Mengapa Masuk Pesantren?

“Kamu dulu bandel ya?”

“Kamu dulu nyusahin orangtua ya?”

Beberapa teman sering bertanya seperti itu kepadaku.

Di masyarakat ada kepercayaan sebagian orang kalau yang masuk pesantren adalah anak yang bandel. Minimal, nggak pintarlah. Kalau pintar, pasti mereka masuk sekolah umum. Kalau anak pintar masuk pesantren, ya sayang banget.

Rasanya tidak elok menyalahkan pandangan masyarakat tersebut. Beberapa fakta memperkuat pendapat ini. Seorang ustad yang mantan preman mendirikan sebuah pesantren untuk membina mantan napi agar mereka tidak kembali ke jalan yang suram. Beberapa pesantren malah mengkhususkan diri untuk penyembuhan mereka yang kecanduan narkoba. Perlahan namun pasti,  persepsi masyarakat  tentang pesantren agaknya berubah.

Lalu bagaimana denganku? Aku masuk pesantren setelah menamatkan madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP), jadi sudah cukup remaja. Padahal, umumnya pesantren modern seperti Gontor menerima santri sejak lulus SD. Di sini mereka akan menempuh pendidikan selama 6 tahun (SMP-SMA).

Adapun jika masuk pondok setelah tamat SMP, maka waktunya hanya 4 tahun dan disebut kelas Eksperimen atau Ekstensif. Memang ada tambahan satu tahun dibandingkan kalau sekolah normal. Belum lagi, ada program pengabdian menjadi guru di pesantren alumni atau bahkan di Gontor sendiri selama satu tahun sehingga total ada tambahan 2 tahun. Karena itu, dari awal aku sudah berencana agar di pondok hanya tiga tahun sehingga aku tidak ketinggalan dari kawan-kawan yang sekolah di SMA.

Sementara kalau di pesantren tradisional, biasanya santri pagi hari ikut kelas MTs dan MA atau SMP-SMA. Baru sorenya hingga malam mereka mengaji di pesantren. Bahkan, ada pesantren yang membolehkan santrinya belajar di sekolah di luar pesantren. Jadi, pesantren ini mirip kos-kosan saja.

Sejak duduk di MTs, atas dorongan ayah, aku mengikuti les bahasa Inggris dengan semangat empat lima. Ayah sendiri lulusan SMA dan tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga dia kepingin anaknya lebih baik dari dia.

Tempat les kami bermerk Trimurti English Course. Lokasinya di samping bioskop Remaja, Simpang Limun. Seiring dengan desakan arus zaman, kini bioskop tersebut sudah tutup dan menjelma jadi bank Permata.

Pengelola kursus ini dulu orang Sikh yang prianya selalu menggunakan kain di kepala laksana pangeran Diponegoro. Di Medan sebagian besar kursus bahasa Inggris dikuasai oleh kaum yang pintar membuat martabak dan kari kambing ini. Kini, Trimurti, yang menempati ruko berlantai tiga, tamat sudah riwayatnya.

Yang menarik, kata Trimurti ini ternyata mengandung arti yang sangat penting di pondok modern Gontor. PM Gontor didirikan oleh tiga orang kakak-beradik yang disebut Trimurti. Aku tidak paham apakah ini kebetulan atau memang sudah begitu digariskan yang Maha Berkehendak.

Di tempat kursus ini aku selalu juara selama 2 tahun. Pada semester terakhir nilaiku dikalahkan kawan sekelasku yang cantik , Riana, bukan Rihanna (ehm, di mana dia sekarang ya?). Meski nilaiku selalu bagus, tapi aku tidak bisa “ngomong” dalam bahasa Inggris. Grammar jago, “speaking” nol besar.

Entah cara belajarnya yang salah atau aku yang kurang berani mempraktikkan speaking. Padahal, guru kami yang sok ganteng dan mengaku mirip Ricco Tampati selalu memotivasiku untuk berbicara,”Hery, speak English lah

Sementara, dua temanku kala di madrasah Ibtidaiyah, Ihsan dan Anhar sudah mahir berpidato menggunakan bahasa Inggris, bahkan Arab. Hal ini mereka buktikan saat memberikan ceramah ba’da sholat Tarawih di mesjid dekat rumahku.

Wow, betapa kagum sekaligus irinya diriku (dalam arti negatif atau positif, aku kurang jelas). Mereka berdua yang rankingnya berada di bawahku ternyata sekarang bisa memberikan ceramah, tidak main-main, dalam bahasa Inggris dan Arab pula. Jamaah sholat Tarawih juga kagum dengan mereka. Orangtua mereka berdua pasti bangga sekali dengan anaknya yang baru setahun di pesantren, sudah bisa tampil di muka umum.

Jadi, begitu saja motivasiku masuk pesantren. Kepingin bisa ngomong bahasa Inggris. Lain, tidak. Kalau Arab, bolehlah sikit-sikit.

Jadi tidak ada motivasi karena melihat ada ulama kondang berasal dari Gontor, atau tokoh cendekiawan alumni Gontor, ketua partai alumni Gontor, menteri agama alumni Gontor, dsb. Tidak juga karena disiplin di Gontor sangat ketat. Tidak juga karena di Gontor santri akan digembleng menjadi pemimpin. Tidak juga untuk menegakkan agama Islam.

Meskipun demikian, perlu juga kusampaikan rahasia besarku. Di buku catatan kecilku waktu MTs yang masih kusimpan hingga kini, tertulis:

Nama: Hery Azwan

Cita-cita: Ulama & Atlit (nggak nyambung ya?).

Mengapa ulama? Mungkin aku tertarik dengan lingkungan sekitarku yang banyak dihuni para ustad. Mereka kelihatan begitu mulia dan agung, terhormat di mata masyarakat. Belum lagi, kalau musim maulid dan hari besar lainnya, para ustad ini panen menerima panggilan (bersama amplopnya tentu saja).

Mengapa atlit? Mungkin karena aku suka olahraga. Sepakbola, bulu tangkis, volley ball, sepak takraw, tenis meja adalah olah raga yang kusukai dan aku bisa memainkannya. Selain itu, aku kagum dengan atlit yang bisa bepergian ke luar negeri secara gratis.

Cita-cita menjadi atlit rasanya tidak bakal terkabul. Saat ini usia emas seorang atlit sudah lewat, kecuali untuk olah raga tertentu seperti menembak. Bagaimana dengan menjadi ulama? Peluang sih ada, tetapi dengan profesiku sebagai karyawan di perusahaan swasta, rasa-rasanya perjalananku tidak mengarah ke sana. Cita-citaku kelak berubah terus seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan dan bertambahnya pengalaman.

Aku meminta dukungan ayah untuk belajar di Gontor. Hanya Gontorlah tempat yang tepat, menurutku saat itu. Aku tidak tahu kalau ada program pertukaran pelajar di Amerika atau beasiswa di Singapore untuk siswa SMA seperti yang ada saat ini.

Aku yang sering mengalami beberapa kali dikompas (dipalak) sangat terobsesi untuk belajar beladiri sehingga jika ketemu tukang kompas tidak perlu melarikan diri. Akan kuhadapi mereka dan kuhajar dengan tanganku sendiri. Aku dengar di Gontor juga diajarkan beladiri sehingga aku semakin semangat untuk belajar di sana.

Mami ternyata tidak setuju dan mencoba membujukku untuk tetap belajar di Medan saja. Mami berjanji membelikan kereta (sepeda motor) buatku.

Namun, aku tidak tergoda. “Cita-cita besar tidak boleh luntur hanya gara-gara sepeda motor”, kucoba meyakinkan di dalam hati. Hasrat bergelora memenuhi segenap jiwaku untuk menuntut ilmu ke Gontor.

Padahal, selama ini aku juga jauh dari ayah dan Mami. Aku tinggal di Medan, sedang mereka tinggal di perkebunan. Sudah menjadi kebiasaan karyawan perkebunan untuk menyekolahkan anak mereka di Medan agar tidak ketinggalan kualitas pendidikan. Tapi, biasanya ini baru dilakukan setelah SMA. Sedang aku, sudah berpisah dari orangtua sejak SD kelas 4. Terlalu dini memang. Sebuah perpisahan yang kemudian aku syukuri karena banyak pengalaman yang tidak kuperoleh jika aku tetap tinggal di perkebunan.

Setelah tamat MTs dan menerima ijazah, berangkatlah aku ke Jawa bersama kakek yang saat itu sudah berumur 68 tahun. Tentu saja fisiknya sudah mulai ringkih.

Ayahku tidak punya cukup waktu dengan kesibukan pekerjaannya di perkebunan. Lagipula kakek sudah pernah ke Jawa bahkan pernah tinggal lama di Jakarta, sehingga dia lebih paham Jawa daripada ayahku.

Kami menumpang bus ALS tanpa AC dengan harga tiket Rp 33.000 per orang. Kata Mami beberapa tahun kemudian, saat itu dia menjual emasnya untuk ongkos perjalanan kami. Begitu besar pengorbanannya.

Perjalanan menyusuri trans Sumatera-Jawa dengan bus bukanlah perjalanan yang mudah. Apalagi, saat itu bulan Ramadan. Dengan jiwa heroik laksana calon syuhada pergi berjihad, aku tetap berpuasa selama empat hari perjalanan. Padahal, ajaran agama memberikan keringanan kepada musafir. Seringkali jalanan yang berkelok mengguncang isi perutku. Untunglah goncangan tadi tidak sampai mengeluarkan hasil olahan semalam.

Belum genap menembus provinsi Sumatera Barat, masih di Sumatera Utara kami sudah dihadang longsor di sekitar Padang Sidempuan. Kami tertahan di sana selama empat jam lebih, sehingga tidak sempat bersahur. Dengan kekuatan tekad, aku putuskan tetap berpuasa esok harinya.

Bus yang kami tumpangi bukanlah bus eksekutif,  melainkan bus ekonomi yang berhenti di tiap terminal kota kecil sekalipun. Rombongan transmigran yang mau mudik ke Jawa turut meramaikan bus kami. Tidak jarang mereka membawa ayam dan hasil panenan untuk dijadikan oleh-oleh di kampung. Bau badan, terkadang bercampur dengan bau muntah menjadi menu utama hidung kami. Bus yang sudah penuh, terus disumpal dengan penumpang baru. Asap rokok gudang garam yang mengepul menambah ramai udara. Tak jarang, beberapa penumpang saling mengomel karena tempat duduknya diserobot penumpang lain saat dia turun untuk ke toilet.

Menjelang penyeberangan Merak-Bakauheni bus berhenti di sebuah restoran di daerah Bandar Jaya. Petugas restoran mengumumkan lewat pengeras suara yang sudah uzur sehingga tidak jelas lagi apa yang diumumkan bahwa bus akan lama berhenti di sini. Penumpang dipersilakan mandi dan beristirahat. Tampak penumpang berlomba menuju kamar mandi yang menghampar panjang yang digunakan bersama. Tanpa sungkan mereka melepas semua yang melekat di badan untuk merasakan sejuknya sentuhan air.

Singkat kata, tibalah kami di Bekasi pada hari ketiga. Badan kakek sudah pegal. Dia berencana untuk turun di Bekasi dan digantikan oleh adik iparnya yang tinggal di Bekasi, bernama Ujang. Kek Ujang menjemput kami sejenak di sebuah terminal di Bekasi. Aku bersikeras tidak mau ditinggal oleh kakek. “Enak aja. Janjinya kan sampek di Gontor”, ucapku dalam hati. Mungkin kakek bisa membaca raut wajahku, sehingga dia tidak jadi meninggalkanku.

Bus perlahan menyusuri pantura. Suasana siang yang terik di bulan Ramadhan hampir tak tertahankan olehku. Apalagi saat bus mampir di terminal Tegal. Aku hampir tergoda dengan teh kotak Slawi yang ada di sebuah kios. Apalagi saat melihat penumpang lain yang dengan nikmatnya menyedot minuman dingin. Tapi kemudian aku bersiteguh,”Satu hari lagi. Sayang, ah”.

Menjelang pukul 20.00 malam bus tiba di Solo. Bus berhenti di sini. Perjalanan dilanjutkan besoknya dengan bus yang berbeda. Aku tidak mengira hal ini bakal terjadi. Tampaknya perusahaan bus sudah mengelabui penumpangnya.

Penumpang diinapkan di pool bus yang kondisinya sangat biadab. Air di kamar mandi tidak mengalir. Baknya hanya berukuran tidak lebih tinggi dari betis. Aroma tidak sedap langsung menubruk hidungku.

Tidak ada tempat tidur yang layak. Yang ada hanya dipan luas yang digunakan bersama. Aku dan kakek tidak mendapat ruang yang cukup. Semua lahan sudah penuh dengan penumpang yang kelelahan. Laki-laki dan perempuan bercampur baur.

Kami hanya duduk sepanjang malam sambil terkadang terkantuk dan memicingkan mata. Waktu sahur tiba, tidak ada penjual makanan terdekat yang masih buka. Tadi malam, aku juga belum berbuka dengan sempurna, karena hanya ada tukang bakso yang berjualan di sana. Benar-benar tantangan sebelum masuk pesantren. Padahal kalau ingin yang mudah dan enak, ngapain juga harus susah-susah ke Gontor pake naik bus yang butut itu. O, ya aku ingat banget, supir busnya bernama Hutauruk. Supir satunya lagi aku lupa.

Sekitar pukul 07.00 pagi, berangkatlah bus yang berbeda menuju Ponorogo. Dari terminal Ponorogo kami naik L300 menuju desa Gontor yang letaknya sekitar 10 km dari kota.

Sesampai di bagian penerimaan tamu kami disambut hangat. Aku kemudian diantar ke asrama setelah sebelumnya membeli perlengkapan seperti lemari, kasur, sajadah, dll. Di Gontor tidak ada dipan atau bed. Santri tidur hanya beralaskan kasur mini di lantai. Satu ruangan kelas bisa menampung sekitar 30 orang yang disusun seperti kembung rebus. Di sana terletak lemari yang masing-masing dimiliki oleh satu orang. Tidak boleh lebih.

Berhubung masih bulan Ramadhan, aku harus mempersiapkan diri untuk tes masuk yang akan diadakan di bulan Syawal. Maka, tiap hari aku belajar dari kakak kelas 6 (3 SMA) yang masih berada di pondok dan tidak pulang kampung. Mereka menjadi panitia bulan Ramadhan dan bulan Syawal .

Iklan

15 tanggapan untuk “Mengapa Masuk Pesantren?

  1. Hhh… Ternyata susah juga ya perjuangan anak-anak luar Jawa pas mau ke pondok. Anehnya tuh, mereka terkenal gara-gara kebandelannya. Saya pernah sekamar dengan anak Jambi, 8 orang. Kayaknya masih sekampungan mereka itu. Golatznya minta ampuun dan kemana-mana selalu bergerombol. Pas ada larangan kumpul satu konsul dan tidak boleh lebih dari 3 orang, barulah mereka terpecah. Tapi, pas ada kesempatan kumpul lagi dan saya menyaksikan mereka, ketuanya malah ngancam. Awas kamu kalo lapor. Hhhh.. Ya, takutlah awak jadinya. Cuma memang pondok itu punya seleksi alamiah. bukan yang paling sangar yang bisa bertahan, tapi yang paling mampu menyesuaikan diri. Kalau saya tidak salah, dari 8 orang itu, hanya 2 – 3 yang berhasil sampai akhir. Itupun, menunggak kelas 2 -3 tahun. Sisanya, entah pergi kemana mereka. Tapi asyik juga nih menggali memori masa lalu. Sudah bertahun-tahun ya? Untungnya juga gak tersimpan di hardisk atawa cd! 😀

    Wah, syirir jiddan mereka. Beraninya rombongan. Alhamdulillah saya dulu jarang bergerombol dengan konusl. Btw, kalau ceritanya cukup menarik, saya akan teruskan nih…

  2. Bang …
    Mau tau persepsi saya mengenai Gontor dari dulu sampai sekarang …

    “INTELEKTUAL … MODERN … DAN ISLAMI …”

    Hanya itulah yang ada didalam kepala saya …
    Dan sepertinya aku tidak melihat adanya persepsi bahwa masuk pesantren itu karena nakal …
    Kalo Pesantren Abah Anom … nah itu mungkin …

    Eniwei .. This is Nice Bang ..
    Apa lagi abang cerita bahwa abang masih punya catatan kecil jaman MTs …
    Hahaha
    Sama kita bang …
    Aku juga masih menyimpan Diaryku … ketika aku masih SMP … 1979
    hehehe

    Wah, baguslah kalau persepsinya seperti itu, Bos.
    Btw, catatanku itu bukan sejenis diary, Bos, tetapi seperti buku pintar mini. Di sana ada ibu kota negara, ringkasan sejarah Indonesia, ringkasan rumus matematika, dsb. Pokoknya, dengan baca ringkasan ini, aku banyak tahu tentang pengetahuan umum

  3. Semoga cita-citanya jadi Ulama tercapai…

    Pandangan orang terhadap pesantren tempat anak-anak nakal atau bodoh, itu sangat salah.

    Orang tua yang mempunyai pemikiran seperti itu, perlu dicuci otaknya.
    Meskipun faktanya, emang banyak anak yang nakal dan bodoh yg dimasukkan ke pesantren.

    Jika dicermati, artinya pendidikan Pesantren itu justru merupakan pendidikan yg sangat sempurna..

    Lah, bayangkan. Anak yg nakal dan bodoh aja bisa dididik menjadi anak yang baik dan pintar…

    Bagaimana jika anak yang dimasukkan ke pesantren tersebut emang dasarnya pintar dan baik… Uhhh, ngak tahu deh… Jabatan Menteri, Dubes DSB pasti dipegang oleh alumni Pondok Pesantren semua…

    Salam Kenal

  4. Dulu barangkali frame seperti itu memang tercipta. Namun sejalan perkembangan pemikiran, wawasan, serta pendidikan, rasanya pesantren mulai lebih punya image yang lebih luas dan bergengsi.

    Kecuali pesantren-pesanstre yang masih berbasis tradisional ya…

  5. Dulu waktu kecil, emang ada persepsi pesantren yang abang ceritakan. tapi beranjak dewasa, SMP lah kira-kira saya mulai memahami pesantren itu apa.. ternyata orang-orang yang masuk pesantren orang-orang brilian.. salah satu teman kita (mang kumlod) juga kalo nggak salah pernah pesantren.
    Setuju dengan on NH.. “INTELEKTUAL … MODERN … DAN ISLAMI …”

    Mudah2an demikianlah adanya dengan image pesantren..

  6. Hai bang…, ceritanya seru, bak baca novel, cuba dibikin agak2 hiperbolik tuh pas situasi dalam bis yg menyiksa itu…

    Oya yg mirip kos2an itu saya melakukannya Bang. Seru!
    Kalau asrama (kobong) itu ternyata di mana2 sama yak… Tapi ga tau deh sekarang udah maju kali…

    Ternyata motipasi masuk pesantren beda2, termasup diriku. Nanti deh aku ceritain setelah selesai liburan ngeblognya…

    Karena masih bersambung, jadi belum bisa berkomentar Bang…. (lah ini mangnya bukan komentar?)

  7. ehm… jadi juga nih membuka lembaran ini… 🙂
    aku tungguin episode paling akhir deh, keknya itu paling seru, hehe…

    masuk pesantren = kuno? itu mah duluuuu kali… kalau sekarang, justru jadi kebanggaan bisa bersekolah di pesantren, terutama yg “borju”…

    jujur, harus ku akui, gontor sangat memberi kontribusi besar dalam merubah paradigma masyarakat soal pesantren. berbagai pesantren “borju” yg berkembang sekarang, aku yakin, sangat terinspirasi dari gontor… alaisa kadzalik yaa akhi…? (masih ngerti kan?) 🙂

    Pelan2 dibuka Bro biar penasaran…He he…
    Thob’an fahimtu jiddan ya akhi…

  8. Ah..

    Sedikit demi sedikit catatannya dibuka nih.. 🙂
    Tahu nggak sih, Bang.. waktu aku baca ini, seperti baca novel Laskar Pelangi! Sangat detil, deskriptif, dan seperti yang dibilang Mang Kumlod, coba kalau rada hiperbolis sedikit… ugh, pasti jadi novel yang bisa diangkat menjadi layar lebar nih! 😀

    Bercita-cita jadi Atlit, Bang?
    Kalau Ulama, bukankah Abang sekarang sudah jadi ulama… mengajari kami-kami yang tidak semengerti Abang? Mungkin tidak menggunakan atribut macam-macam, tapi dengan berkemeja rapih dan celana panjang, Abang tetap bisa mengajari aku seperti layaknya seorang Ulama… ^_^

    Aku tunggu cerita selanjutnya ya, Bang.. Kayaknya masih bersambung ya…

    Nah, buat hiperbolisnya ini aku yang kurang ya La…Harus belajar lagi nih sama Andrea…
    Jadi semangat nih ngelanjutinnya…

  9. Bro, sebuah catatan yang menarik sekali. sebagai anak sumatera yg juga ke gontor, aku benar-benar merasakan perjuangan ini. kalau ente naik ALS, aku naik ANS dari bukittinggi. Kalau ente kena longsor, aku kena pecah ban 2 kali:) walau menderita, tapi enak dikenang lagi ya….

    ini potongan catatan hiperbolaku tentang perjalanan ke Jawa. Rencananya akan jadi bagian dari novel yg sedang ditulis.:
    “Aku diantar ayah ke Jawa. Ini pengalaman pertamaku keluar dari jauh dari kampungku di pinggir Danau Maninjau. Bus yang bertuliskan Super Executive Full AC dan Video ini adalah kendaraan terbesar yang pernah aku naiki seumur hidup. Bus dipenuhi aroma pengharum ruangan yang disemprotkan dengan obral oleh kenek.

    Jendelanya besar-besar. Di bagian belakang, pas berhadapan dengan pintu paling belakang ada wc kecil, untuk menyelamatkan penumpang yang tidak mampu bertahan sebelum pemberhentian selanjutnya. Di belakang baris tempat duduk terakhir, langsung berbatasan dengan kaca belakang, ada sebidang tempat berukuran satu badan manusia dewasa, lengkap dengan bantal bluwak dan selimut tua. Kenek bilang ini kamar pilot. Setiap 8 jam, dua supir kami bergiliran mengambil waktu untuk tidur.

    Supir yang bertubuh legam, berpostur tambun dan berkumis subur melintang, tampak duduk dengan penuh otoritas di belakang kemudi. Kacamata hitam berpigura keemasan terpasang gagah. Di atas saku baju nya ada emblem biru bertuliskan namanya, “Muncak”. Pak etek Muncak aku memanggil dia, karena dia adalah adik sepupu jauh Ayah.

    Begitu mesin mobil berderum, tangan kirinya yang berlilit akar bahar menjangkau laci di atas kepalanya, tampak disana tumpukan kaset-kaset video beta. Hap, asal pegang, dia berhasil menarik sebuah kaset dari tumpukan, di bawanya ke depan kemudi, sambil membaca judulnya.

    Aku bersorak dalam hati dan untuk sementara gundahku terlupakan. TV adalah kemewahan di kampungku, apalagi pemutar video, yang bahkan tidak pernah ada dalam angan-angan kami. Dibenamkannya kaset itu ke player, dan segera muncul judul film, Rambo: The First Blood Part II. Bus melaju makin kencang, sementara Rambo sibuk berkejar-kejaran dengan pasukan Vietnam…..

    Doakan lah segera selesai cerita kita ini…

    Memang kenangan pahit jadi indah dikenang lagi.
    Btw, cepat selesaikan novelmu itu, bro…

  10. wah mengesankan sekali
    ternyata perjuangannya tidak segampang yang dibayangkan
    mudah-mudahan sesuai dengan yang diharapkan
    man jadda wajada

  11. membaca tulisan ini kok saya jadi menghela nafas panjang, apalagi saat menggambarkan persinggahan yang terakhir. weeh….
    cerita perjalanan hidupnya bagus nih mas. coba dibikin novel kayak andrea, kayaknya oke tuh. ku tunggu lanjutannya ya… 😀

  12. Bagus. Bagus. Saya juga tidak pernah sekolah bernuansa agama. Tapi kemudian saya belajar dan belajar dari mesjid ke mesjid, sekarang saya sudah nampak seperti tamatan pesantren. Bahkan sekarang saya sudah berhasil menerbitkan sebuah buku bernuansa agama. Judulnya 40 Hari Di Tanah Suci.
    Buku yang sangat cocok sebagai tambahan pengetahuan buat calon jemaah haji Indonesia. Buku 40 Hari Di Tanah Suci.
    sudah bisa didapatkan di Jakarta, Medan, Padang, Bukit Tinggi, P. Sidempuan. Salam dari penulis buku 40 Hari Di Tanah Suci.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s