Produktivitas dan Kreativitas

Kalau saya amati, masa keemasan pencipta lagu jarang yang melebihi umur 40. Setelah lewat usia 40 rasa-rasanya seorang pencipta lagu sudah tidak produktif lagi.

Menciptakan sebuah lagu merupakan sebuah proses kreatif yang membutuhkan stimulus tertentu. Meskipun, hal ini sering mendapat tantangan. “Jangan tunggu mood. Kitalah yang menjemput mood tersebut”.

Di masa jayanya, dalam setahun Obbie Messakh bisa meluncurkan album beberapa penyanyi sekaligus seperti Ria Angelina, Heydi Diana, Betharia Sonata, dsb. Begitu juga denga Rinto Harahap yang mempopulerkan Iis Sugianto, Christine Panjaitan, Betharia Sonata, Nia Daniati, dkk. Tak lupa Pance Pondaag dengan Dian Piesesha.

Generasi berikutnya ada Katon, baik tampil dengan Kla Project maupun tampil solo. Setelah beberapa album yang sukses, seperti “Yogyakarta”, tampak sekali bahwa di album-album terakhir, lagu-lagu Kla Project kurang bisa dinikmati lagi.

Fariz RM yang pernah kondang dengan Barcelona dan Sakura serta duet maut dengan Neno Warisman pada lagu “Sungguh”, juga kehilangan kreativitasnya setelah mengeluarkan beberapa album. Album di akhir kejayaannya juga kurang sukses.

Saat ini, pencipta lagu yang masih bertengger di papan atas adalah Dhanni Ahmad, Yovie, Melly dan Dewiq. Entah sampai kapan mereka bisa bertahan. Yovie masih bisa memperpanjang napas kreativitasnya dengan Nuno. Sementara Dhanni masih bisa berkreasi dengan The Rock dan Mulan Jameela, meskipun Dewa tidak vakum sama sekali. Melly tampaknya masih berada di atas angin, apalagi setelah sukses Ayat-Ayat Cinta. Dewiq tampaknya masih berkibar.

Di bawahnya ada Eros Sheila on 7 yang mulai sedikit tenggelam. Kemudian ada Irfan Samson yang tampaknya sudah habis-habisan di album pertama mereka sehingga album kedua kurang greget. Dan masih banyak pencipta lagu dari band-band baru yang terus menyemarakkan dunia musik Indonesia.

Mari kita saksikan, apakah Dhanni dan Yovie bisa tetap kreatif setelah melampaui usia kramat 40. Sebelumnya, Katon yang sudah lewat 40 tampaknya sudah kehilangan sentuhan magisnya dalam mencipta lagu.

Saya jadi penasaran apakah usia yang menyebabkan hilangnya kreativitas atau kemapanan? Mengapa usia? Suasana romantika masa muda yang penuh dengan idealisme barangkali membuat orang lebih kreatif. Sebaliknya, semakin tua, pencipta lagu barangkali lebih disibukkan oleh keluarga dan anak-anaknya yang mulai remaja. Halah ngarang…

Mengapa kemapanan? Dulu, di waktu awal karir yang sulit (rumah aja masih ngontrak) mereka berusaha mencipta lagu untuk membuktikan eksistensi mereka, sekaligus untuk menghidupkan api periuk nasi. Sekarang setelah top, tidak ada lagi yang harus mereka buktikan. Semua sudah mereka miliki: ketenaran dan uang. Jadi, tak ada lagi yang menantang dan meningkatkan adrenalin…

Lihat saja Iwan Fals sekarang. Dia hanya menyanyikan lagu orang lain. Mana lagu seperti “Bento” dan “Bongkar” serta kritik sosial lainnya. Ah, Iwan memang sudah menua…Tapi suaranya tambah berat lho…

Iklan

10 tanggapan untuk “Produktivitas dan Kreativitas

  1. jeli juga pak hery memperhatikan para musisi tanah air. tapi apa yg bapak blg itu ada benarnya. trus gmn menurut bpk ttg eyang titiek puspa? 😀

    Eyang Titiek memang masih mencipta lagu setelah 40 tahun. contohnya lagu “Apanya Dong” yang dipopulerkan Euis Darliah. Tapi sebagian besar lagunya seperti Kupu-Kupu Malam, Bing, Pantang Mundur, diciptakan saat umurnya belum 40. Benar nggak, Mas Bens Leo? Halah, sok kenal dengan Mas Bens…

  2. kok beda dengan penulis, ya mas azwan. banyak juga penulis yang justru kreatif dan produktif ketika usianya di atas kepala 4. budi darma, alm. pram, atau ahmad tohari –utk menyebut beberapa nama– justru karya2 kretaifnya lahir ketika mereka berada di atas usia 40!

    tampaknya untuk penulis agak beda.
    life cycle-nya lebih panjang.
    satu lagi yang cukup produktif adalah remy silado.
    novel2nya yang terkenal dan laris ditulis setelah umur 40.
    mungkin menarik juga bagi pakar kreativitas untuk meneliti perbedaan ini; produktivitas penulis dan produktivitas komposer.

  3. ya abang ini selain piawai bikin resensi kuliner. juga jeli ngamatin musik…

    musisi Pada saat 40 mungkin referensi nada yang ada dalam kepala udah habis tertumpah di lagu-lagunya. jadi kalo ngarang lagu jatuhnya kayak gitu lagi-kayak gitu lagi….

    nyambung pak sawali … penulis sepertinya malah bisa bertahan lama…. mungkin ini sejalan dengan lebih kayanya pengalaman batin

    benar bos. kalau dipaksain mencipta lagu setelah 40 rasanya kualitasnya jalan di tempat.
    kalau penulis, semakin tua, semakin kaya pengalaman hidup.
    apalagi jika sang penulis terus membaca banyak literatur dan mengunjungi tempat baru serta merasakan pengalaman baru.
    pasti akan lebih banyak bahan untuk ditulis.

  4. Nah..
    aku bukan pemusik
    aku bukan penulis
    aku bukan siapa-siapa
    dan sudah 40 th
    masih bisa produktif dan kreatif ngga ya?
    yang pasti…
    ngga mau produktif bikin anak
    ngga mau juga kreatif jadi provokator demo hihii

    Ime-chan udah 40 ya?
    don’t worry.
    kan bukan penulis dan pencipta lagu.
    pasti masih terus kreatif lah…
    arigato

  5. Pencipta-pencipta yang Lae persoalkan itu adalah pencipta musik populer. Dan musik populer era kaitannya dengan pasar. Nah, setelah si pencipta berusia di atas 40 tahun,biasanya dia sudah kehilangan “taste”-nya terhadap pasar yang sedang berlaku. Sementara itu, sudah menunggu pencipta-pencipta yang lebih muda, dan yang lebih tajam “taste”-nya terhadap pasar yang sedang berlaku.

    Dalam kasus musik yang serius juga sama saja. Jarang ada pencipta yang bisa bernafas panjang. Tapi kasusnya agak berbeda sedikit. Di negeri ini musik serius memang tak pernah menjanjikan kehidupan yang layak. Ketika usianya masih muda dan tanggungannya belum banyak, seseorang mungkin masih bisa bertahan menjalani profesinya sebagai pencipta musik serius. Tapi ketika usianya semakin bertambah (dan dia harus menyekolahkan anak, membayar kredit rumah, membayar kredit mobil dsb) maka terpaksalah dia harus meninggalkan dunia musik serius itu dan mencari profesi lain yang lebih menjanjikan (pedagang, politisi, ulama dsb).

    Tapi persoalan “pendek nafas” dalam berkreasi ini sebenarnya bukan saja dialami oleh pencipta musik, tapi juga oleh pencipta di ainnya. Penyebabnya sama saja seperti yang saya uraikan di atas.

    Dan karena itu jugalah sastra Indonesia juga sering dikatakan orang sebagai “sastra remaja”. Dia hanya dipenuhi oleh karya-karya pencipta yang berusia muda, dan karenanya juga persoalan dan tema yang digumuli adalah persoalan dan tema orang-orang muda.

    Di negeri ini memang sukar bagi orang untuk bisa hidup layak (tak perlu hidup mewah) dari menekuni profesi yang disenanginya secara sungguh-sungguh, baik dan jujur. Karena itu kita tak perlu heran kalau di segala bidang pekerjaan kita menemukan banyak sekali orang yang melacurkan diri 🙂

    Terima kasih kunjungannya, Tulang.
    Jarang-jarang ngasih komen nih.
    Dahsyat benar komennya.
    Mudah2an kita tidak termasuk dalam jajaran yang melacurkan diri 🙂

  6. Kayaknya kita perlu bikin “teori” baru:
    usia 0-20 : mempelajari
    usia 20-30 : mencari
    usia 30-40 : berkreasi
    usia 40-… : menikmati

    wah, boleh juga tuh teorinya…

  7. Pengamat musisi juga tho?
    (heran, orang kok talenta-nya seabrek.. hehe.. *muji2 supaya dikasih jajan.. 😀 )

    Sama seperti OM NH, mungkin juga karena nada tuh jatuh-jatuhnya Do ke Do lagi…

    Untung saya ini sukanya nulis cerita, bukan nulis lagu… *hehe, ga ada hubungannya ya Pak…*

    “Nih uang jajannya,” sambil merogoh kantung dan ngasiin ke jeunglala yang udah muji :-).
    Iya kali. Nada kan memang cuma 7, jadi alternatifnya lebih sedikit dibanding abjad yang ada 26.

  8. Mau berkarya sebenarnya jangan pandang usia.Selagi kita masih mampu n ada niatan,di lanjut aja.Aku setuju dengan kata bang Aswan bahwa,untuk bikin lagu jangan nunggu mood,tapi menjemput mood.Kira2 ada nggak ya generasi penerusnya tante Titik Puspa yg msh eksis nulis lagu yg bisa menggebrak dengan usianya yang di atas 40 ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s