Jepitan Kepiting

Jangan anggap remeh dengan kepiting. Meskipun sudah bertengger di super market dan diikat dengan tali rapia, kita sebagai pembeli kudu tetap waspada. Keteledoran saya dengan kepiting telah membuat jari manis saya bersimbah darah (idih hiperbolis buanget deh, nggak gitu-gitu amat kok).

crabrecipespage

Hari Sabtu lalu, saya kebetulan ada di Bandung, setelah melarikan diri dari pemilu legislatif. Karena istri saya dan ipar saya doyan kepiting, saya pun membeli dua ekor kepiting di sebuah super market. Tak lupa juga udang jerbung dan seekor ikan bawal ukuran sedang.

Setiba di rumah saya langsung bergerak di dapur. Ikan bawal terlebih dulu saya goreng setelah digarami dan disiram dengan jeruk nipis segar. Sambil menunggu ikan matang, saya mulai membuka kepiting. Karena menganggapnya sudah mati, dan lagipula terikat dengan tali rapia, saya kurang waspada. Saat berupaya mengeluarkan kepiting dari plastiknya, tiba-tiba terasa tusukan di jari manis kanan saya. Saya terkejut bukan kepalang. Darah menetes deras. Saya langsung mencuci jari tersebut sambil berteriak ke istri untuk diambilkan betadin dan plaster.

Rupanya, kepiting yang saya beli di super market belum mati. Meskipun diikat, dia masih bisa menggerakkan capitnya yang tajam. Dengan sedikit manuver, dia berhasil mencederai saya, makhluk yang akan menyantapnya. Di saat-saat akhir hayatnya, sang kepiting berupaya untuk memberikan perlawanan terakhir. “Biarlah aku mati, asalkan aku dapat memberikan pelajaran kepada orang yang membunuhku”, barangkali demikian yang terucap di mulut sang kepiting.

Pasca pemilu yang administrasinya paling kacau ini, partai-partai yang kalah rupanya mengikuti siasat sang kepiting. Meskipun sudah nyata kalah, mereka tetap berupaya untuk melancarkan serangan terakhir. Maka, direkayasalah berbagai macam pertemuan atas nama apa saja, bisa pernyataan bersama, penjajagan koalisi, dsb.

Melihat hal ini, tentu saja partai pemenang pemilu kudu waspada. Jangan sampai, sudah PD bakal menjadi pemenang, ternyata bisa dijepit oleh partai kecil.

Menarik mendengar curhat supir taksi yang saya tumpangi pada suatu malam. Supir taksi tadi kecewa karena dia dan beberapa temannya tidak bisa memilih karena tidak terdaftar pada DPT. Padahal, tahun 2004 lalu dia bisa memilih. Supir ini tampaknya sangat menyesal tidak bisa memilih, padahal saya yang tidak memilih cuek saja.

“Kita kan ingin merasakan bagaimana nikmatnya memilih, Mas. Itu kan hak kita sebagai warga negara”, kata supir taksi tadi. Saya kok jadi tertohok.

“Jadi sampeyan milih apa pengennya?” pancing saya.

“Ya, milih partai yang sedang jadi idola”, kata supir taksi tanpa perlu menyebutkan nama partainya.

Melihat hal ini saya kok berkesimpulan bahwa bukan partai yang kalah saja yang terkena dampak kekisruhan DPT, tapi juga partai pemenang. Jadi, cukuplah sudah mobilisasi ketidakpuasan itu. Toh semua partai mengalaminya. Dengan segala ketidaksempurnaannya, kita semua harus menerima apapun hasil pemilu legislatif ini. Berikutnya, DPS untuk Pilpres harus disempurnakan lagi sehingga tidak ada lagi hak warga yang hilang.

Iklan

13 tanggapan untuk “Jepitan Kepiting

  1. Mas Azwan…. Jepitan kepiting tuh mungkin isyarat : 1.Nanti klo PilPres mas Azwan harus ikut milih. 2.Si kepiting mau usul kalo model yg efektif untuk memilih adalah Mencoblos. Lebih enak buat panitia di TPS untuk mreksa. kemarin sempat ada dasi merah caleg dikira contrengan… pas dibolak balik ternyata ga ada contrengan sama sekali. alias buka lipatan…tutup lipatan…masukin ke kotak. wuiiih jadi nglatnur. BTW selesai rakooor lsg bikin coretan lg nih. ga istirahat po?

    Mas Tugy…
    Kayaknya benar juga isyarat dari sang kepiting yang diutus oleh Sang Khalik. He he…geer banget…
    Btw, kalau kembali mencoblos jadinya malah mundur dong…]
    Bagaimana kalau dengan sms aja…
    Kan setiap warga negara relatif sudah punya HP.
    Tapi pasti repot dan TRUST-nya akan rendah karena semua pihak pasti akan curiga.
    Bagaimana dengan via email?
    Sami mawon.
    Tampaknya maqom rakyat kita baru MENCOBLOS, belum beranjak dari situ.

  2. begitulah adatnya orang kalah bro… selalu mencari celah untuk tidak terlalu “malu” dg kekalahannya, dicari2 berbagai alasan untuk menciderai hasil akhir…

    pertanyaannya: apalah pada pemilu yg dulu juga tidak terjadi kecurangan? sama saja!

    melihat tindakan konyol orang2 yg merasa pintar mengatur negeri ini dg berbagai pertemuan, aku jadi punya sebuah kesimpulan: politik akan dg sangat mudah membuat dua sahabat bermusuhan dalam waktu singkat dan juga akan dg sangat mudah membuat dua musuh bersahabat dalam sekejap mata…

    btw, kepiting rebusnya enak gak? bagi2 dong…. hehehe… 🙂

    setuju bro…
    dalam politik tidak ada teman dan musuh yang abadi.
    yang ada cuma kepentingan yang abadi.
    btw, kepitingnya nggak direbus, tapi ditumis dengan saus ala Singapore.
    rasanya, lemak nian lah…
    onde mande…

  3. DPT … yang tidak komplit …

    Hmmm … anggap saja ini memakai mekanisme …
    “Sampling” … Responden dipilih secara Acak …

    Eniwei …
    Jurus Kepiting menjepit jari … bisa juga jadi ide tulisan ya …

    salam saya Bang

    Kadang2 terpikir juga oleh saya, untuk menghemat biaya pemilu, bagaimana jika tidak seluruh rakyat yang memilih, tetapi cukup diwakili oleh 10.000 orang atau bahkan 2.000 orang seperti pada Quick Count. Dengan penerapan sistem sampling yang sistematis, pasti bisa benar2 mewakili. Tetapi, legitimasinya pasti susah dibangun ya? Ya iyalah…
    Inilah pentingnya proses. Kalau yang dipentingkan hanya hasil, maka tak perlulah pemilu yang mahal itu, cukuplah quick count saja, atau pengambilan sampel seperti jamaknya sebuah survei.

  4. Kepiting Singapore…pedes…pake roti mantau…
    wah bener nih kayaknya kalo ke Jakarta kudu minta dimasakin Bang Hery.

    EM

    Kalau roti mantau-nya aku belum bisa buatnya dan nggak kepingin bisa. Belinya di mana ya? Btw, minta dimasakin? Pikir2 dulu deh, soalnya masih belajar, jadi belum PD nih…

  5. Kalo dipikir-pikir pemilu sebenarnya lebih seperti formalitas ya? Buktinya sudah bisa diprediksi dengan baik oleh quick count yg hanya didasarkan pada sampel (yg jumlahnya jauuh lebih sedikit dari jumlah populasi). Jadi kalaupun toh jumlah pemilih (populasi)bertambah karena DPT-nya bener toh hasilnya pasti nggak akan jauh dari yg sekarang … Betul nggak ?

    Lalu apa hubungannya dengan kepiting ya ?

    Benar, Pak. Bagaimana kalau kita usulkan, pemilu dihilangkan saja dan diganti dengan survei. Yang penting, pengambilan sampelnya benar2 diawasi. Jika perlu, yang melakukan lebih dari tiga lembaga survei sehingga ada perbandingan. Masalahnya, apa rakyat mau? Terus, nanti respondennya bisa disuap (money politic) karena biaya untuk suapnya akan lebih murah dibanding menyuap seluruh rakyat.

  6. usulan-usulan dari rakyat yang seperti disebutkan tadi, sudah sering diutarakan…tapi kan nggak pernah ditanggapi…mau tau alasannya?
    yaa..alasannya karena semua hal di Indonesia itu kan bisa dijadikan komoditi, so..hasil komoditi kan yaa duit…duitnya gedhe lagi…

    nah, model pemilu macam gini kan menghasilkan duit gedhe bagi para pemain yang ulung dan unggul…

    hati-hati lho mas, jika masak kepiting…hehehe…kalao sudah sipaa masakan kepitingnya, saya juga mau kok dikirimi… 😉

    Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,

    Wuryanano
    Motivational Blog – Support Your Success

    Entrepreneur Campus – Support Your Future

  7. Saya mendingan ngomongin soal kepiting aja, daripada urusan politik.

    Hmm …jadi diam2 bang Hery nih jagoan masak ya….kaan nih masak kepiting utnuk kita-kita?
    Saya juga suka kepiting, apalagi kepiting yang sudah dimasak dan siap dimeja makan…hahaha (alasan, memang ga bisa masak aja…)

  8. Seru nih, kepiting yang ga milih kok malah dilibatin politik… hahaha…
    Marah dia karena ga diundang KPPS buat nyontreng…

    Kalau cuman survey aja ga bisa Bang. Soalnya entar dana APBN banyak ga kepake, numpuk, nanti dikirinya pemerintah ga kerja soalnya APBN bersisa banyak…

  9. Ping-balik: surauinyiak
  10. Terima kasih mas atas tulisannya
    jadi mengingatkan saya pada nasehat sobat pilipin
    waktu masih lajang dulu
    sering ngalarang saya makan kepiting
    kata dia
    KEPITING lebih dahsta dari VIAGRA
    apalagi kalao kepiting betina
    ……..
    karena inget
    ane cabut dulu…….mo nyare kepiting di C4
    nuhun….kado bwt istri..

  11. Tepat sekale…… ! Memang elite politik kita seperti kepiting yg artinya ( ngepit sambil miting), Kepiting klo di kumpulkan dalam satu keranjang, setiap ada kepiting lain yang mau naik keatas dengan kepitaanya menarik temannya kembali kebawah.
    Demikian juga elite politik kita tidak senang bila ada teman yang mau naik
    diatas selalu berusaha dengan segala cara untuk menarik kebawah.
    kapan berubahnya ya……………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s