Ngabring ka Bali

Ngabring ka Bali

Berkunjung ke Bali memang bukan pertama kalinya saya lakukan. Tapi ke Bali beramai-ramai bareng keluarga memang berbeda, lebih terasa keguyubannya. Di perjalanan menuju tempat wisata biasanya selalu diselingi dengan obrolan, sharing atau bahkan curhat. Asyiknya rame-rame…

Bani Sjarif berpose di depan burung garuda, GWK
Bani Sjarif berpose di depan burung garuda, GWK

Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin meringkas sejarah kunjungan saya ke Bali.

  1. Pada tahun 1991 bersama teman2 kampus IAIN, eh kakak kelas yang sedang melakukan Comparative Study di universitas Jawa dan Bali. Kami menumpang bus ekonomi tanpa AC dari Ciputat. Kebayangkan aromanya setelah seminggu. Ongkosnya saat itu cuma Rp97.000, sudah termasuk untuk makan di perjalanan. Murah banget khan? Soalnya sebagian ditanggung sponsor. Perjalanan memakan waktu lebih dari seminggu menyusuri kota2 di Jawa dan Bali. Tempat2 di Jawa yang kami singgahi antara lain: Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, makam Sunan Bonang di Tuban, makam Bung Karno di Blitar, waduk Jatiluhur, UKSW di Salatiga, IAIN Yogyakarta. Adapun tempat2 yang kami singgahi di Bali antara lain: Institut Hindu Dharma, Kuta, Sanur, Sangeh, Bedugul, Kintamani, sebuah pesantren di Klungkung, Tampak Siring, Goa Gajah, Pura Besakih, Tanah Lot.
  2. Pada tahun 2004, honey moon bersama istri tercinta. Tempat yang kami kunjungi: Kintamani, Kuta, Goa Gajah, Celuk, Garuda Wisnu Kencana, Batu Bulan, Tanah Lot
  3. Pada tahun 2006, bersama rombongan Ikapi sebagai panitia APPA (Asia Pacific Publishers Association) Annual Meeting. Tempat yang dikunjungi: Bedugul, Alas Kedaton, Tanah Lot, Sanur, Batu Bulan.

Dari semua kunjungan tersebut, tampaknya Tanah Lot menjadi tempat yang tak pernah terlewatkan. Nah, pada libur Natal kemarin, saya sekali lagi ke Bali. Dari Bandung kami bertolak dengan budget airlines Air Asia. Tiket sudah dipesan jauh2 hari, begitu juga dengan hotel sehingga harganya masih relative murah. Tiket Bandung-Denpasar tak lebih dari Rp1.550.000 PP per orang. Adapaun rate hotel, Rp900.000 per malam. Dengan anggota rombongan berjumlah 15 orang (termasuk 2 anak kecil dan 2 ABG), kami memesan 3 kamar untuk 4 malam.

Hari Pertama, 22 Desember 2012

Tak gampang mengkoordinir 15 orang untuk bepergian. Harus ada tour leadernya, meskipun tidak resmi. Sebenarnya sih bukan tour leader, tapi seksi gadak-gidik atau seksi angkat-angkat dan check in. He he… Untunglah dibantu portir, jadi otot tak begitu cangkeul.

Jika bepergian dengan budget air lines, kita kudu memperhitungkan dengan cermat berat bagasi. Semuanya lebih murah dipesan di awal. Jangan sampai setelah di counter baru ketahuan kalau berlebih, karena tarifnya akan jauh lebih mahal. Pas check in kemarin, bagasi kami kelebihan 8 kg dari 80 kg yang dipesan. Terpaksa kami harus menambah Rp225.000 untuk 15kg karena ini berat minimal. Padahal saat pemesanan awal harga 20kg Cuma Rp150.000. Mau dibawa saja ke kabin, repot deh karena dimensinya cukup besar.

11.40 pesawat berangkat on time dari Husein. Di atas pesawat perut mulai keroncongan dan memberontak agar segera diisi. Namun apa daya, makanan berat seperti nasi lemak, nasi padang sudah habis semua. Tinggal makanan ringan seperti pop mi dan snack lainnya. Memang, jika penerbangan melewati waktu makan siang, lebih baik kita pesan via internet sehingga ketersediaan makanan terjamin (lha iyalah, wong sudah dibayar).

Pesawat mendarat dengan mulus di Ngurah Rai sekitar 14.30. Bandara Ngurah Rai sangat crowded karena ada renovasi perluasan terminal. Targetnya, sebelum KTT G20 di bulan November 2013, renovasi sudah selesai. Driver dari travel yang kami pesan melalui teman sudah menanti. Meskipun tak membawa papan nama, kami langsung bisa mengenali lewat telepon2an.

Mobil jenis Elf yang kami rental berkapasitas 13 orang. Setelah bangku belakang diturunkan untuk memuat koper, berkuranglah kapasitas tsb menjadi 9 orang. Untunglah tubuh kami kecil2 dan sebagian terdiri dari anak2 sehingga semua penumpang bisa terangkut.

Tujuan berikutnya adalah menemukan restoran terdekat. Pas di bundaran patung kuda ada restoran ACC Minang. Menurut yang aku browsing, restoran ini cukup enak citra rasanya. Apalagi yang memberikan rekomendasi orang Malaysia. Aku menduga restoran ini mirip restoran ACC di Medan. Ternyata beda. Setelah kami bersantap, ternyata rasanya masih jauh di bawah Sederhana, begitu juga dengan pelayanannya yang sangat lambat. Jadi resto ini not recommended ya… Apalagi, ternyata tidak ada mushola di sini sebagai fasilitas standar di restoran Padang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIT. Menurut rundown yang aku buat kami harus bertolak ke Tanah Lot. Namun menurut driver waktunya tidak cukup karena jalanan ke Tanah Lot relative macet. Dia menawarkan alternative ke GWK yang lebih dekat dari bandara. Akhirnya kami sepakat menuju GWK.

Meski bukan pertama kali ke GWK, aku selalu bersemangat setiap kali ke tempat ini. Terutama, ingin melihat perkembangan pembangunannya, sudah sampai di manakah? Apakah patung Wishnu menunggangi burung garuda sudah terpasang?  Ternyata, kali ini dua patung tersebut masih terpisah.

Yang berbeda dari kunjunganku sebelumnya di tahun 2004, kali ini ada fasilitas flying fox dan Segway. Flying fox di kawasan ini pasti sangat challenging dan menawan karena terletak di puncak bukit. Tentu saja, saya sudah tidak berminat (berani) lagi karena factor U. He he…  Arena bermain Segway juga sangat luas. Selain itu ada juga toko souvenir. Dari puncak GWK, pemandangannya sangat eksotis. Laut dan pesawat yang akan landing dan takeoff terlihat jelas.

Puas berfoto2 di depan patung Wishnu dan patung garuda, serta menunggui ponakan bermain Segway kami pun segera menuju mobil rental menuju Kuta. Niat awal sih mau makan malam di Jimbaran, tapi apa daya perut masih kenyang karena makan siang yang terlambat.

Menjelang Legian, arus lalu lintas semakin melambat. Suasana menjelang liburan pada tanggal 22 Desember 2012 sangat terasa. Café dan restoran di sepanjang jalan dipenuhi turis asing. Pramuniaga di rumah2 SPA dan Massage berlomba menawarkan jasa kepada pengunjung yang lewat.

Akhirnya kami memutuskan turun di depan McDonald, sementara mobil parkir di Beach Walk, mal baru yang sangat modern sekaligus eksotis. Suasana di McD centang perenang. Hampir semua meja penuh. Seandainya pun kosong, sisa makanan dari pengunjung sebelumnya abai dibersihkan.  Akhirnya, makan malam pun berlangsung di atas pukul 21.30. McD Kuta merupakan salah satu outlet McD yang tak pernah sepi. Dengan harga yang sama dengan outlet lain, McD menjadi pilihan yang paling aman, baik dari sisi dompet, maupun dari sisi kehalalan. Ternyata, makan malam di McD hanya bernilai setengah dari makan siang di ACC. Super….

Bendahara pun (yang dipegang istriku Yuli) bernafas lega…

Usai makan, kami langsung menuju hotel yang terletak di Jalan Sunset Road. Kalau di peta rasanya tak terlalu jauh dengan Kuta, tapi kenyataannya ternyata lumayan juga kalau harus ditempuh dengan jalan kaki, sekitar 3 km. Yah, penonton kecewa. Belum lagi kolam renangnya Rp900.000 per malam, ada 2 kamar dan 2 kamar mandi. Hanya saja, bed yang berukuran King hanya satu, selebihnya berukuran single. Tak apalah, masih ada kursi. Maka, formasi penghuni kamar pun diatur sedemikian rupa biar adil seadil-adilnya.

Flat TV berukuran 32 inch berisi program dari tv kabel sehingga hiburan menjelang tidur sangat memadai. Begitu juga, wifi cukup kencang sehingga mampu memutar video atau streaming.

O ya, tariff rental mobil Elf per hari: Rp700.000 (10 jam). Kalau lebih2 dikit juga nggak dicas lho….

Hari Kedua, 23 Desember 2012

Acara pagi diawali dengan breakfast ala Indonesia yang terdiri dari nasi, lauk pauk dan buah-buahan. Roti bakar dan omelet juga tersedia. Lobi disulap menjadi restoran. Budget hotel memang sangat efisien mengambil ruang. Beberapa turis bule juga terlihat sedang menikmati sarapan pagi.

Agenda hari ini ke Waterbom dan Tanah Lot. Ada insiden kecil ketika kami tiba di Waterbom yang berlokasi di depan Discovery Mall. Beberapa hari sebelum keberangkatan aku sudah menghubungi salah seorang agen di Bali untuk memperoleh diskon. Akan tetapi, karena rundown kami belum fixed aku lupa melakukan konfirmasi. Akibatnya, ketika sampai di depan loket, kami tidak bisa langsung masuk.

Perbedaan published rate dengan harga agen memang jauh berbeda. Published rate US$31, sementara di agen hanya Rp175.000 untuk orang dewasa dan Rp125.000 untuk anak-anak. Hampir setengahnya.

Petugas di Waterbom memang sangat helpful. Mereka menelepon ke agen Bali Reservasi yang aku sebutkan. Tak lama kemudian, mereka menyetujui dengan tariff yang aku sampaikan.

Di loket ini, selain tiket, kita juga harus membeli gelang elektronik sebagai alat transaksi. Semua transaksi di dalam Waterbom seperti untuk membeli makanan, reflex, tattoo, cetak foto dan kepang rambut menggunakan gelang ini.

Penataan ruang di Waterbom ini luar biasa. Pohon tropis ditanam dan dirawat dengan rapi sehingga seolah kita berada di hutan. Bagiku yang tidak berminat lagi mencoba wahana yang “seru” sebenarnya agak rugi juga. Arena yang bisa kunikmati paling2 arena lazy river dan kolam renang biasa. Adapun pelbagai arena yang bersifat prosotan atau sliding aku sudah tidak bernyali. Kembali lagi factor U. He he… Para ponakan tentu saja sangat menikmati berbagai wahana dengan antusias, kecuali Climax, sebuah wahana yang sangat ekstrim karena kita diturunkan seperti dilempar dari tabung, hampir tegak lurus. Berat minimal untuk boleh menaiki wahana ini 40 kg. Tak banyak pribumi yang bermain di wahana ini. Mayoritas orang asing. Mungkin nyali orang kita kalah dengan nyali orang asing.

Yang cukup menarik, di lazy river ada tukang foto. Kameranya mungkin kamera khusus yang tahan air. Setelah berfoto, kita diberi tanda berupa gelang plastic sebagai bukti. Nantinya kita bisa mencetak foto dalam format biasa ataupun dalam bentuk mug, TShirt dan objek digital printing lainnya. Harga cetak foto ini memang gila2an. Tumbler atau cangkir besar dihargai Rp200.000. Weleh2….

Setelah puas berenang, kami meninggalkan Waterbom menuju Discovery Mall. Ternyata food court di sini sudah tidak ada, sehingga kami harus mencari alternative lain. Akhirnya diputuskan di Segarra Café karena Solaria sudah penuh.

Harga makanan di Segarra Café memang luar biasa mahal. Paket nasi timbel atau nasi bali saja bisa seharga Rp75.000. Jus2an aja bisa Rp35.000. Padahal dari sisi rasa tidaklah terlalu istimewa.

Setelah bill keluar, tertera angka Rp1.270.000. Seketika, bendahara pun mendelik. “Nanti malam puasa ya”, canda sang bendahara.

Usai makan, ibu2 tak mau melepaskan kesempatan untuk belanja di mall. Mumpung masih ada waktu satu jam sebelum ke Tanah  Lot. Sementara rombongan lain berleha-leha di gazebo café sambil sesekali tertidur. Beberapa bahkan ngorok. …..Krkkkkkk….krkkkkk…..

Perjalanan menuju Tanah Lot relatif lancar. Hanya saja, menjelang loket, lalu lintas sedikit melambat karena ada proses pembelian tiket. Kami istiharat sejenak sambil melakukan salat jamak qasar di sebuah mushola yang sayangnya kurang bersih. Memang tidak bisa dibandingkan dengan mushola di pulau Jawa. Di sini mushola ala kadarnya. Tapi lebih baik dibanding mushola di GWK.

Menjelang sunset di Tanah Lot
Menjelang sunset di Tanah Lot

Suasana di Tanah Lot sudah sangat ramai. Menjelang sunset tentu saja pengunjung tidak bisa menyeberang ke pura karena air sudah pasang. Akhirnya pengunjung hanya foto2 di pinggir pantai bertebing.

Setiap malam ternyata ada pertunjukan Tari Kecak di Tanah Lot. Arena tempat berlangsungnya Tari Kecak ternyata cukup jauh, lebih dari 500m dari tempat utama. Tiketnya Rp50.000 per orang. Cukup mahal dibanding nonton film di XXI, tapi relative murah dibanding nonton teater di TIM.

Ada sekitar 50 kursi disusun di seputar arena. Hanya ada satu lapir kursi.

Tari Kecak ini merupakan sendratari Ramayana yang berkisah tentang penculikan Shinta oleh Rahwana. Beberapa adegan disampaikan dalam bahasa Bali, Indonesia dan terkadang bahasa Inggris. Tapi yang lebih banyak hanya tarian saja. Usai pertunjukan, penonton boleh berfoto dengan penari dan beberapa karakter dalam sendratari ini seperti Hanoman, Rahwana, Laksamana dan Shinta.

Perjalanan pulang dari Tanah Lot menuju hotel sangat lambat karena banyaknya kendaraan. Untuk keluar dari parkiran saja dibutuhkan hampir 15 menit. Setelah keluar parkiran bukan berarti bebas. TErnyata lalu lintas masih tersendat. Jarak Tanah Lot-Kuta ditempuh lebih dari 1.5 jam.

Karena sudah malam, dan anak2 sudah pada tidur, kami tidak makan malam di tempat, tetapi membeli secara take away. Tak jauh dari hotel ternyata ada RM Ayam Taliwang Bersaudara. Dengan harga yang relative murah, ayam beserta nasinya dibawa pulang dan kami santap di hotel. Ternyata nikmatnya lebih aduhai daripada makan tadi siang. Plecing kangkungnya luar biasa pedas, tapi lezat. Makan malam kali ini bernilai Rp330.000, seperempat dari makan tadi siang, tapi kenikmatannya dua kali lipat. Mantaps….

 

Hari Ketiga, 24 Desember 2012

Agenda hari ini adalah water sport di Tanjung Benoa. Saya belum punya preferensi agen mana yang dipakai karena begitu banyaknya penawaran dan operator. Akhirnya kami tiba di tempat yang direkomendasikan oleh Driver. Dalam hal ini, pasti ada hubungan khusus antara pengelola tempat dengan Driver.

Petugas dari pengelola memberikan daftar harga yang membuat kening kami berkerut. Ternyata harganya untuk orang asing. Setelah mengancam akan pindah ke operator lain dan menunjukkan brosur yang harganya jauh lebih murah, barulah sang petugas memberikan setengah harga, lalu dikurangi 15%. Harga ini sedikit lebih tinggi daripada harga di brosur. Kesepakatan pun tercapai.

Ada beberapa permainan yang kami beli yaitu, banan boat, flying fish, parasailing dan mengunjungi pulau penyu. Masing2 permainan dilakukan oleh orang yang berbeda. Total biaya untuk semua ini Rp2.000.000.

Awalnya saya tertarik untuk bermain para sailing, namun akhirnya hilang nyali. Akhirnya saya hanya menikmati banana boat. Kembali lagi factor U… Sementara ponakan dengan gagah perkasa mencoba wahana flying fish dan parasailing. Istriku yang nekad menaiki wahana flying fish mengucapkan kata kapok. Badan rasanya mau jatuh dari perahu, katanya.

Asyiknya naik banana boat
Asyiknya naik banana boat

Pulang dari Tanjung Benoa kami istirahat sebentar di hotel. Sorenya, para ibu kembali mengubek-ubek kawasan Kuta, tepatnya Kuta Square, untuk mencari oleh2. Berjalan di sepanjang Kuta memang mengasyikkan. Sekadar nongkrong di Cafe2 beken seperti Starbuck dan Coffee Bean cukuplah membuat hati senang. Apalagi di sepanjang jalan banyak yang berseliweran. Ritual menonton dan ditonton menjadi suatu yang campur aduk.

Hari Keempat, 25 Desember 2012

Hari ini agendanya mencari oleh-oleh di Krishna. Kini Sukowati tidak lagi menjadi pusat oleh2. Krishna berfungsi layaknya pasar serba ada. Produk yang dijual mulai dari makanan, pakaian sampai souvenir. Harganya sangat bersaing. Konon, pemilik Krishna ini di awal karirnya merupakan seorang office boy.

Setelah puas berbelanja, saatnya untuk meluncur ke bandara. Suasana terminal keberangkatan masih belum nyaman karena baru tiga hari dioperasikan. Sisa debu masih terasa. Tampaknya masih butuh finishing yang lumayan lama untuk menjadikan terminal keberangkatan ini nyaman.

Rombongan memutuskan untuk makan siang di Solaria di kompleks bandara, sementara kami para tour leader harus melakukan check in lebih dahulu. Setelah check in beres, kami mencari penjual makanan. Bakso lapangan tembak dan beberapa warung khas Bali sudah ada. Namun, akhirnya kami berdua memutuskan untuk makan di sebuah warung padang yang menyempil di pojok. Namun alangkah terkejutnya kami setelah kasir menghitung makanan kami. 180 ribu, Pak. Gubrakkkk….

Masa sih?, Tanya saya. Akhirnya kasir tadi meghitung kembali dan ternyata jumlahnya Rp100.000. Harga bandara memang relative mahal. Sepiring nasi dengan lauk ayam dihargai Rp35.000.

Bandingkan dengan harga di luar sekitar Rp16.000.  Air mineral dihargai Rp10.000. Bandingkan dengan harga di luar Rp3.000. Ya namanya juga ruang di bandara sewanya muahal….

Bali memang tetap menarik untuk dikunjungi. Setiap kita ke sana, selalu saja ada yang baru. Keramahan penduduknya memang berbeda. Semuanya berkepentingan untuk memuaskan turis.

Ya sudah begitu saja laporan dari Ngabring ka Bali keluarga Bani Sjarif (bapak mertua). Semoga tahun depan semuanya diberkahi rezeki sehingga bisa ngabring lagi ke tujuan wisata lainnya.

Iklan

13 tanggapan untuk “Ngabring ka Bali

  1. Tanggal 3 Januari kemarin saya juga ke Bali Bang …
    Dan bener kata Abang …
    Bandara Ngurah Rai sangat crowded karena ada renovasi perluasan terminal …

    Amat sangat crowded banget … musim anak-anak selesai liburan sekolah … bandara pun sedang berbenah … komputer check in sedang bermasalah pula .. lengkap sudah …

    BTW …
    Lazy River … saya dari dulu pengen nyobain nggak pernah sempat … Jangankan yang di Bali … yang diseputaran Jabodetabek aja belon pernah … qiqiqiqi

    Salam saya Bang

    Wah, ke Bali juga rupanya Si Om….
    Kemana aja tempat yang dikunjungi, Om?

  2. Bro.. ini rahasia ya.. Aku baru satu kali ke Bali. Itu pun sudah luamaaaaa… banget. Yakni ketika libur pertengahan tahun di pondok, pas kelas 4. Waktu itu aku berangkat bareng beberapa teman, salah satunya Sukron HS, hehe… 🙂

    Asyik bener nih liburan bareng keluarga besar.

  3. Ayam Taliwang! Langsung dicatat 😀
    Meskipun kami tidak sulit untuk makan, tapi begitu dengar kami berbahasa Jepang, pasti harganya lain 😀
    Aku terakhir ke Bali th 2000, honey moon dan menginap di Ritz yang konon skr sudah ganti managemen ya?
    Ingin ajak anak-anak ke Bali tapi enaknya sih sama papanya sekalian… jadi skr musti lihat jadwal papanya dulu 🙂

  4. Ayo menangkan 250K Voucher Sodexo sesimpel Like Fanpage, Follow Twitter, dan Isi Survey yang terdapat di website ACTIVORM. Activorm adalah Activation Platform untuk Social Networks Marketers, Online Marketing Ads, Internet Marketing dan sekaligus memberikan Prize bagi fans.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s