Abu Naum

Saat itu, waktu lohor di wilayah sekitar Ponorogo telah tiba. Jam pelajaran terakhir sedang berlangsung. Pondok Gontor memang punya dunianya sendiri, sehingga azan lohor berkumandang hampir satu jam lebih lambat. Demi pendidikan, waktu lohor sah-sah saja dimundurkan sedikit. Toh masih pada waktunya.

Sleeping Baby, not Abu Naum
Sleeping Baby, not Abu Naum

Tiba-tiba sang guru menegur,”Qum ya akhi” (Mas-mas, bangun, Mas!).

Rupanya beberapa santri terlalu lelah untuk menahan turunnya kelopak mata mereka. Bukannya mereka sengaja melecehkan sang guru yang dipanggil ustad ini, tetapi oksigen di darah mereka tidak mampu menopang energi yang membuat mata mereka tetap terjaga.

Untunglah sang ustad biasanya cukup toleran. Tidak ada yang dipukul atau dibentak. Ini mengingatkanku pada sebuah postingan di blog sebelah (lupa link-nya) bahwa anak sekolah di Jepang dijamin undang-undang untuk tidur di kelas. Ehm…nikmat benerrr….

Santri yang sering tidur di kelas ini biasanya orangnya dia-dia juga sehingga mereka dijuluki sebagai ABU NAUM. Abu artinya bapak, sama dengan abu pada Abu Bakar, Abu Nawas, dsb. Naum artinya, tidur. Jadi, abu naum artinya bapak tidur alias tukang tidur. Menurut struktur bahasa Arab istilah ini sebenarnya kurang tepat. Tetapi karena telah diwariskan turun-temurun di Gontor, istilah ini tetap abadi. Mungkin sampai sekarang.

Perlu diketahui bahwa di Gontor, waktu tidur resmi santri dari pukul 10.00 s/d 04.00. Jadi, hanya sekitar 6 jam. Bagi sebagian santri, 6 jam kurang mencukupi, termasuk saya. Untuk menyiasatinya biasanya menggunakan setiap kesempatan untuk tidur. Tidak jarang, saat antri di kamar mandi, ada saja santri yang tidur sambil berdiri. Apalagi, saat menjelang salat magrib di mesjid.

Setengah hingga satu jam menjelang magrib santri wajib hadir di mesjid dan membaca Alquran. Momen ini juga digunakan beberapa santri untuk tidur. Bahkan tak jarang banyak yang ngiler. Ih jorok…Tapi jangan khawatir. Menjelang adzan ada bagian pengajaran yang membangunkan santri yang tidur agar mereka bisa berwudhu kembali.

Tahun pertama nyantri saya mengikuti kursus menjilid buku. Setelah pintar menjilid, saya menggabungkan semua buku menjadi satu sehingga tebalnya menyerupai bantal atau kira-kira setebal Webster New World Dictionary. Pokoknya tidur di atas buku ini sangat nyaman. Walau keras dikit, yang penting ilmunya masuk. Halah.

Kitaabun, kitaabaani, wisaadatun. Satu buku, dua buku, bantal. Harusnya kitaabun, kitaabaani, kutubun.

Buku tebal ini selalu saya bawa setiap hari. Jika ada kesempatan selalu saya manfaatkan. Tak jarang, saat break selama setengah jam, buku tebal ini menjadi senjata andalan saya. Kalau lagi malas jajan atau tak ada uang untuk jajan karena kiriman wesel belum datang, buku tebal ini menjadi teman setia.

Seorang teman ada yang setiap hari tidur di kelas, tetapi nilainya tetap bagus. Mungkin sambil tidur gelombang otaknya malah lebih leluasa menyerap informasi. Jadi teringat mantan presiden kita yang juga suka tidur di mana saja. Ajaibnya, saat ditanya, dia bisa langsung menjawab dengan benar.

Sampai sekarang, saya paling mudah tidur. Di pesawat, di kereta, di kapal, di bus, di motor sekalipun (kalau dibonceng) saya bisa tidur. Bahkan, saat mendengarkan khutbah Jumat, saya sering tertidur, terutama kalau materi khutbahnya kurang menarik.

Intinya, saat ada waktu luang, saya bisa tidur di mana saja. Kurang tahu juga apakah ini karena kurang olah raga atau darahnya kurang oksigen. Yang pasti, setiap nyampe rumah, duduk sebentar, langsung glek…masuk ke alam mimpi. Menurut seorang penganjur kebahagiaan, jika kau bisa makan enak dan tidur nyenyak, berarti kau telah memiliki salah satu unsur kebahagiaan.

Alhamdulillah, saya diberi kenikmatan tidur dan kenikmatan makan. Mau apa lagi? Bersyukurlah….

Iklan

12 tanggapan untuk “Abu Naum

  1. hahahaha
    intinya mau cerita abang bisa tidur di mana saja gitu?

    Sama dong…. tapi tempat yang paling nikmat memang di mobil, jika tidak sedang menyetir. Lalu kenapa insomnia?
    Karena saya baru ke tempat tidur jika sudah mengantuk. Kalau belum, lebih baik kerjakan yang lain. Selain itu karena tanggung jawab untuk menjaga dua nyawa….. sehingga membuat saya tidak bisa tidur meskipun ingin.

    EM

  2. Hebat nih si Abang, pelor juga…
    Akhir2 ini, gw suka tidur di kursi kubikal… duh padahal jam tidur udah poll. Kebiasaan ini mah…
    Jangan2 saya jadi Abu Naum juga. ๐Ÿ˜€ tapi ga punya buku bantal…

  3. wahhh….kalau saya sebaliknya
    naik KA malam dari Medan
    ke Rantauprapat saja, sy tak bs tidur
    mudah tidur, mungkin krn tak ada beban hidup mengganjal
    syukran katsir ya Abu Naum
    ๐Ÿ™‚

  4. biarlah abu naum, ketimbang abu akul (tukang makan)
    tapi biasanya, abu akul pasti abu naum ya, hehehe…

    dirimu memang sangat berbahagia bro; bisa makan enak dan tidur nyenyak..
    sementara banyak orang yg sulit sekali makan dg enaknya atau tidur dg nyenyak, padahal di hadapannya tersedia makanan yg luar biasa enak dan tempat tidur yg sangat nyaman… aku berbahagia atas kebahagiaanmu itu…

    btw, yg ente bilang tukang tidur tapi tetap jadi juara itu bukannya dirimu sendiri…? hehehe… ๐Ÿ™‚

    bukan bro…
    kalau gue baru abu naum kelas menengah.
    kalau abu naum yang kelas berat ada satu teman kita.
    ente tahulah siapa dia…
    he he…

  5. HUahahaha … si Abang ini ada-ada saja ..

    So jilid bukunya … lebih baik pakai …
    Soft Cover Bang …
    Lebih empuk jadinya …

    Eniwei bener banget …
    Alhamdulillah, saya diberi kenikmatan tidur dan kenikmatan makan …
    Mau apa lagi coba …
    Kita harus bersyukur …

    Salam Saya
    NH18

    Masalahnya, karena dulu belajarnya menjildi hard cover, jadinya keras banget. Meskipun begitu, teteup asyik tidur di atasnya.
    He he he…

  6. lihat koment Uda Vizon …
    “yg ente bilang tukang tidur tapi tetap jadi juara itu bukannya dirimu sendiriโ€ฆ? hehehe”

    HUahahha … tambah ngakak aku …

    sumpah bos, bukan saya bos…
    uda vizon ini pake buka rahasia orang.
    hi hi…

  7. Jadi sebetulnya yang disebut Abu Naun itu siapa, Bang? Tetap teman Bang Hery kan? Huehehe.

    Jika kau bisa makan enak dan tidur nyenyak, berarti kau telah memiliki salah satu unsur kebahagiaan.

    Wah, sepertinya aku belum bahagia. Hihihi.
    Thanx Bang Hery, cerita ini punya nilai tersendiri ketika kubaca.

  8. Aduh…
    Tidur enam jam itu sudah sangat cukup… Aku sekarang cuman tidur tiga jam sehari, Bang…. wajahku berubah jadi mirip Panda karena lingkar hitamnya mulai keliatan jelas…

    Eh, btw..
    Bawa buku kemana-mana?
    Enakan juga sampulnya seolah buku, tapi dalamnya kapuk, gitu?
    hehehehe…

  9. Wah jadi inget dgn teman seangkatn n sekonsul, orgx seganteng namax YUSUF, tukang tidur juga,bahkan gelarnya lebh dahsyat dri abu naum yaitu BELER,tp yg aneh kelas dia gak pernah turun dari C padahal dkelas gk pernah melek dr jam pertama sampe selesai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s