Kreativitas pada Kegiatan Keagamaan

Waktu menghadiri workshop di Jakarta Design Center kemarin saya menemukan keunikan pada kran tempat wuduk (membersihkan diri sebelum sembahyang) di musholla yang ada di basement. Di tempat lain, biasanya kran tempat wuduk hanya satu.

Di sini rupanya ada dua kran. Kran pertama terletak di atas, mirip wastafel. Kran ini berfungsi untuk membasuh muka, tangan, kepala dan telinga. Pokoknya, tubuh bagian atas. Kran kedua terletak di bawah, khusus untuk membasuh kaki.

Kreativitas ini barangkali timbul dari kurang nyamannya kegiatan berwuduk selama ini. Selama ini, dengan satu kran, jamaah sering membungkuk terlalu kebawah dalam waktu cukup lama, sehingga dikhawatirkan akan membuat lelah tulang punggung. Di lain pihak, ada juga orang yang memaksakan kaki naik ke wastafel.

Jalaludin Rachmat pernah menceritakan hal ini dalam sebuah pengajian. Universitas di Amerika sering komplain dengan kebiasaan sebagian mahasiswa muslim yang menaikkan kaki ke atas wastafel saat berwuduk. Di samping kelihatan tidak sopan, kamar mandi juga sering basah karena air mengalir kemana-mana.

Menurut Kang Jalal, secara syariat sebenarnya membasuh kaki tidak perlu dengan mengangkat kaki dan tidak perlu dengan air yang melimpah. Cukup air diambil dari wastafel dengan tangan dan dibasuhkan ke kaki yang tetap berpijak tanah. Hanya saja, terkadang jamaah tidak puas atau mantap dengan air yang volumenya sudah berkurang karena banyak yang tumpah di perjalanan.

Kreativitas lain dalam kegiatan keagamaan saya lihat di mesjid Sunda Kelapa. Setelah selesai sholat, dua layar di kiri kanan imam menyala. Di layar tertulis bacaan zikir setelah sholat, dengan tulisan Arab dan artinya. Mungkin ini dimaksudkan untuk mamandu jamaah yang belum hafal bacaan tersebut.

Baru sekali ini saya melihat di mesjid ada layar dan proyektor seperti ini dalam ibadah sholat. Di mesjid Istiqlal sekalipun saya belum pernah menemukannya.

Kreativitas dalam kegiatan keagamaan ini tentu saja akan membuat beribadah jadi lebih nyaman. Apalagi, sebagian mesjid sudah dilengkapi dengan AC, kecuali Istiqlal yang ventilasinya memang sangat baik. F Silaban telah merancang mesjid ini dengan begitu cermatnya sehingga aliran udara Jakarta yang panas, bisa berubah menyejukkan ketika masuk ke Istiqlal. Tentu saja, kalau jamaah lagi membludak, seperti pada sholat Jumat, udara juga mulasi sedikit memanas.

Masalah lain yang memunculkan kreativitas adalah masalah bunyinya HP saat sholat berlangung. Untuk menghindari hal ini, beberapa mesjid telah menyiapkan alat khusus untuk mengacak sinyal. Akibatnya, HP tidak dapat melakukan panggilan atau dipanggil saat penggunanya berada di dalam kompleks mesjid.

Pengurus mesjid barangkali sudah mengamati bahwa selama ini himbauan untuk mematikan HP saat masuk ke mesjid sering diabaikan oleh jamaah. Tidak jarang, saat Imam membacakan ayat-ayat suci, eh… tiba-tiba ada HP berbunyi. Udah gitu, lagunya “Kelakuan si Kucing Garong…”.

Demikianlah, seiring dengan kemajuan teknologi, selalu saja ditemukan modus baru yang membuat kegiatan keagamaan lebih nyaman dan tertib. Asalkan masih sesuai dengan prinsip dasar keagamaan dan tidak melanggar kaedah-kaedah umum, kreativitas mesti terus dipelihara dan dikembangkan.

Iklan

8 tanggapan untuk “Kreativitas pada Kegiatan Keagamaan

  1. HHmmm …
    Menarik-menarik …

    Aku juga punya pengalaman mengenai HP berdering saat sholat Jum’at …
    Dan itu mengganggu sangat …

    Dan celakanya bunyi itu mulai menyalak justru ketika mulai ruku’ rakaat pertama …
    aarrrgghhh apa disengaja ya ???

    Hehehe
    Thanks Bang

    Kayaknya nggak disengaja, Mr Juhachi.
    Tapi kelupaan matiin…

  2. hihihi…
    sama tuh HP suka jadi masalah di gereja.
    Udah gitu kadang orang yang punya ngga sadar bahwa HPnya yang berbunyi.
    Kalau saya sih setiap saat di setel vibrator. Paling di rumah aja tanpa vib.
    Kalau kelupaan dilepas vibnya di rumah, sering ada telpon masuk ngga sadar.
    Bagus juga ya kalau ada alat pengacak sinyal itu. Nanti mau usul deh hihihi

    Memang kelemahan kalau pake vibrator, setelah nyampe rumah lupa mengaktifkan.
    Kalau panggilannya dari orang penting (suami/istri) dan tidak dijawab kan bisa pecah perang dunia.
    Jadi, pake pengacak sinyal memang lebih ok.
    Bagus sekali kalau bisa dipakai di gereja Ime-chan.
    Idenya nggak perlu dibayar royaltinya kok…
    hi hi……….

  3. Pasti bete banget tuh kalau lagi khusuk2nya doa, eh ada bunyi dering telepon. Jadi pelacak sinyal itu emang oookeeehh banget ^_^

    Mm. Saya suka juga sama tempat wudhu itu, Bang. Itu akan memudahkan kaum perempuan seperti saya ini supaya nggak angkat kaki tinggi-tinggi saat membasuh kaki *haha, ini hiperbolis Bang…* Tapi, again, that’s a great idea!

    Eh, Bang, Bang..
    Saya udah pernah muji Abang belum ya, kalau gaya tulisan Abang bikin saya seperti sedang membaca artikel sebuah majalah??? Ah, salut sekali saya sama Abang, nih…

    *sambil ngelirik ke atas… Si Om dan EmiChan juga bagus… you have your very own style… cup cup muach muach Guys… *
    *eh, si Om melayang… hahaha*

    Ati2 La, entar si Om benar2 melayang tuh…
    Hi hi hi,………

  4. Saya pernah liat pengumuman (iklan) di masjid Agung Bogor isinya kreatip juga, kira2 begini: “Mohon handphone-nya dimatikan ketika memasuki masjid, terutama bagi yang menggunakan SIMPATI karena sinyalnya ada di mana-mana”

    Wah, bisaan tuh simpati menguasai market share…

  5. Jangankan HP yg ringtone-nya musik yg makin macem-macem. Pernah waktu sholat jumat ada HP yg cuma pakai ‘nada’ getar saja sudah mengganggu kekhusukan jamaah sebelahnya, karena bunyi “dut dut dut” -nya itu lumayan keras juga …

    Nada getar juga jangan disepelekan. Kalau lama, getarannya bisa membuat si empunya kelojotan.
    Asyik….asyik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s