The Journey #3: Amsterdam

Kami berangkat ke Amsterdam dari Frankfurt juga dengan maskapai Lufthansa. Dengan pesawat terusan yang dipesan oleh travel biro, ongkos Frankfurt-Amsterdam cuma 50 US$ per orang.

Padahal, kalau ngecer, bahkan dengan kereta api sekalipun, akan jadi lebih mahal. Kecuali, kalau uang bukan masalah dan kita memang ingin menikmati sensasi kereta api cepat seperti TGV buatan Perancis atau ICE buatan Jerman.

Di perjalanan yang cuma satu jam lebih sedikit kami cuma disuguhi sandwich, karena pilihannya hanya dua: cheese or ham. Terpaksalah aku pilih cheese. Rotinya keras sekali. Hampir lepas gigiku dibuatnya.

Setiba di Amsterdam, kami langsung mencari informasi hotel lewat telepon gratis yang disediakan di teras bandara. Setelah mengecek harga di beberapa hotel, akhirnya kami putuskan untuk menginap di hotel Ibis Schippol yang berjarak 15 menit dari bandara jika ditempuh dengan bus.

Dengan tarif sekitar 200 gulden per malam, hotel berbintang dua ini cukup nyaman. Dari kamar, kita bisa menyaksikan proses take-off dan landing-nya pesawat.

Setelah beristirahat sebentar kami kembali ke bandara menuju pusat kota Amsterdam dengan kereta api. Kereta api di Belanda sama nyamannya dengan kereta di Jerman. Perjalanan ke pusat kota Amsterdam sekitar setengah jam.

Suasana stasiun Amsterdam cukup menyeramkan karena banyak orang nongkrong di lorong-lorong. Apalagi menurut isu mereka suka menyuntikkan virus HIV ke orang asing.

Di luar stasiun sudah menunggu taksi mewah: BMW, Mercy. Tapi kami memilih berjalan kaki untuk lebih mendekatkan diri dengan setiap jengkal kota ini.

Di mana-mana terlihat banyak orang bersepeda. Bahkan tempat parkir sepedanya sampai lima lantai. Wow keren banget….

Karena lapar kami mencari restoran. Untuk menjamin kehalalan kami memilih di sebuah restoran Arab yang ternyata pemiliknya orang Irak. Makanannya cukup enak dan paling enak sepanjang perjalanan kami.

Udangnya gurih sekali dan mirip dengan udang yang kita makan di Indonesia. Jangan-jangan udang ini diimpor dari Indonesia.

Sambalnya juga tidak terlalu pedas. Pas untuk orang kita.

Harganya cukup murah dibanding di Jerman. Satu porsi udang cuma 20 gulden. Sambil menunggu makanan tersaji kami berfoto sejenak.

Selesai makan kami berkeliling lagi, melewati museum Madame Tussaud, museum patung lilin terkenal. Karena antriannya cukup panjang dan tarifnya cukup mahal (alasan kedua kayaknya lebih masuk akal), kami tidak jadi masuk.

amsterdam-kanal.jpg

Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti canal tour dengan perahu. Nakhoda perahu kami tampak sangat lihai. Di aliran kanal yang sangat sempit dia bisa bermanuver tanpa tersenggol sedikitpun dengan bantaran kanal.

Perahu dilengkapi dengan kaset yang diputar plus perangkat pengeras suara untuk menjelaskan kepada penumpang gedung-gedung yang dilewat perahu. Kami sempat melewati sebuah gedung yang rupanya markas klub Ajax Amsterdam.

Kalau pernah melihat film China White, Anda pasti bisa membayangkan suasananya. Ruko, jembatan, kanal, perahu, jalan kecil dan sepeda di atasnya, merupakan suasana khas Amsterdam yang tidak ditemukan di tempat lain.

Di sepanjang kanal banyak orang bersepeda santai. Puncaknya, tukang perahu membawa kami berlayar menuju muara.

Di sana ada kapal layar besar sisa kejayaan VOC. Kalau dipikir-pikir, malu rasanya menyadari kita pernah dijajah oleh negara sekecil Belanda. Tapi kalau tidak dijajah, barangkali tak pernah ada Indonesia.

Sayang sekali (atau alhamdulillah?) kami tidak sempat merasakan degup kehidupan malam di kawasan Lampu Merah yang terkenal dengan Casa Roso-nya. Juga, kami tak sempat mampir ke museum sex, tak sempat bersepeda mengelilingi kota, dan tak sempat menyaksikan mekarnya bunga tulip, Taman Mini Belanda Indah, kincir angin, pabrik kerju, dan Valendam. Di kesempatan lain aku pasti akan ke sana.

Bandara Schippol

Bandara Schippol tempat yang sangat menyenangkan untuk berbelanja karena harga di outletnya cukup kompetitif dan stoknya cukup lengkap. Kalau mau beli majalah porno di sini, seperti toko buku di kota lain di Eropa, kita dapat memperolehnya dengan bebas.

Di bandara ini sistem transportasinya juga terintegrasi antara bus, kereta api dan pesawat udara. Dari sini kita bisa ke kota mana saja di Belanda maupun kota-kota di Eropa.

Di bandara ini banyak dijumpai orang Indonesia. Bahkan, restoran Indonesia juga banyak ditemukan di sana. Konon, banyak hombreng asal Indonesia yang berseliwean di bandara ini. Belanda memang terkenal sebagai tempat bermukim imigran asal Indonesia, terutama sisa RMS.

Saat check in, kami sedikit surprise menyadari petugas bandara menyapa kami dengan bahasa Indonesia,

“Apa kabar? Senang di sini?”.

Rupanya banyak orang Belanda yang masih bisa berbahasa Indonesia. Bahkan di Universitas Leiden ada kajian bahasa Jawa. Dalam bawah sadar orang Belanda, Indonesia barangkali masih dianggap sebagai anak jajahan.

Bandara Schipol cukup unik karena dilengkapi dengan kursi khusus untuk penumpang yang ingin tidur. Kalau kita mau menghemat biaya hotel, kita bisa tidur di sini dengan aman.

Selain itu, telepon umum di bandara ini bisa interlokal dengan koin. Bandara ini juga salah satu yang dilayani oleh Garuda yang saat itu menjadi maskapai yang paling tepat waktu.

Ketika mendarat di sini kami bertemu Ibu Pia Alisyahbana, bos Femina Grup. Mungkin dia sedang mencari teman lamanya yang misterius seperti yang diutarakannya pada acara Solusi ANTEVE. (Hery Azwan, Jakarta,

2001).

Iklan

3 tanggapan untuk “The Journey #3: Amsterdam

  1. Pesan dimana travel biro apa tuh bisa 50 USD? Wah bagi-bagi info donk.
    Kebetulan aku n temen2 akan ke amsterdam. Berhubung tiket Jakarta-Amsterdam yang ekonomi SOLD OUT, kami ngambil rute jakarta-Frankfurt. Kalo ada yang terusan. Wah mau bangeeettt.
    Thanks.
    lu_pus22@yahoo.com

    Wah ini udah jadul banget. Tahun 2001. Dulu pesannya di sebuah travel biro di daerah Fatmawati.

  2. Ping-balik: PLBK « Hery Azwan
  3. Hehehe di Ibis Schiphol ya….
    Aku di Ibis Centraal Stationnya. Biar bisa deket kalo mau jalan-jalan.
    Ibis murah dan bersih. Aku suka pakai Ibis dimana-mana.

    Untung (apa rugi) ngga ke kawasan red light ya….
    Aku sih biar kepengen pergi juga ngga bisa. Soalnya with my parents.
    Bisa pingsan mereka kalau aku bilang “Hi Mom, Dad, I wanna go there hihihi :)”

    Aku juga dari Munchen ke Ams, sempat bingung waktu mau beli karcis ke centraal station. Yang keluar di bibir bahasa Jerman dan bahasa Jepang, padahal dalam otak bahasa Belanda… akhirnya terakhir keluar bahasa Indo deh … “Lima a.u.b!!” hihihi

    Wah, ternyata kita disatukan oleh Ibis. Sebuah kebetulan…

    Red light? Wah nggak tahu kalau ada kesempatan lagi mau ke sana apa nggak…

    Wah, Ime-chan ternyata bisa bahasa Jerman, dan Belanda. Inggris dan Jepang sudah tentu. Ccckkk….Luar biasa…Nggak bakal nyasar deh kalau ke Eropa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s