Wisata Sejarah di Seputaran Sultanahmet Square (Liburan di Turki #5)

Wisata Sejarah di Seputaran Sultanahmet Square (Liburan di Turki #5)

Hari kedua di Istanbul ini, 29 April 2015, kami akan mengikuti City Tour Istanbul di seputar Sultanahmet Square yang difasilitasi oleh biro travel kami Travelshop Turkey. Sebelumnya kami terlebih dulu menikmati sarapan di hotel Icon yang menunya cukup vatiatif. Sebagian besar menu adalah roti dalam berbagai bentuk, buah-buahan dan keju. Tak ketinggalan telur rebus yang kulitnya berwarna putih bersih selalu setia setiap hari.

Di depan Blue Mosque, Sultanahmet, Istanbul
Di depan Blue Mosque, Sultanahmet, Istanbul

Bagi kami, pilihan yang paling logis adalah telur rebus, roti dioles butter dan selai coklat, plus jeruk sunkis dan apel. Kami takjub juga menyaksikan tamu lokal, wanita lho, yang piringnya penuh dengan segala jenis roti dalam porsi ekstra. Luar biasa kapasitas pencernaan mereka.

Usai sarapan, sekitar pukul 07.30 kami sudah disambut oleh tour guide bernama Noor Ghul beserta pak sopir dan bus berukuran sedang.

Kami tidak langsung ke Sultanahmet, tetapi harus menjemput 2 orang turis lain di Taksim Square. Agak lama menunggu akhirnya bus bertolak menuju Sultanahmet Square. Di sana sudah menunggu beberapa turis dari India yang bergabung dalam grup kami.

Ada peristiwa salah kostum di Sultanahmet ini. Dengan yakin aku hanya mengenakan kaus berkerah tanpa jaket atau sweater karena semalam di tv cuaca diprediksi akan cerah. Apalagi, keyakinan ini diperkuat oleh pernyataan seorang teman yang seminggu lalu di Turki. Katanya, Turki mulai masuk musim panas.

Awalnya sih biasa saja. Tapi setelah kami turun dari bus dan berjalan menyusuri Sultanahmet, angin dingin mulai menyerang. Puncaknya, saat Noor menjelaskan sejarah tugu Roman Hypodrome, hujan rintik-rintik mulai turun. Suhu semakin dingin, sementara bajuku sangat tipis. Angin juga berhembus dengan kencang. Benar-benar dingin yang tak tertahankan. Aku menggigil. Tanganku kuperosotkan ke dalam baju. Sementara itu, Noor seolah asyik nyerocos tak mempedulikan hujan yang semakin deras karena dia membawa payung. Akhirnya kami berlarian menuju masjid Sultanahmet atau yang dikenal dengan Blue Mosque, mesjid yang dibangun oleh Sultanahmet 1 pada tahun 1609-1616.

Sebelum masuk mesjid, kita dibekali plastik untuk menyimpan sandal atau sepatu. Selain itu, kaum hawa dibekali dengan selendang atau kain untuk menutupi kepala dan tubuh bagian bawah (bagi yang memakai celana atau rok pendek).

Di dalam mesjid ternyata sudah banyak turis yang datang duluan. Mesjid ini memang tidak terlalu besar namun desainnya sangat antik. Desain hampir seluruh mesjid di Istanbul dibuat oleh seorang arsitek bernama Mehmet Aga, murid dari Sinan seorang master pada saat itu. Karena itu tak heran kalau arsitektur mesjid-mesjid di Istanbul relatif sama. Material mesjid menggunakan bebatuan berwarna abu-abu yang seolah menempel begitu saja. Mesjid-mesjid ini tidak dicat.

Bagian dalam mesjid dibagi antara wilayah yang boleh dilalui turis dan bagian yang tidak boleh dilalui, apalagi di waktu sholat. Karpet di mesjid seantero Turki begitu lembutnya. Wajar saja, karena Turki merupakan produsen karpet ternama di dunia.

Noor yang berasal dari Izmir ini (kota terbesar ketiga di Turki) menjelaskan kepada kami beberapa simbol di interior mesjid yang berhubungan dengan rukun Islam. Noor yang berambut pirang menjelaskan bahwa Islam di Turki merupakan agama yang bersifat pribadi. Negara tidak punya otoritas untuk memaksakan syariat agama kepada warganya. Inilah inti dari sekularisme. Di ranah publik, warga Turki tidak pernah menanyakan aspek pribadi seperti pertanyaan: Agama kamu apa?

Kami berfoto sebentar di Blue Mosque. Sayang aku tidak sempat sholat di sini karena waktu sangat mepet dan kami masih punya banyak agenda. Inilah risiko ikut dengan group. Next time aku akan berlama-lama di sini.

Di pintu keluar mesjid, kita wajib mengembalikan kain yang kita pinjam tadi. Petugas juga menawarkan kupon donasi bagi jamaah yang berkenan menyumbang. Tak ada paksaan dalam donasi ini, seikhlasnya saja. Nilainya mulai dari 5 lira per kupon. Kupon donasi ini dialokasikan untuk pemeliharaan mesjid karena tidak ada tiket untuk masuk mesjid laksana masuk museum.

Tujuan berikutnya Hagia Sofia atau Aya Sofia, museum yang awalnya dibangun sebagai gereja pada abad ke-6 Masehi, kemudian menjadi mesjid pada abad ke-15 Masehi, lalu akhirnya dikonversi menjadi museum pada abad ke-20 seiring dengan runtuhnya Khilafah Turki Usmani.

Tiket masuk Ayasofia sekitar 30 lira. Terlihat antrian pengunjung mengular di depan loket. Untunglah tiket kami sudah di-cover oleh biro travel sehingga kami tak perlu mengantri. Bagi yang tidak menggunakan tour guide, disediakan juga tour guide dengan audio. Setelah membayar sekitar 10 lira dan memilih bahasa yang sesuai, kita diberikan headphone yang dihubungkan dengan wireless.

Bangunan Aya Sofia masih kokoh berdiri meski umurnya sudah lebih dari 15 abad. Memang ada beberapa ruang yang sedang direstorasi. Ornamen Kristen dan Islam bersatu. Konon dulu, saat bangunan ini menjadi mesjid, ornamen Kristen tidak dihapus atau dihilangkan, melainkan hanya ditutup dengan kain. Yang menarik, bangunan ini sejak awal memiliki kubah. Ini artinya kubah bukanlah sesuatu yang khas milik mesjid melainkan diadopsi dari gereja. Kalau kita lihat gereja2 di Rusia dan beberapa negara Eropa lain, sebagian besar gerejanya berkubah.

Yang agak unik, tulisan kaligrafi Muhammad di kubah dirangkaikan dengan kata Alaihissalam, bukan Shollallahu alaihi wasallam. Padahal biasanya, alaihissalam adalah gelar untuk para nabi selain Muhammad. Saya belum mendapatkan penjelasan atas hal ini.

Lukisan bernuansa Kristen yang menunjukkan adegan tertentu terlihat jelas di pintu gerbang bangunan ini. Prasasti keputusan gereja atau Konsili juga bisa dilihat di salah satu ruangan. Sayang, kami tidak sempat naik ke lantai dua karena pengunjung sangat penuh dan berdesakan, sementara tenaga mulai letoy. Sebagaimana di tempat wisata lain, di sini juga dijual souvenir, dari mulai pernak pernik hingga buku atau kitap (pake p, bukan b dalam bahasa Turki).

Kami beristirahat sebentar di cafe di lingkungan museum yang sangat asri. Rasanya ingin berlama-lama di sini, menikmati hangatnya sinar mentari. Di sini kita bisa menghargai betapa bernilainya sinar matahari untuk menghangatkan tubuh dari hawa dingin. Sebagaimana biasa, minuman yang paling dicari adalah jus asli sunkis tanpa es dan gula, eskrim Turki dengan penjualnya yang menghibur dan kopi sebagai penghangat.

Berpose di halaman Hagia Sofia, Istanbul, Turki
Berpose di halaman Hagia Sofia dan Istana Topkapi, Istanbul, Turki
Beberapa minggu setelah kami mengunjungi Turki ini ternyata ada desakan dari masyarakat untuk mengembalikan fungsi museum menjadi mesjid. Bahkan ada beberapa anggota parlemen Turki yang sudah menyebutnya sebagai Mesjid Sofia. Pada sebuah kesempatan, masyarakat berbobdong-bondong melakukan sholat subuh berjemaah di halaman Aya Sofia. Namun presiden Erdogan belum memberikan keputusan. Menurut hematku, biarlah museum ini tetap menjadi museum karena umat Islam dan Kristen bisa sama2 merasa memilikinya. Apalagi, dengan berfungsi sebagai museum, UNESCO bisa terus memberikan dana untuk konservasi. Selain itu, uang yang bisa terkumpul dari tiket masuk tidaklah sedikit. Pasti sangat berarti bagi ekonomi Turki. Lagipula, untuk apa ada 2 mesjid di satu kawasan. Kan sudah ada Blue Mosque yang tidak kalah megahnya. Juga mesjid2 lain di sekitar Istanbul yang jaraknya berdekatan.  


Next destination Istana Topkapi yang merupakan peninggalan dari kesultanan Turki Osmani. Jaraknya dari Aya Sofia sekitar 200 meter. Lagi-lagi antrian sudah mengular. Memang luar biasa berkah dari peninggalan Turki Usmani. Di sini banyak terdapat ruangan: ada ruangan penyimpanan senjata, ruangan koleksi jam, ruangan barang berharga, dan ruangan peninggalan para Nabi, termasuk tongkat nabi Musa dan terompah Nabi Muhamad. Ruangan yang paling panjang antriannya adalah ruangan peninggalan para Nabi. Sayang, di sini kita tidak boleh berfoto.

Kompleks istana Topkapi ini benar-benar luas dan indah. Letaknya di atas bukit yang membuat kita bisa melihat selat Bosphorus dengan segala aktivitasnya. Di istana ini juga ada taman tulip dalam ukuran kecil. Pokoknya benar-benar tak terkalahkan sebagai sebuah istana.

Di ruang koleksi jam tersaji segala bentuk jam dari abad 16 yang dibuat oleh seniman jam Perancis, Inggris dan negara Eropa lainnya. Ini menunjukkan bahwa Turki Usmani mempunyai hubungan yang baik dengan kerajaan tetangga di Eropa. Bahkan, saat perang dunia pertama, Turki Usmani dibantu oleh Jerman.

Di ruang persenjataan kita bisa melihat koleksi senjata yang digunakan oleh Turki Usmani, mulai dari pedang yang panjangnya 2 meter, baju zirah, hingga meriam.

Hampir pukul 14.00 dan kami belum makan siang. Akhirnya kami keluar dari Topkapi, meskipun belum puas betul. Banyak sudut yang belum kami jelajahi, termasuk ruangan Harem.

Menurut Noor, pasca kejatuhan Turki Usmani, keturunan sultan lari ke Amerika Serikat. Mereka tidak lagi memiliki warga negara Turki. Karena itu, jika mereka ingin mengunjungi istana moyangnya ini, mereka juga harus membeli tiket seperti turis lain. Idih, kasihan ya….

Kami makan di sebuah restoran Turki yang direkomendasi oleh Noor yang terletak di sebuah persimpangan jalan. Aku memesan udang saos tomat dan membayangkan seperti udang di Indonesia. Ternyata udangnya kecil-kecil dan rasanya tawar. Harganya lumayan mahal, sekitar 25 lira per porsi. Yang lain memesan ikan dan ayam. Rata-rata kecewa dengan rasanya.

Usai makan kami berjalan kaki menuju Grand Bazaar, pasar tradisional yang telah berumur ratusan tahun. Sepanjang jalan trem berseliweran hampir 5 menit sekali. Trem ini sangat modern dan suaranya relatif pelan sehingga tidak menimbulkan polusi. Jalan yang dilewati trem masih bisa dilewati mobil. Ongkos naik trem ini jauh dekat 4 lira. Trem ini berkonstruksi rendah sehingga rodanya tidak kelihatan dari luar, berbeda dengan KRL yang biasa lewat di Jakarta atau MRT Singapore.

Setiba di Grand Bazaar kami sholat dulu di mesjid Nurosmaniya yang terletak persis di samping. Di halaman mesjid banyak juga turis yang duduk-duduk. Kebetulan ada toilet umum di sini yang bertarif 1 lira. Toilet pria tertulis Bay, toilet wanita tertulis Bayan.

Di halaman mesjid ini juga biasanya ada anjing berkeliaran. Uniknya di kupingnya ada semacam alat yang dipasang. Mungkin sebagai alat pelacak lokasi.

Di Grand Bazaar ini dijual segala macam oleh-oleh, mulai dari makanan seperti Turkish Delight, kaos, keramik, dsb. Biasanya jamaah umroh asal Indonesia belanja di sini. Karena itu, tak heran jika pedagang di sini bisa berbahasa Indonesia. “Ayo ke sini. Murah murah”, demikian panggilan para pedagang. Konon mereka sangat senang dengan orang Indonesia karena royal berbelanja. Kami sempat bertemu dengan jamaah Percikan Iman dari Bandung. Senang juga bisa ketemu orang sekampung di negeri orang. Kami sempat berfoto-foto di daerah pertokoan di luar Grand Bazaar yang ternyata tempatnya sangat asri dan dipenuhi oleh brand-brand internasional ternama.

Pulangnya, kami memesan taksi ke hotel karena bus dari travel sudah kami persilakan pulang duluan.  

Iklan

2 tanggapan untuk “Wisata Sejarah di Seputaran Sultanahmet Square (Liburan di Turki #5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s