Antara Motor dan Tawon

Motor menjadi salah satu pilihan yang paling realistis bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Perilaku pengendara motor yang bergerombol di perempatan seperti tawon yang akan menyengat korbannya sering membuat ciut pengendara mobil.

Setelah BBM naik, menurut polisi DLLAJ, banyak pengendara mobil yang beralih ke motor demi efisiensi. Namun, akibatnya potensi kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat. Selama ini, kecelakaan yang menimpa pengendara motor memang jauh lebih tinggi daripada pengendara mobil.

Sejauh pengamatan saya di jalan, saat pergi ke dan pulang dari kantor, ada saja kecelakaan yang menimpa pengendara motor. Kalau spion mobil disenggol mereka sih tidak bisa dihitung lagi. Saya biasanya pasrah saja. Mau ditegur juga akan menghabiskan energi dan akan merusak suasana hati saya.

Tadi pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya menyaksikan seorang pengendara motor terpelanting dari motornya. Dia menghindari gerobak pemulung yang menyeberang tiba-tiba. Untunglah mobil di belakangnya masih bisa mengantisipasi sehingga pengendara motor tersebut tidak mengalami musibah yang lebih fatal.

Sebelum kejadian ini, sudah tak terhitung lagi kecelakaan motor yang saya lihat. Lama-lama saya kebal dengan kejadian seperti ini. Saya tidak lagi menganggapnya sebagai kejadian luar biasa, sehingga biasanya saya tidak terlalu hirau.

Kepada pengendara motor diharapkan lebih hati-hati. Tetap konsentrasi. Jangan coba-coba menerima telepon atau bahkan mengirim sms. Jangan menerobos trotoar karena pejalan kaki  juga harus dihormati.

“Hati hati lah kau pakek kereta”, kata amang kepada Si Ucok.

Iklan

6 tanggapan untuk “Antara Motor dan Tawon

  1. kehati-hatian dan kewaspadaan tetap diperlukan. meski demikian, toh kecelakaan masih sulit juga dihindarkan, apalagi yang ceroboh. pascakenaikan bbm, saya membayangkan di jalan kota dan kampung akan banyak antrean kendaraan bermotor. kecelakaan pun menjadi amat rawan. dibutuhkan kehati2an, bahkan mesti ekstrawaspada.

    waspadalah….kata bang napi.

  2. Naik sepeda motor masih terima telepon atau kirim sms?
    Keterlaluan mah itu.
    Kalau di sini sudah pasti ditangkap.
    Tapi susah juga ya pasti penjara kepenuhan kalau semua pelanggar ditangkap hehehe.

    Wah, polisi bisa bingung cari uang buat ngasih makan di penjara tuh…

  3. ya begitulah…
    masih mending nelpon …
    ini kadang ditambah sambil ngeroko juga lho…

    aaarrrggghhh apa enaknya sih ngrokok sambil naek motor…cari penyakit ajah ….

    hai bang… hai em …
    sori banget nih … blum sempet full speed.
    ini aja pake HP lho komennya …

    masih sibuk ya bos?
    mudah2an cepat selesai trainingnya…
    salam sukses luar biasa….

  4. dulu, pas masih tiap hari naik motor… seru juga.. salip kanan kiri… nyelip sana sini… serasa jagoan… 🙂
    eh..
    sekarang…
    begitu tiap hari antar-jemput kakak dan kemana-mana naik mobil, ngeri juga ngeliat kelakuan pengendara sepeda motor…
    Bener banget.. kayak tawon yang ngerubung gitu, Pak…

    Jadi ngerasa piye gitu Pak.
    Saya kan dulu juga begitu… 😦

    memang sih kita suka subjektif.
    waktu kita masih naik motor, kita menganggap kitalah yang paling benar.
    pejalan kaki dan pengendara mobil selalu salah.
    saat kita sudah naik mobil, maka pengendara motorlah yang salah,
    kita selalu benar.
    namanya juga manusia, maunya menang sendiri.
    tul nggak?

  5. Dulu saya naik angkot..sekarang juga naik angkot..terkadang naik motor juga sih..(itu juga punya kantor..hahaha…)

    Pada dasarnya “disiplin” memang kurang di negeri tercinta ini..mulai dari disiplin waktu, sampah, merokok, berkendaraan, etc.

    Sebenarnya bukan hanya motor yg tidak disiplin..tapi mobil juga..(bukaan mau membela neh)..””contohnya : kenapa motor sering jalan zig-zag? jawabnya karena mobil selalu ada di kanan padahal kecepatannya tidak tinggi atau bahkan sangat pelan sehingga motor harus memotongnya dari sebelah kiri””” atau contoh lainnya.

    Kecelakaan motor juga terjadi karena disiplin pengendara motor yang sangat rendah (tuh kan..bukan cuma pro sama motor.hehehe..) Perilaku ini terjadi karena “motor lebih kecil dari mobil” sehingga pengendara motor “membenarkan” (padahal salah tuh..) cara mereka memotong atau menyelip di pinggir atau bahu jalan bahkan trotoar tempat pejalan kaki.

    Kesadaran ini yang harus kita tularkan ke teman2 pengendara motor..syukur saya bisa berdisiplin..tidak memotong dari kiri..selalu mennggunakan lampu tanda untuk berbelok kiri atau kanan..berhenti jika mobil di depan berhenti (tidak potong secara mendadak ke kanan atau kiri)..bahkan maksimal kecepatan 60 di dalam kota.

    Pihak polisi juga harus mendukung..mengeluarkan SIM kepada orang2 yg memang layak dan telah DIUJI BERKENDARAANNYA..bukan asal “DUIT AJA!!!”

    gimana om azwan?

    Benar. Proses memperoleh SIM harus benar2 diperhatikan.
    Calonya sih memang sudah tidak ada yang berkeliaran, tapi ternyata sistem “tembak” masih tetap berjalan.
    Bagi orang yang pernah ngurus SIM pasti sama-sama tahulah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s