Sahabat Dunia Maya

Dari 7 bulan ngeblog di WordPress, banyak pengalaman menarik yang saya dapatkan. Sehubungan dengan waktu blogwalking yang terbatas, saya tidak sempat berlama-lama melakukannya sehingga sahabat dunia maya saya juga tidak terlalu banyak.

Saya mengetik postingan on the spot setelah tiba di kantor, tidak seperti Bos Nh18 yang mengetik postingan dan cadangan postingan di rumahnya. Saya sengaja membatasi diri agar hidup saya lebih seimbang. Jika di rumah juga masih nge-net, saya khawatir hidup saya mengalami information overload, seperti ditulis Ninok Leksono pada Kompas Senin minggu lalu.

Di antara yang paling dekat, tentu saja klub Asunaro: Bos Trainer, Ime-chan, dan Jeng Lala (urutan disesuaikan dengan usia). Selain itu ada Pak Sawali di Kendal, Mas Trijokobs di Bogor, Mang Kumlod di Jakarta, Mbak Dewi Yuhana di Malang, Hangga Damai mahasiswa IPB, Pak Oemar Bakrie dosen ITB, Bu Edratna di Jakarta, Bang Eby di Madiun, Pak Ersis (EWA) di Banjarbaru, eNPe di Pontianak, Bu Rita di Soroako, Amori77 di Makassar, dan yang baru-baru ada Koko, Ressa di New Zealand, Amin Subandi di Lhokseumawe, Mbah Justinus dan Gunawan. Bagi blogger yang pernah berkunjung tapi lupa saya sebutkan, mohon maaf yang tulus dari saya.

Uniknya, ada juga pengunjung setia misterius, tapi dia tidak punya blog. Namanya Whitewizard dan dia rajin memberikan komen. Sampai kini saya nggak tahu siapa dia.

Selain itu ada juga blogger yang sebelumnya sudah saya kenal seperti Tulang Mula Harahap dan beberapa teman sekolah: Handoko,  Vizon, dan Miftah.

Ngomong-ngomong, kalau soal misterius sebenarnya ada juga pemilik blog yang masih misterius. Contohnya nggak usah jauh-jauh, ya Bos Nh18 yang sampai kini belum memproklamirkan namanya, juga Mang Kumlod yang tetap memakai nama samaran.

Yang ingin saya sampaikan adalah, betapa dunia maya membuat kita seolah dekat, bahkan lebih dekat dari tetangga sebelah rumah kita. Semua yang kita alami sehari-hari seolah diketahui oleh teman kita di sudut lain di dunia ini. Saya yang di Jakarta bisa tahu apa yang terjadi dengan Ime-chan di Tokyo, Lala di Surabaya, dsb.

Ironisnya, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan tetangga saya di kompleks perumahan. Di satu sisi ini mencerahkan, di satu sisi kok jadi paradoks juga ya….

Saya tahu Ime-chan punya dua anak, Bos Nh18 punya tiga anak, dan Lala sibuk pacaran sambil menyiapkan buku best seller-nya. Sementara saya tidak tahu berapa anak tetangga di depan rumah saya. Apakah mereka ada yang sakit? Saya tahu masa lalu dan sejarah hidup Ime-chan, Bos Nh dan Lala, tetapi nggak pernah tahu sejarah hidup tetangga saya.

Setiap pagi, setelah komputer dinyalakan, secara otomatis saya mengunjungi blog mereka untuk melihat apa yang mereka tulis hari ini, apa tanggapan mereka tentang komentar saya kemarin, dsb. Rasa penasaran itu terus datang setiap hari tanpa saya bisa membendungnya. Entah sampai kapan.

Pokoknya, sahabat dunia maya telah membuat hidup saya menjadi lebih berwarna, lebih bermakna. Saya menduga demikian juga yang dirasakan oleh teman-teman. Rasa bermakna ini menurut saya sangat penting dalam hidup, sehingga kita tetap optimis dengan apa yang akan kita hadapi di masa mendatang. Pengalaman yang dituliskan oleh teman-teman juga dapat menjadi cermin bagi saya secara pribadi untuk lebih bersyukur kepada-Nya.

Berhubung saya mau meeting pukul 10.00 ini, saya cukupkan cuap-cuap sampai di sini. Nanti kalau udah selesai meeting bisa disambung. Halah….

Iklan

19 tanggapan untuk “Sahabat Dunia Maya

  1. ichiban …..
    hmmm pidato Pak Lurah disambung di sini rupanya.
    Tapi emang bener ya seakan jarak waktu dan tempat hilang dengan adanya internet ini.

    Hidup AsUnArO….. Banzai!!!

    Pidato pak Lurah dilanjutkan dengan pidato Pak RW…Hi he ha…

  2. kalau kata the changcuters

    Sahabat dunia maya, pacar Luna Maya…ooww, i love you, baybeh..

    Wah, saya baru nyadar Mas Koko, kalau syairnya seperti itu. Bawa2 dunia maya segala…

  3. Ah, Abang.
    Saya pun sama persis kayak Abang, lebih tahu perkembangan sahabat-sahabat maya daripada tetangga sendiri. Sedikit membuat saya berpikir juga, “Apa saya kurang bergaul juga ya?” But hey, saya langsung meralat itu semua, karena memang dasarnya saya kurang akrab dengan para Tetangga itu sejak Mami passed away… Ini mungkin terkesan excuses and excuses. Tapi memang itu keadaannya.

    Soal kebiasaan harian itu… ah, sama, Bang! I do exactly the same thing. To be honest, blog Abang, Emi-Chan, dan Om NH adalah blog-blog pertama yang saya buka. Kalau Om masih sering blogwalking, saya nggak banget. Terkesan egois nggak sih, kalau saya lebih fokus menulis blog saya sendiri dan hanya berkunjung ke rumah orang terdekat saja? Ini pernah jadi bahan diskusi saya dengan Om, dan akhirnya, Om yang menang tuh.. Karena kata dia, “We can learn something from their lives…”
    Arrrgghh… I hate it when he’s right! wakakakakakak…

    Btw, saya makin terinspirasi untuk nulis tentang persahabatan kita ini Bang…. Ntar deh, saya mau curi-curi waktu dulu, soalnya udah ada ‘janji penting’ sama ‘orang penting’ hari Senin nanti.. *and you know who.. hehe*

    Makasih ya Bang…
    Tulisan ini membuat saya makin meyakini bahwa meskipun hanya dengan media teknologi canggih semacam internet yang bisa merangkum jauhnya jarak kita berempat, if we really care about that person, rasa itu akan bisa menyentuh hati orang yang kita sayang….

    Ah, jadi mellow surellow Bang..
    Bisaaaaaaa aja sih… ^_^

    Makasih juga tanggapannya, La…
    Siapa orang penting itu? MSS itu?
    Ah, mau tau aja si Abang….
    Urusin juga tuh tetangga…
    He he…

  4. aduh.. panjang banget sih komentarnya.. hehehehe…. *udah gitu pake acara nambahin segala lagi..busyet dah* 🙂

    Bang,
    kalimat “LALA SEDANG SIBUK PACARAN” itu nggak usah disebut dong, bilang, “Lala lagi sibuk dengan project nulisnya..”
    Gitu kali.. lebih keliatan gimana gituuuhh… wekekekekekek *padahal sih, emang iya lagi sibuk pacaran!*

    Biar adil, aku sebutin dua-duanya…
    (udah direvisi kok)

  5. Arrgggh keduluan Abang sama Emiko …
    Membahas Asunaros … dengan versinya masing-masing …

    Aku punya stok tulisan tentang asunaros juga …
    Aku post hari ni … (si sela break training …)

    Tunggu …

    Eniwei Bang … Thanks … !!! (indeed)

    Wah, lagi Rock’n Roll nih Bos…
    Btw, ditunggu postingannya…

  6. hehehe…. uda direvisi tho.. padahal cuman becanda… *eh, eh, tapi jangan direvisi lagi.. stop.. stop.. bagusan gitu kok… hehehe*

    eniwei,
    bukan sama MSS, tapi sama MY alias Mel.Yen *you know who, kan?? hehe*

    dan yah…
    akhirnya saya melengkapi cerita tentang Asunaros, menurut versi seorang lala tentunya..
    Hadirilah.. Saksikanlah… *niru si Om ganjen nih.. kwakakakak*

    Segera meluncur…….

  7. sepakat bang Azwan…
    terkadang saya merasa “dekat” dengan teman di dunia maya tapi tidak begitu akrab dengan tetangga di rumah. Bahkan aku punya adik yg dekat dengan saya..tapi hanya di dunia maya…..hemh..cukup aneh hubungan seperti ini.

    satu hal lagi yang terkadang membuat sya bingung…..kalau lagi “berselancar” dan nggak maen ke blog bang azwan…kayanya ada yg kurang deh….

    hehehe….

    Memang aneh juga ya dunia maya ini…
    Btw, terima kasih atau pujiannya….
    Bikin blog juga dong, biar bisa dikunjungi…

  8. itu salah satu kelebihan ngeblog, mas azwan. kita jadi punya banyak teman dan jaringan di mana2. mau pergi ke suatu tempat kita cukup kontak teman via chatting atau email. juga dapat saling share. ttg pengunjung misterius, di mana2 ada kok, mas. yang penting niat dan tujuan mereka baik, saya kira kita tetep nyaman dengan kemisteriusannya, hehehe 😆 btw, kalau saya sih tinggalnya di kendal, mas azwan, bukan di klaten, hehehehe 😆

    wah, maaf, pak. salah tulis. nanti saya revisi ya…Catet: Kendal, bukan Klaten…

  9. Baca tulisan di atas bikin saya sedih, Bang. Dari dulu saya sadar punya penyakit sosial. Karena lama ga tinggal di rumah sendiri (orang tua), menjadi tamu di daerah orang, jadi ga peduli daerah sekitar. Karena saya pikir, toh saya cuman tamu di kosan sini, bentar lagi juga saya bisa pindah, kenapa harus peduli? Eh pas pulang ke rumah Cianjur sama juga mikirnya gitu, toh saya pulang ke rumah sebulan sekali, mana bisa peduli? Saya pikir, kalau saya punya rumah sendiri, nah di sanalah baru saya bisa peduli. Karena rumah sendiri adalah tempat tinggal saya. Tapi saya sadar ini adalah salah dan saya benar2 ga berdaya memperbaikinya. Bodohnya diriku! *hiks*. Sekarang saya sedang berusaha mengobati penyakit ini setidaknya di lingkungan kantor dulu…

    Anyway, makasih juga buat si Abang yg menerima saya sebagai temen maya-nya walaupun saya berpenyakit sosial (mudah2an ga menular).

    Terkadang saya juga berpikir demikian, persis seperti yang Mang Kumlod pikirkan.
    Dulu waktu kos seperti itu. Waktu pulang ke Medan juga begitu.
    Sekarang udah punya rumah sendiri, juga masih….
    Kayaknya saya memang agak anti sosial juga nih…..
    Makanya, Sabtu Minggu kalau bisa nggak usah ngenet deh…
    Jadi bisa gaul dengan tetangga….
    Hi hi….

  10. kalau saya beda kali ya bang. saya deket dengan temen di dunia maya juga deket dengan tetangga sebelah. bahkan cerita satu gang rumah saya saya mengerti perkembangannya. mungkin saya tinggal di kota tapi suasana kampung. kalau ada tetangga sakit kita saweran bang. ya lumayan sih… kalau ada tetangga hajatan kita bantu bang….. sekarang ada tetangga yang gak bisa sekolah karena bapaknya selingkuh ya kita saweran dengan tatangga untuk masukin sekolah. beda ya…. rumah saya sih bukan di kompleks tetapi deket dengan kompleks Bintaro Jaya…..

    wah, bahagialah bagi mereka yang masih hidup bertetangga dengan akrab….
    Apalagi jika bisa membantu tetangga yang berada dalam kesulitan secara patungan.
    Tuntutan ekonomi dan pekerjaan sering membuat sebagian orang, termasuk saya, sulit berakrab ria dengan tetangga.
    pulang kantor saja sudah pukul 19.00 atua bahkan pukul 21 malam…
    Kapan lagi waktu untuk bersosialisasi? Memang seribu satu alasan bisa dikemukakan kalau nggak niat.

  11. ita juga merasakan hal demikian. sejak ng-blog jadi byk sahabat malah ita dapat klrg angkat komunikasi yg baik n lancar antar sesama blogger menjadi ikatan silaturahmi yang kuat..
    koreksi dikit ya :
    tertulis : EnPe di Pontianak
    seharusnya : eNPe di Pontianak :mrgreen:

    koreksi sudah dilakukan, bu guru eNPe…

  12. Iya, mas herry…
    Jarak yang jauh memang tidak menjadi batasan akan kedekatan masing2 blogger.

    Yah..agak ironi memang…Jika kita mengetahui kondisi seorang teman diseberang lautan sementara kita tidak tahu kondisi tetangga yang tinggal dekat dengan kita.
    Mungkin karena itu Allah SWT menyuruh kita untuk berbuat baik kepada tetangga…Karena yang akan memberikan pertolongan pertama kepada kita adalah “PaRa TeTangGa”

    Iya nih, kalau ada apa2 pasti tetangga dulu yang dimintai tolong..

  13. kita juga baru kenalan ya bang ? :mrgreen:

    semoga tetap menjalin persahabatan 🙂

    mana janji bukunya ? 😛

    iya, kita juga baru nih…
    bukunya? ehmm…belum sempat ke toko buku…

  14. Terus terang, saya dg Hery sewaktu sekolah dulu tidak terlalu akrab. Tapi, berkat dunia maya ini, komunikasi kami yg sempat terputus hampir 15 tahun, kembali tersambung dan bahkan sangat “mesra”, hehe… 🙂 Sehingga saat ini, Hery adalah salah satu sahabat saya terakrab di dunia maya maupun nyata. Thanks lah buat “mbak maya”… oops… 🙂

    Soal kehidupan sosial, alhamdulillah saya tidak mengalami masalah, dan bahkan saya sangat dekat dengan tetangga. Awalnya, saya memang agak khawatir tentang kehidupan bertetangga saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Gudeg. Masalahnya, budaya saya (Minang) yang agak sedikit kontras dg budaya Jawa. Saya khawatir cara bicara saya yg cenderung “kasar” akan menjadi benturan dalam berkomunikasi dg orang Jogja yg cenderung “lembut”.

    Tapi syukurnya, hal itu tidak terbukti. Saya bisa berbaur dengan mereka dan bahkan anak2 saya justru saat ini lebih fasih berbahasa Jawa ketimbang bahasa Minang. Duh… saya bakal diomeli para Datuk di kampung bila saya pulang nanti, hihi… 🙂

    Dalam memilih lokasi tempat tinggal, saya berusaha untuk tidak tinggal di komplek perumahan. Saya lebih suka tinggal di perkampungan. Karena menurut saya, kehidupan di komplek perumahan cenderung individualistis, dan saya kurang nyaman dg hal tersebut.

    So, marilah memperbanyak sahabat di mana saja, dunia maya maupun nyata… Iya kan Bro? 🙂

    Setuju, Bro.
    Ente memang sohib ana yang paling akrab di antara sohib waktu sekolah dulu.
    Memang kehidupan bertetangga di kompleks agak kurang ramah…
    Tapi bukan itu saja sebabnya.
    Jalanan yang macet di Jakarta membuat waktu tiba di rumah semakin malam sehingga setiba di rumah sudah lelah.
    Akhirnya, waktu untuk bergaul dengan tetangga tidak ada lagi…
    Ya, mudah2an ada momen tertentu untuk mengakrabkan diri dengan tetangga, juga dunia maya…

  15. eh sorry, nyambung dikit…
    barangkali momen 17-an nanti bisa dijadikan kesempatan buat berakrab2 ria dg tetangga…
    jadi pengen tau, kayak apa Hery ikutan lomba tarik tambang, hehehe… 🙂

  16. inilah salah satu keuntungan dari ngeblog di wordpress, selain tambah ilmu tentu saja juga tambah sahabat. dari berbagai belahan penjuru negeri malah.
    hidup sahabat!!!!

  17. AllOw,
    sbelumnya thanx ya Pak tuk infonya, saya ambil juga sebagai tambahn tugas tentang manfaat persahabatn di dunia maya. Sesungguhnya hidup manusia akan berubah lebih cepat dari pada jaringan internet, jadi bersiaplah untuk itu. Lets get it, out… Thanx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s