Save the Best for Last

I don’t wanna talk about the famous song several years ago, Save the Best for Last, which was performed by Vanessa William. What I’d like to tell is the habit of some of us while eating the best part of food for the last. Do you get the point?

Dulu, saat makan telur, saya selalu menghabiskan putihnya lebih dulu. Kuningnya, yang saya anggap paling enak, saya eman-eman. Kalau semua makanan dan lauk lainnya sudah habis, barulah kuning itu saya makan dengan khusyuknya.

Saya pikir hanya saya yang melakukan ini. Ternyata istri saya juga melakukan hal yang sama. Kalau makan baso, dia selalu memakan mi, bihun atau kuahnya duluan. Setelah semuanya habis, barulah basonya yang dinikmati dengan fokus dan antusias.

Waktu kemarin tanggal 12 Februari 2008, Rafik dan Putri Suhendro membahas hal ini di i-radio, baru saya mengerti bahwa ternyata memang banyak orang yang melakukan seperti yang saya lakukan. Saat makan soto, Rafik selalu mengakhirkan ayam atau daging. Yang sebelnya, waktu tinggal dagingnya saja, datanglah temannya.

“Fik, elo kagak doyan dagingnya, ya? Sini gue habisin. Terbayang gondoknya Rafik. Makanan yang dieman-eman kok malah mau diminta. Kalau mau minta mah dari tadi waktu masih banyak mi dan sayuran.

Seorang psikolog mengirim sms menanggapi topik ini. Menurutnya, pola makan save the best for last merupakan cermin kepribadian pelakunya yang “prihatin”. Mungkin mereka terpengaruh pepatah, “Bersakit-sakit dahulu. Bersenang-senang kemudian”. Kepribadian ini sangat menunjang kesuksesan seseorang. Mereka rela menunda kesenangan untuk tujuan jangka panjang.

Tanggapan psikolog ini jadi mengingatkan saya pada percobaan marshmellow yang dilakukan Daniel Goleman. Saat itu, setiap anak diberi sebuah marshmellow. Bagi anak yang dapat menunda kenikmatan, tidak memakan marshmellow saat itu juga, berhak mendapatkan dua marshmellow.

Dari penelitian ini, anak yang sanggup menahan dirinya untuk tidak memakan marshmellow saat itu juga, ternyata kemudian menjadi anak yang sukses dalam hidupnya. Penelitian ini selanjutnya menjadi basis bagi Daniel Goleman untuk membuat buku Emotional Intelligence.

Yang lucunya, saat ini pola makan saya tidak lagi seperti waktu kecil. Saat makan telur, saya mengkombinasikan putih dan kuningnya secara proporsional. Wah, jangan-jangan kecerdasan emosi saya sudah menurun. Barangkali ada psikolog atau pakar EQ yang bisa menjawab. (Hery Azwan, 13/2/2008)

Iklan

3 tanggapan untuk “Save the Best for Last

  1. Sekarang kebanyakan orang, mau menghabiskan yang paling enak duluan. Yang kurang enak ditinggalkan. Saya tidak tau apakah perilaku seperti itu erat kaitannya dengan pola hidup konsumerisme.
    Mungkin juga ada penjelasan psikologis untuk ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s