Penulis Pidato

Pidato Obama di Kairo beberapa waktu lalu memperoleh sambutan yang luar biasa dari media. Di depan audiens yang sebagian besar terdiri dari umat Islam, Obama mengutip salah satu ayat Alquran yang sering dibacakan dalam ritual pernikahan di Indonesia, yaitu”O mankind! We have created you male and a female; and we have made you into nations and tribes so that you may know one another.” “Hai manusia, sesungguhnya telah kami ciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu bebangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal”.

Inti dari pidato Obama di Kairo ini adalah mengajak kaum muslimin untuk membina dunia baru yang damai dan menghilangkan ketegangan hubungan dan penuh kecurigaan yang selama ini berlangsung. Orang Barat tidak lagi mencurigai umat Islam sebagai biang kerok teroris, sebaliknya orang Islam tidak lagi mencurigai Barat, yang direpresentasikan oleh Amerika, sebagai axis of devil atau poros setan.

Setiap pidato yang bagus tidak bisa dilepaskan dari penulis pidato. Di Indonesia, profesi penulis pidato relatif sepi dari popularitas, karena itu tak heran profesinya juga disebut Ghost Writer atau penulis bayangan. Siapa juga yang bisa melihat hantu?

Di Amerika Serikat, profesi penulis pidato lebih diapresiasi sehingga publik bisa mengetahui siapa penulis pidato. Akibatnya profesi penulis pidato pun bisa juga terkenal. Contohnya saja, penulis pidato Obama di Kairo adalah seorang muda bernama Ben Rhodes (ini pasti masih keturunan orang Jawa, menyerupai Ben Wasis, Ben Mari, he he…) yang berusia 31 tahun. Dia sekaligus juga penasehat Obama dalam kebijakan luar negeri. Media Amerika menampilkan profil penulis pidato presiden mereka dan mengapresiasinya. Salah satu pidato yang juga sangat diapresiasi adalah pidato Obama pada saat pelantikannya menjadi presiden.

Di Indonesia, tidak banyak yang tahu siapa penulis pidato presiden. Mungkin karena berhubungan dengan kerhasiaan negara. Yang paling terkenal mungkin Yusril Ihza Mahendra yang pernah menjadi penulis Presiden Soeharto. Itupun diketahui publik setelah kejatuhan Soeharto. Setelah drama kejatuhan Soeharto yang menjadi awal era reformasi, Yusril membuat partai sendiri. Selanjutnya dia menjadi menteri di kabinet Gusdur, Mega dan SBY. Jadi, penulis pidato bisa juga jadi batu loncatan untuk menjadi pejabat publik.

Presiden SBY termasuk pejabat yang senang mempersiapkan pidato dengan baik dan detil. Kurang jelas benar siapa yang ada di belakangnya. Yang publik tahu barangkali jika SBY menulis dalam bahasa Inggris untuk konsumsi luar negeri, Dino Patti Jalal yang akan bertindak sebagai penulis pidato. Adapun untuk acara di dalam negeri sepertinya kurang jelas. Andi Mallarangeng kah? Bisa ya bisa tidak.

Meskipun demikian tidak semua pejabat senang membaca teks pidato. Wakil Presiden Jusuf Kalla termasuk pejabat yang jarang membaca teks dalam pidatonya. Meskipun telah dipersiapkan oleh stafnya, JK tidak pernah membaca teksnya. Di saat pejabat lain memberikan kata sambutan, biasanya JK mencoret-coret inti pembicaraan mereka. Jadi, ketika JK berpidato isinya sangat kontekstual karena dia langsung menanggapi pidato sebelumnya. Dari sini memang kelihatan kecepatan reaksi JK sehingga wajarlah dia berslogan, Lebih Cepat Lebih Baik.

Seorang penulis pidato Mendiknas menceritakan pengalamannya menjadi penulis pidato tiga orang mendiknas zaman baheula. Menurutnya ada tiga tipe menteri. Tipe pertama, sang meneteri menulis pidatonya sendiri kemudian memerintahkan sang penulis pidato untuk mengoreksinya. Biasanya ini dilakukan oleh menteri yang berlatarbelakang intelektual yang sangat kental.

Tipe kedua, sang menteri memberi arahan garis besar, kemudian menyuruh penulis pidato untuk menguraikannya secara lebih mendalam. Ini merupakan tipe menteri yang mampu memberikan delegasi.

Tipe ketiga, sang menteri membebaskan penulis pidato untuk menulis apa saja sesuai pengetahuannya. Ini mungkin tipe menteri yang cuek atau terlalu percaya dengan anak buah. Pada suatu hari seorang menteri akan berpidato pada sebuah acara. Setelah tampil ke mimbar dia membuka teks yang telah dipersiapkan. Setelah dibaca, baru sang menteri mencurigai ada kejanggalan pada teks pidatonya. Sang menteri secara refleks menggumam, “Wah ini Si Joko (bukan nama aslinya) salah tulis nih…”. Gemparlah seluruh ruangan dengan gelak tawa.

Rupanya, hari itu ada dua acara, sehingga ada dua teks yang dipersiapkan. Sang menteri ternyata salah ambil teks dari saku bajunya. Harusnya, teks untuk acara tersebut ada di saku sebelah kiri, sementara sang menteri mengambil teks yang di saku sebelah kanan.

Pengalaman saya menulis teks pidato dimulai dari kantor tempat saya bekerja. Pada acara ulang tahun perusahaan sekaligus perayaan tujuhbelasan, atasan saya meminta saya menulis pidato untuk presiden direktur sekaligus owner perusahaan kami. Biasanya saya akan menulis saja sesuai apa yang ada di benak saya, baru kemudian atasan mengoreksi sedikit apa yang perlu dan tidak perlu disampaikan.

Selain di perusahaan, saya juga menulis sambutan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada buku katalog pameran buku sejak tahun 2006, mulai dari Indonesia Book Fair, Pesta Buku Jakarta, Pameran Buku Bandung, Solo Book Fair, Jogja Book Fair, Islamic Book Fair. Biasanya, sambutan ini dibacakan pada acara pembukaan, tapi sering juga sang ketua berkreasi sesuai kondisi lapangan. Saya juga menulis country report yang dibacakan oleh delegasi Ikapi pada Annual Meeting organisasi penerbit buku ASEAN dan Asia.

Pengalaman tertinggi saya adalah saat menulis pidato untuk Mendiknas Bambang Soedibyo pada pembukaan Indonesia Bookfair 2007. Alhamdulillah, dia berpidato sesuai dengan teks yang saya tulis. Bagi seorang penulis pidato, kebahagiaan tertinggi adalah ketika teksnya dibaca dan dikeprokin oleh para hadirin. Wah, jadi riya nih…

Memang, pidato tidak dapat mengubah keadaan dalam seketika. Tetapi, pidato bisa menjadi pembuka jalan bagi setiap hubungan kemanusiaan.

Jadi, kalau anda adalah pejabat dan tidak punya waktu untuk membuat pidato, hubungi saya. Oke? Lho kok malah promosi???

Iklan

14 tanggapan untuk “Penulis Pidato

  1. hahahah
    OKOKOK bang, nanti aku akan hubungi abang…. Tunggu aku jadi pejabat dulu ya…

    Bang, bapakku juga ghost writer tuh, terutama untuk bahasa Inggris di bidangnya (kantor awalnya). Dan memang bangga (katanya) jika naskah pidato yang dia buat itu dibaca plek oleh pejabatnya, meskipun tanggung jawabnya besar banget.

    EM

    iya deh, aku doain jadi menteri peranan wanita di kabinet jepang bersatu. he he…

  2. Weh si Abang punya keahlian lain nih. Kalau yang bikin pidatonya Soekarno siapa ya? Saking hebatnya, konon katanya, setelah pidato banyak orang yang bersorak dan lari-lari ga pake celana a.k.a bugil (ada kata bugil nanti yg search “bugil” bisa nyasar kemari). Setelah diselidiki ternyata mereka anak-anak… 😀

    Temenku juga ada yg kerjaannya gost writer, Bang. Dia harus menyelaraskan isi pidato dan tulisan di media atas nama bossnya biar ga ada yg kontradiktif dengan pidato/tulisan sebelum-sebelumnya.

  3. wew! pengalaman menarik tuh bro, bisa menuliskan pidato buat menteri. nanti kalau aku jadi presiden, pasti aku bakal angkat ente jadi gost writer-ku, hehehe… *ditimpuk pake buku satu kontainer*

  4. Wow ….
    Ah aku bangga dengan abang nih …
    Tulisannya memang selalu runtut …
    No wonder kalau piawai mengkonsep pidato …
    Untuk pak bambang sudibyo pula …

  5. Pernah ada kejadian yg sebenarnya, dalam satu acara ada 3 pejabat yg akan memberikan sambutan. Entah bagaimana ketiganya meminta orang yg sama untuk membuatkan pidatonya. Jadi, isi pidato ketiganya bisa sambung-menyambung secara pas, padahal mereka cuma baca saja (tidak improvisasi sama sekali) …

    Saya pernah jadi panitia kegiatan yg sifatnya internasional di kampus, pejabat yg kami minta untuk memberikan sambutan langsung minta saya untuk membuatkannya (dalam bahasa inggris) alasannya bias pas topiknya, padahal …

  6. Hehehe…kan memang biasanya bos minta dibuatkan pidato…tapi juga tergantung bosnya. Bos yang pintar dan menguasai masalah, akan memberikan outline apa yang akan disampaikan,
    Pidato yang dituliskan ini ada gunanya, karena nantinya bisa dibukukan, misalnya pada suatu seminar, maka setiap tulisan termasuk pidato akan menjadi dokumen yang dibukukan.

    Bang, berarti kapan-kapan saya bisa minta tolong ya….hehehe

  7. Teruslah berkarya boss…..ini ada satu pengalaman ketika saya dinas di daerah, dan menghadiri suatu undangan HUT Instansinya (?? tdk usah disebutkan)…pada saat Irup menyampaikan amanat (amanat MENTERI), pjbt di daerah hanya membacakan saja….. ttp amanat tsb terdiri berlembar2 kertas yg dibaca lebih dari 30 mnt, isiamanatnya BERPUTAR2 SPT OBAT NYAMUK, sangat Normatif dan membosankan, bahkan bbrp pasukan upc pd nggeremeng, dan cuek (IRUP tdk berani mengurangi)…masukan ini sbg bahan pembuatan pidato yad, apabila direlay ke daerah2.

    Terima kasih masukannya, Pak…Mudah2an pidato tidak muter2 lagi…

  8. Ketika pak harto yang militer mulai memimpin negara banyak yang meragukan kemampuannya salah satunya adalah ia berpidato selalu membaca teks pidato sementara presiden sebelumnya tidak pernah terlihat berpidato dengan teks, hampir dipastikan teksnya disiapkan oleh para sekretaris pribadinya, dan disitulah sekretaris bisa memasukan ide-idenya yang tidak mustahil tidak dikehendaki oleh sang presiden. Gaya obama yang lantang dan ceplas ceplos seperti juga halnya JK dan Habibi atau Sukarno model ini adalah model pemimpin masa depan yang komunikatif yang bisa mendengar suara orang lain tidak hanya sebagai pemimpin yang hanya ingin didengar dan tidak mau mendengar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s