Tour de Malaysia (2)

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.10. Setiba di kamar hotel Citin Seacare, aku segera mengambil wudlu dan menunaikan salat zuhur dan ashar secara jamak qasar. Waktu salat di Kuala Lumpur, termasuk Singapura, lebih lambat satu jam dibanding Jakarta atau Bandung. Waktu salat di Kuala Lumpur sbb: Subuh 05.30, zuhur 13.00, ashar 16.30, magrib 19.00, isya 20.30. Hal ini terjadi karena Malaysia dan Singapura mengikuti Waktu IndonesianTengah (+8 GMT). Kebijakan zona waktu biasanya bersifat politis, sehingga tidak heran kalau banyak perubahan zona waktu sepanjang sejarah suatu bangsa. Singapura, misalnya pernah mengadopsi zona Tokyo (+9 GMT) saat masih dijajah Jepang tahun 1942-1945. Kalau kita tarik garis lurus dari Bangkok ke Jakarta akan terlihat kalau Kuala Lumpur dan Singapore masih termasuk dalam zona yang sama.

KLCC
Usai salat kami berencana mengunjungi KLCC. Kami bertanya lebih dulu ke resepsionis berapakah tarif taksi ke sana. Kuala Lumpur terkenal dengan taksinya yang tidak menggunakan argo (meter dalam bahasa Melayu). Staf menjawab tarifnya sekitar 15-20 Ringgit. Sejurus, kami pun menawar taksi yang ada di posisi depan. Sopir menyebut angka 20 ringgit dan kami menawar 15 ringgit. Mulanya dia tidak menerima tawaran kami, namun setelah kami tinggal (mirip gaya Mangga Dua), sopir memanggil kami dan menyepakati angka 15 ringgit.

Taksi di Kuala Lumpur sepertinya wajib menggunakan mobil nasional Proton. Tampilan taksi di sini kurang menarik: body lebih kecil dari umumnya taksi di Jakarta yang menggunakan Toyota Limo. Catnya perpaduan merah dan putih.

Jarak dari Citin Hotel ke KLCC sebenarnya tidak terlalu jauh. Sopir membela kalau taksi borongan lebih baik daripada taksi bermeter.
“Buat apa pakai meter kalau sopir berwajah masam. Sudah begitu, taksi diputar-putar biar meter bertambah. Nanti sedikit2 mata penumpang melihat ke meter,” demikian curhat sang sopir. Tak sampai 15 menit, kami tiba di depan menara Petronas yang sangat megah. Akhirnya kesampaian juga aku ke tempat ini. Sementara Yuli sudah pernah ke sini beberapa tahun yang lalu untuk urusan dinas.

Maka, kami pun berfoto ria dari berbagai sudut, baik yang selfie maupun sendirian. Kami juga sempat meminta bantuan seorang turis asing untuk memoto kami. Suasana taman di depan Petronas Tower memang sangat ramai dengan pengunjung. Sekilas terlihat kalau sebagian besar adalah turis asing, termasuk kami. Setelah puas berfoto, kami pun beranjak menuju Suria KLCC Mall. Suria artinya matahari. Dalam EYD ditulis Surya.

Tempat incaran Yuli di Suria adalah Vincci, toko sepatu asli KL yang sebenarnya sudah ada di Indonesia. Tapi sebelum itu, kami perlu mengisi perut karena siang tadi belum sempat makan. Kami makan di food court atau medan selera yang terletak di lantai 3. Di sini dijual berbagai jenis masakan. Tak ketinggalan Ayam Penyet Ria juga ada di sini.

Yuli memesan udang galah besar yang sangat menggoda selera dari gerai Nasi Kandae. Harganya 31.5 ringgit (sudah termasuk nasi). Aku memesan mee Ipoh seharga 13.3 ringgit (sudah termasuk air mineral). Di sebelah mejaku ada pengunjung yang sedang menikmati roti prata. Kayaknya kok enak banget. Pengen nyobain, tapi perut sudah pol.

Usai makan, langsung kami menuju Vincci. Yuli fokus ke sana mencari barang incaran, sementara aku berkeliling mencari sesuatu yang menarik. Mataku tertuju pada tulisan ISetan. Super market ini memang banyak terdapat di Singapura dan Malaysia, sementara di Indonesia sepertinya belum ada (kalau nggak salah). Mungkin khawatir kurang diminati karena mereknya identik dengan nama setan, makhluk pengganggu manusia. Aku berkeliling ke bagian seafood, buah dan makanan siap saji. Wow, menarik sekali produk yang disajikan. Yang sangat khas Malaysia adalah dijualnya serundeng yang ditulis dengan serunding. Kalau di Indonesia yang lebih top ya abon.

Setelah cukup lama mengubek2 isi Vincci, kami beristirahat sejenak di sebuah cafe sambil mencari wifi. Aku memesan kopi susu, namun yang datang segelas besar kopi hitam. Susunya sedikit sekali sehingga warna kopi tidak berubah. Yuli berkomunikasi via WA dengan tetehnya perihal motif sepatu yang akan dibeli. Aku sih mempergunakan waktu yang singkat ini untuk browsing dan connect ke social media, mumpung ada sinyal. O ya selama di luar negeri kami tidak mengaktifkan nomor telepon. Ingin fokus aja dengan dunia nyata yang baru dikunjungi, bukan dengan dunia maya yang sudah akrab.

Sambil berjalan menuju pintu keluar mata kami tertahan dengan tarian air di KLCC Park. Tarian air berwarna warni ini diiringi lantunan musik menghentak dan narasi dari pembawa acara. Indah sekali liukan airnya. Bundaran HI sudah seharusnya punya agenda rutin seperti ini sehingga air mancur yang ada bisa lebih indah dan pengendara yang sedang terjebak macet sedikit terhibur.

Hanya sempat 15 menit menikmati tarian air, eh tiba2 pertunjukan berhenti. Kami menikmati suasana romantis di pinggir kolam. Pengunjung dari berbagai bangsa juga asyik dengan aktivitas masing-masing. Bahkan ada wanita bercadar yang juga bermain dengan anaknya.

Kami menyusuri halaman KLCC menuju jalan raya. Kami menyetop taksi yang lewat dan setelah menyebutkan alamat tujuan sopir menyebut angka 10 ringgit. Tanpa menawar lagi kami langsung mengiyakan. Sopir ini berkulit gelap dan berbadan tinggi besar sehingga sangat kontras dengan ukuran taksi yang mungil. Dari obrolannya sepanjang jalan lewat telepon dapat kutebak kalau dia orang India atau Tamil. Bayangkan gimana kami tidak senewen, sopir terus saja bertelepon ria sementara mobil berlari kencang. Rasanya di Jakarta aku belum menemukan sopir taksi yang mengemudi sambil bertelepon.

Kami ternyata menuju arah yang salah karena sopir salah tangkap. Rupanya ada jalan Pudu dan ada jalan Pudu Raya. Seharusnya aku menyebut Pudu Sentral sebagai alamat tujuan karena alamat ini lebih dikenal. Kalau sekadar menyebut Citin Hotel banyak hotel bernama sama di KL karena ini merupakan jaringan hotel.

Yang unik dari sopir ini, usai menelepon dia langsung mengetikkan alamat hotel kami di aplikasi Waze. Sejurus dia meletakkan smartphone bermerk Lenovo di dashboard. Suara dari Waze pun memberikan instruksi setiap kali taksi akan berbelok. Wah, canggih juga nih sopir taksi. Hanya ada di KL. Kami tiba di depan hotel dengan argo menunjukkan 9.8 ringgit. Lumayanlah sopir taksi nggak tekor karena tadi disepakati 10 ringgit. Coba kalau tadi tidak kesasar, pasti sopir taksi bisa menerima selisih ringgit lebih banyak.

Sesampai di hotel kami istirahat sejenak dan masih penasaran merasakan aura wisata kuliner di Bukit Bintang. Kami berjalan kaki ke sana, dan akhirnya cuma sampai ke Alor Street karena Bukit Bintang ternyata masih jauh. Di Alor pukul 22.00 lebih masih ramai dengan gerai kuliner, sebagian besar menjual Chinese Food. Kami sedikit khawatir dengan kehalalan makanan sehingga terus berjalan mencari gerai berlabel halal. Akhirnya ketemulah sebuah gerai yang pelayannya berkerudung. Kami memesan jus dan nasi goreng belacan satu porsi berdua karena sebenarnya kami masih kenyang. Rasanya cukup khas dan sesuai di lidah. Satu porsi nasi goreng, dua gelas es jeruk, satu kaleng Root Beer, satu botol air mineral total 15.8 ringgit. Usai santap, kami kembali ke hotel dengan jalan kaki. Lumayan juga, sekitar 700 meter.

Petaling Street
Agenda pagi dimulai pukul 08.00. Rencananya kami akan belanja oleh2 di Petaling Street. Tak lupa mengambil ringgit terlebih dulu di ATM CIMB yang ada di Pudu Sentral. Jarak hotel ke Petaling relatif dekat, sekitar 400 meter. Di depan terminal beberapa bus ngetem menunggu penumpang. Rupanya budaya Melayu sama dengan Indonesia. Bahkan ada bus bertingkat yang ngetem di sini, sepertinya jurusan Malaka.

Setiba di ujung jalan Petaling nyata kalau para pedagang belum ada yang berjualan. Beberapa blok dari Petaling ada warung India yang menjual sarapan. Semua karyawan laki2 orang India kecuali dua orang karyawan perempuan yang pakai kerudung. Sepertinya orang Indonesia. Kami memesan roti cane kari dan mie goreng mamak. Tak lupa disertai teh tarik. Total tagihan 15.2 ringgit. Setelah asyik makan baru kusadari kalau warung ini tempat para sopir dan buruh sarapan. Tak apalah yang penting bersih dan enak.

Sehabis sarapan, kami kembali mengunjungi Petaling. Kali ini sudah ada satu dua pedagang yang buka. Pernak pernik seperti gantungan kunci sudah mulai dikeluarkan dari raknya. Harga jepitan kuku bermotif Petronas dijual 15 ringgit satu set (berisi 6 unit). Bandingkan dengan barang yang sama bermotif Singapura di Lucky Plaza seharga 10$. Harga di Singapura dua kali lipat. Kaos bermotif Kuala Lumpur dijual 6 ringgit per potong. Pashmina dijual 15 ringgit per helai.

Puas berbelanja kami kembali ke hotel, mandi dan berkemas. Setelah check out pukul 11.00 kami memesan taksi menuju KL Sentral. Kali ini sopirnya seorang perempuan bersongkok dan menggunakan argo. Kami mengobrol basa basi dan dia merekomendasikan kami untuk berkunjung ke Melaka karena di sana banyak peninggalan yang layak dikunjungi dan harga makanan relatif lebih murah.

Lumayan juga jarak ke KL Sentral. Rasanya lebih jauh dari jarak Pudu Sentral-KLCC. Di depan eskalator di KL Sentral taksi pun berhenti. Tarif di argo menunjukkan 8 ringgit saja. Aku menyerahkan uang 10 ringgit dan tidak meminta kembalian. Taksi pun berlalu.

KL Sentral ini mall yang terintegrasi dengan bus, kereta LRT dan kereta ekspres ke KLIA. Tampak warung kopi ternama di dunia ada di sini, begitu juga label Victoria Secret. Jadi, bukan sembarang mall. Kami berjalan mengikuti tanda penunjuk arah dan akhirnya menurun ke basement. Di sana sudah ada bus yang menuju KLIA2.

Seketika kami tiba di halte, bus pun berangkat. Terpaksa kami menunggu bus berikutnya. Sky Bus yang kami tunggu akhirnya muncul dalam 10 menit. Langsung kami naik dan memasukkan koper ke bagasi. Setelah penumpang penuh, sopir menjual tiket seharga 8 ringgit. Berhubung aku sudah membeli secara on line bersama tiket pesawat, aku hanya menunjukkan iPad ku dan kondektur langsung melewati kami tanpa bertanya lebih lanjut. Bus pun berjalan menuju KLIA2.

Tepat satu jam bus pun tiba di KLIA2. Kami langsung menuju ke dalam dan mencari Vincci lagi. Setelah puas mencari barang yang diidamkan kami makan di Subway. Tak lama, kami antri di imigrasi sekitar 20 menit. Setelah lewat imigrasi, tidak banyak toko tersisa di dalam, tidak seperti di Changi. Belum lagi, jarak dari imigrasi ke Gate sangat jauh, lebih dari 500 meter. Kasihan kalau orang tua harus berjalan sejauh ini. Memang ada eskalator datar, tapi tidak berfungsi. Ini tentu kontras dengan kondisi di bandara Husein yang sangat mungil. Entah sampai kapan Husein bisa bertahan sebagai bandara komersial. Tak sampai setengah jam menunggu, panggilan boarding terdengar. Selamat tinggal Kuala Lumpur. Sampai jumpa di lain waktu. Masih banyak sudut kotamu yang belum aku jelajahi.

Malaysia memang sedang bangkit menjadi negara maju, mengejar Singapura, tetapi disiplinnya masih seperti bangsa kita. Mengubah mindset dan mental memang tidak mudah. Perlu upaya ekstra dari pemimpinnya, dengan teladan dan law enforcement. Begitu juga dengan negara kita.

Satu catatan unik lainnya adalah di Kuala Lumpur aku banyak menemukan wanita berkerudung tapi bajunya hanya menutupi lengan atas, bahkan jauh di atas siku. Kalau di Indonesia, model seperti ini disiasati dengan penambahan pinset atau kaus di bagian dalam. Entahlah gejala apa ini.

Agama resmi Malaysia memang Islam, tetapi agama lain boleh hidup secara bebas. Bahkan Malaysia mengizinkan berdirinya kasino di Genting Highland yang boleh dimasuki kecuali oleh penduduk pribumi beragama Islam. Di mall seperti Suria KLCC wanita Cina bercelana pendek juga bebas wara wiri, sementara wanita Melayu juga tidak selalu berkerudung. Ini menurut pemerintah Malaysia adalah cermin dari Islam Hadori atau Islam berbasiskan budaya, bukan Islam yang kaku, ketat dan menakutkan.

20140617-164107-60067030.jpg

20140617-164107-60067518.jpg

Iklan

4 tanggapan untuk “Tour de Malaysia (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s