Dituduh Merokok

Sampai kini saya belum bisa mendapatkan rahasia kenikmatan merokok sehingga saya berpotensi dikejar anjing (kalau perokok biasanya kan nggak kuat lari, jadi anjing nggak akan mengejar…he he…). Sebenarnya pernah juga saya beberapa kali mencoba merasakan sensasi merokok, tetapi selalu gagal.

Waktu saya masih sekitar kelas 1-2 SD, ayah saya yang perokok berat sering menyuruh saya membuang puntung rokok miliknya ke luar rumah. Entah kenapa ayah tidak membuang ke asbak yang ada di atas meja. Sudah penuh barangkali.

Setelah berkali-kali melakukan perintah ini, suatu kali, rasa penasaran saya memuncak tak tertahan. Saya hisap puntung rokok sisa, lalu menghembuskan asapnya, meniru gaya ayah saya. Ehm….langsung saja saya terbatuk-batuk.

Sisa puntung itu cepat-cepat saya buang, takut ketahuan ayah. Sejak itu saya tidak lagi tertarik dengan rokok meskipun banyak teman yang menggoda.

Waktu saya pindah ke Medan sejak kelas 4 SD, saya tinggal dengan kakek dan nenek tiri. Kakek saya yang berprofesi sebagai tukang sering bertugas keluar kota sehingga praktis saya tinggal bersama nenek yang cukup disiplin dan sedikit “spooky”.

Waktu saya kelas 5, nenek pernah mengadukan saya ke mami yang datang berkunjung sekitar 3 bulan sekali. Katanya, di kantong baju saya ditemukan sisa tembakau sehingga dia mencurigai saya telah merokok, seperti anak-anak lainnya yang sering dia temukan saat mereka pulang sekolah dan melewati rumahnya.

Mendengar pengaduan nenek ini, mami tidak percaya begitu saja. Saya dikonfrontir dalam sebuah interogasi yang menggunakan asas praduga tak bersalah. Saya jawab saja kalau saya memang sering mengantongi rokok, tetapi bukan untuk saya sendiri. Lalu untuk siapa?

Waktu kelas 5 SD, guru kami yang disebut anak-anak sebagai Pak Tuek (artinya Pak Tua, padahal nama sebenarnya Pak Siahaan) memang sering menyuruh saya membeli rokok. Sebagai ketua kelas, saya sering diminta olehnya mengkoordinir teman-teman untuk mengumpulkan iuran seikhlasnya agar beliau bisa merokok.

Di satu sisi saya kasihan juga melihat seorang guru begitu miskinnya sampai harus meminta uang dari muridnya untuk membeli rokok. Di sisi lain saya juga kesal. Masa murid-muridnya yang rata-rata jajannya tidak berlebihan harus berkurang gara-gara diminta iuran untuk beli rokok Pak Guru.

Hal ini terjadi beberapa kali dalam seminggu, terutama saat bulan tua. Kalau bulan muda dan baru gajian, biasanya beliau membeli dari kantung sendiri.

Uang yang saya kumpulkan dari teman-teman seringkali tidak cukup membeli sebungkus rokok. Seringnya, hanya cukup untuk membeli tiga sampai enam batang.

Karena tidak menggunakan kertas pembungkus, ada serpihan tembakau yang tertinggal di kantung baju saya. Inilah rupanya pangkal kecurigaan nenek sehingga dia menyimpulkan kalau saya mulai merokok.

Kalau mengingat cerita ini mami saya sering kesal kepada nenek karena telah menuduh saya yang bukan-bukan. Tapi bagi saya, pengaduan nenek ke mami merupakan wujud perhatiannya kepada saya. Mungkin beda halnya kalau beliau nenek kandung saya. Jangan-jangan saya malah terlalu dimanjakan atau beliau akan menutup-nutupi kecurigaan ini agar tidak diketahui mami.

Bagi orangtua, pengawasan terhadap anak yang masih berusia sekolah sangatlah penting. Apalagi, saat ini berbagai macam godaan bagi para siswa, dari mulai rokok, narkoba sampai pornografi. Menjadi orangtua yang bisa menjadi teman curhat bagi anaknya merupakan tantangan yang tidak mudah di tengah waktu pertemuan orangtua-anak yang sangat minim.

Sampai saat ini saya bersyukur karena tidak merokok. Meskipun ayah, teman dan guru saya perokok, saya tidak tergoda dan tidak takut dibilang bencong. He he…bencong aja ternyata merokok. Entahlah, seandainya ayah dan guru saya dulu bukan perokok, apakah saya malah menjadi perokok? Wallahu a’lam bissawab…

Iklan

13 tanggapan untuk “Dituduh Merokok

  1. siiip Bang. Saya tidak suka dan tidak pernah mau mulai merokok.

    Ayah saya dulunya perokok, tapi karena tuntutan pekerjaan. Dia kerja di kilang minyak,Plaju dan musti jaga malam. Dia baca koran dan merokok. Bisa tuh dia baca koran (koran terbuka terus) tapi mata tertutup. Dan fungsinya rokok untuk menyadarkan dia kalau ketiduran (semakin pendek kan semakin panas ke jari).

    Saya sedang berharap semoga papanya Riku dan Kai mau berhenti merokok. (Mungkin kalau harga rokok 1000 yen per bungkus dia terpaksa berhenti karena ngga mampu beli).

    Semoga Papa Riku bisa berhenti merokok ya Ime-chan…

  2. Ah, cerita soal rokok, ya…
    Saya bisa merokok, tapi nggak pernah nemuin excitement-nya merokok. Paling unsur ‘gaya-gayaan’ thok, selebihnya, nggak ada. Dulu pernah merokok, tapi cuman ocassional smoker aja, kalau lagi ‘pingin gaya’ ya merokok. Ah, payah juga yaa…
    Sekarang sih udah nggak ada minat lagi untuk ke sana.

    Cuman masalahnya, sama seperti EmiChan, pacar saya ini ngerokoknya hebat banget… (walaupun ngakunya sih sudah berkurang banyak demi Lala seorang.. cieeehhh…)

    Mudah-mudahan dia bisa berhenti deh…
    Kalaupun masih merokok, bau badannya musti bebas rokok atau jauh-jauh dari saya kalau emang masih mau merokok..

    Btw, si Om itu perokok berat lho.. coba tanya deh Bang… *saking cintanya sama kantornya tuh.. hahaha*

    Tanya ke Bos Nh?
    Nggak deh…nanti dia tersinggung…
    Ampun, Bos…

  3. wah, penderita asma seperti saya bisa mati kalau merokok…
    jadi saya sama sekali gak pernah nyoba…apalagi benar-benar merokok..
    perokok pasif sih jangan tanya..

    untung kena asma ya mas…
    jadi nggak bakalan merokok…
    untung terus….

  4. Sama bang, saya juga tidak menemukan sebelah mana enaknya merokok.

    Kalu ngomongin roko jadi inget pas masa transisi SMP ke SMA. Waktu itu ada tahlilan dan seperti biasa ada suguhan roko. Saya ngambil terus diselipin di daun telinga *gaya2 tukang bas gitu deh*. Sesudah tahlilan saya pulang ke rumah. Di rumah ketemu babeh.

    “Hey kamu ngeroko ya?!” tanya babeh.
    “Ah enggak”, jawabku polos.
    “Itu buktinya ada roko..!” kemarahan babeh meningkat..
    “Ah mana. Mana buktinya…?” saya nantangin.

    Kikikik…8x saya lupa, roko tadi masih nangkring di telinga. Maluw deh!

    Kebayang murkanya si babeh melihat anaknya sok nantangin.
    Padahal rokoknya ada di telinga….
    Aya aya wae mang kumlod…

  5. Oke … oke aku nyerah … ampun pak …ampun bu …
    mengenai merokok aku no comment aja …

    yang akan aku komentari adalah …
    Guru yang me”malak” anak muridnya untuk membelikan rokok
    sudah begitu yang membelikan juga ketua kelasnya lagi …
    di satu sisi aku kasihan dengan pak guru itu … disisi lain mbok ya jangan begitu to …

    Menurut peraturan pemerintah no sekian / thn sekian
    Lingkungan Pendidikan adalah salah satu kawasan yang harus bebas dari asap rokok …

    sekian himbauan kami

    Kalau sudah nyerah ya biasanya ditawan deh…
    Hi hi….
    Ya, begitulah salah satu episode profil guru kita…

  6. duh memperihatinkan banget pak guru itu, sekadar ingin merokok saja mesti ngrepotin murid2nya. tega2nya juga ya, mas azwan? semiskin2nya guru kalau harus meminta murid2nya iuran buat beli rokok, duh, jangan sampai deh. lebih baik merokok menggunakan uang sendiri, kekekekeke 😆 wew… salut juga dg mas azwan yang sanggup menahan diri dari godaan merokok, nggak seperti saya yang nggak bisa memunculkan satu huruf pun di monitor kalau nggak ditemani asap pembakar dada itu, hiks.

    Iya Pak. Sebenarnya saya sedih juga melihat kelakuan guru saya tadi.
    Wah, ternyata Pak Sawali belum bisa berhenti merokok ya?
    Mungkin bisa dicoba terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique)…
    Semoga berhasil, Pak.

  7. Sekarang udah nggak kesal lagi sama nenek kan? Merokok adalah jalan untuk ke arah narkoba…itu kata guru sekolah anak saya. Karena kawatir, sebulan sekali saya apel ke sekolah anak saya (terutama si sulung yang cowok), menanyakan guru apa kenakalan anak saya bulan ini? Dan setiap pagi atau pulang kantor saya selalu mencium pipinya, selain ungkapan sayang, saya mencoba membaui bau-bauan lain…..siapa tahu dia merokok atau apa.
    Syukurlah, mungkin karena keluargaku tak ada yang merokok (ayahnya tak merokok, begitupun adik saya), jadi memang merokok bukan pilihannya, karena dia lebih tertarik hal lain.

    Lagipula merokok ga ada untungnya kan? Kecuali membuang uang (untuk beli rokok), dan malah bisa kena penyakit paru-paru

    Wah, bagus juga nih triknya, Bu.
    Setiap pulang ke rumah, ibu2 diharapkan mencium anak2nya.
    Di samping untuk menunjukkan kasih sayang juga untuk mencium aroma tembakau.
    Trik yang jitu ya Bu…
    Boleh ditiru sama ibu2 lain…

  8. Salut, buat mas heryazwan…(duh..manggilnya apa, ya? mas hery ? ato mas azwan?)

    Harusnya gak ada istilah…”BENCONG buat laki2 yang gak PEROKOK”

    Mereka justru lebih menyayangi diri mereka sendiri, ya, tho…
    Lha wong mo sehat kok malah diCemoOh…

    Panggil apa aja boleh. Mas Hery? Bang Hery? Mas Azwan? Semua boleh…
    Terima kasih atas salutnya…
    Hi hi…

  9. Bang, kayaknya si Om nggak berani main ke post yang ini nih… takut disalah-salahin.. hahahaha…. ^_^

    @ Om: Jadi nyerah nih? Beneran nih? Kita tawan dan sekap di gudang, gimana? wakakakaka….

    Jangan kenceng2, La. Nanti dia kabur…Hi hi….

  10. @Lala …
    Aku masuk kesini lagi …
    Weeekkksss …
    Sapa takuutt …

    @Abang
    Maap bang … numpang wwekkss melet doang disinih …
    🙂

    Silakan Bos…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s