peduli atau tidak menunjukkan kasih sayangnya kepada cucunya saat sang cucu masih kecil, maka ketika mereka besar, biasanya mereka juga cuek. Benar nggak sih? Bagaimana menurut sampeyan?

Iklan

7 tanggapan untuk “Pantai Ancol

  1. Siapa yang menabur kebaikan, akan mendapatkan kebaikan itu juga ya, Bang…

    Mungkin malah tidak secara langsung seperti seorang Kakek yang sangat mencintai cucunya lalu kemudian ketika dewasa, cucu2 mereka membalas semua kebaikan si Kakek…

    Mungkin saja bisa lewat orang lain…
    Mungkin malah bisa lewat siapa dan apa saja.

    Yang pasti…
    Kebaikan yang kita lakukan tidak akan terlupakan untuk dicatat oleh malaikat-malaikat Tuhan, biarpun orang-orang yang kita baiki itu malah tidak peduli setelahnya… 🙂

    Salam Bang!
    Ketemu minggu depan yah! ^_^

  2. Kalau benar mereka cucunya …
    Ya … mereka patut diteladani …
    Dan lagi … ini ibarat sekali rengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui …
    Therapi sang Kakek … dan juga bisa main-main air dipantai toh …

    Dan betul kata abang … ini bukan hitung-hitungan …
    Aku yakin sang Kakek sangat dekat dengan mereka … sehingga para cucu pun akan dengan senang-senang saja melakukan upaya ini semua …

    Salam saya …

  3. ahhh yang pasti scene ini tidak ada di Jepang…
    or aku yang tidak pernah lihat.
    Indah ya…

    and aku jadi ingat selembar foto kakek Jepang dan cucunya di kolam renang.
    nanti posting ah

    saya pamit ya Bang…sampe ketemu di lain kesempatan
    EM

  4. jalan-jalan ke Gelanggang Samuderanya ngak ?
    uh, mahal harganya sekarang.
    Bete kalau ke ancol, yang gratis cuma liatin pantainya aja.
    Dufan, bayar. Sea world, bayar.
    Tapi demi keponakan, uang tidak masalah yah 🙂

  5. Aku kebetulan minggu ini mo ke pantai juga, mo terapi batpil anakku yang ga sembuh2, lokasi pantai di ancol yang bersih itu disebelah mana ya mas? yang anak2 bisa main pasir juga. tx sebelomnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s