Tina Talisa

Tina Talisa di Apa Kabar Indonesia Malam

Setahun terakhir, rasanya setiap pukul 21.00 WIB adalah milik Tina Talisa. Acara Apa Kabar Indonesia Malam yang dibawakannya selalu ditunggu-tunggu, tidak saja oleh pemirsa, tapi juga oleh nara sumber. Suatu kali, ada nara sumber seorang anggota DPR yang sedang sidang, rela dibajak hanya untuk diwawancara oleh Tina. Apa sih hebatnya dia?

Kalau dari perspektif saya sebagai pemirsa, Tina tidak sekadar cantik secara raga, tapi juga memancarkan kecerdasan. Sebuah perpaduan yang langka. Dari pertanyaannya yang spontan tanpa tedeng aling-aling, banyak nara sumber yang bertekuk lutut dan terlihat bodoh di depan kamera. Hanya politisi matang saja yang bisa menandingi kepiawaian Tina. Jika tidak siap dengan materi, tewaslah nara sumber “dibantai” Tina.

Jebakan pertanyaannya sangat menjurus. Ibarat perang, Tina berhasil mengepung pasukan lawan tanpa menyisakan celah untuk lolos.

Di masa awal penayangan AKI Malam, Tina juga unjuk kebolehan dengan bernyanyi diiringi piano. Suaranya lumayanlah.

Belakangan Tina memotivasi para narasumber untuk menyanyi, hingga puncaknya semua politisi memaksakan diri mereka untuk bernyanyi pada ulang tahun TVONe. Tentu saja sebagian besar hancur lebur…

Kemampuan Tina dalam berolah kata ini mengingatkan kita pada penyiar sebelumnya orbitan Karni Ilyas, yakni Ira Koesno dan Rossiana Silalahi. Tangan dingin Karni berhasil menempatkan Tina pada maqomnya. Padahal, sebelumnya di Trans TV, Tina hanyalah seorang reporter biasa yang jarang terlihat.

Di sini terlihat kemampuan seorang atasan seperti Karni Ilyas dalam menemukan mutiara terpendam dalam diri anak buahnya. Reporter biasa-biasa saja di tv lain bisa disulap menjadi penyiar nomor wahid di TVONe. Beginilah seorang pemimpin di organisasi manapun diharapkan mampu memberdayakan bawahannya dan menemukan kekuatan dahsyat pada diri anak buahnya untuk diledakkan.

Begitupun, ada kritik terhadap KI yang mulai terkenal dengan kartun Bang ONe ini. Kalau bisa, beliau tidaklah perlu tampil sendiri. Cukuplah anak asuhnya yang tampil. Mereka sudah cukup layak tampil dan menguasai materi dengan baik. Kalau KI yang muncul, bukannya tambah menarik, tapi penonton malah kabur. Artikulasi KI kurang jelas dan vokalnya tidak mikroponis sehingga pemirsa agak sulit mencerna ucapannya.

Sementara itu, di ajang Panasonic Gobel Award yang baru berakhir, ternyata nama Tina hanya berakhir sampai di nominee saja, kalah oleh Putra Nababan, Wapemred Seputar Indonesia, yang tertolong di last minute gara-gara berhasil memaksa Barrack Obama meneriakkan kata SATEEEEE…..

Kemenangan Putra ini menurut hemat saya sangat kontroversial. Hari gini, saya ragu kalau masyarakat masih menjadikan Seputar Indonesia sebagai referenci. Bukankah semua berita besar selalu identik dengan TVONe dan Metro TV? Sebut saja mulai dari penyergapan teroris hingga liputan bencana alam (banjir, gempa, dan tsunami).

SI menurut saya sudah lewat masanya. Hampir tidak ada inovasi pada acara ini sejak beberapa tahun yang lalu. Selain itu, penyiarnya juga selalu berganti-ganti setiap hari, tidak seperti AKI Malam di TVONE yang setiap malam rutin menampilkan penyiar yang sama. Dulu SI digilas Liputan 6 SCTV. Dan sekarang, rasanya era Apa Kabar Indonesia.

Dari sisi iklan juga sangat kontras. Seputar Indonesia hanya tayang setengah jam. Bandingkan AKI Malam yang tayang satu jam, bahkan lebih. Tentu saja secara proporsional iklan AKI Malam lebih banyak daripada SI. Jadi, secara komersial AKI Malam memang lebih unggul dari SI.

Di samping itu, ada yang aneh dengan calon yang masuk nominee. Ada nama Jeremy Teti di sana. Sepengetahuan saya, JT sudah jarang tampil, meski sekali-sekali muncul. Atas dasar apa kok dia bisa masuk nominee. Rasanya tidak ada yang istimewa. Mungkin iya jika JT jadi nominee saat masih ada di SCTV di era Karni Ilyas.

Kalau di acara lain non berita saya tidak mau komentar karena kurang banyak referensi (saya jarang nonton). Tapi secara sekilas, pelawak terfavorit harusnya jatuh ke tangan Sule, infotainment terfavorit harusnya ke Insert. Ini menurut saya lho. Bagaimana menurut Anda?

Iklan

13 tanggapan untuk “Tina Talisa

  1. Menurutku, Bang, itulah kekuatan SMS… 🙂

    Aku juga tidak setuju dengan Olga, juga Silet.
    Apalagi dengan Putra Nababan dan Seputar Indonesia-nya.

    Sungguh, SMS memang luar biasa. Duit, duit, duit, tuh… *mulai negative thinking.. hehehehe*

    Kritis boleh kan?

  2. Jujur ya Bang …
    Entah mengapa …
    Saya kok tidak begitu suka dengan Tina, atau Ira Koesno atau Rosiana Silalahi atau Achor-anchor news lainnya … (nggak laki … nggak perempuan …)

    Dan jika ditanya mengapa saya tidak suka ?
    saya susah untuk menjawabnya …

    Hehehe …

    Salam saya Bang …

    Ha ha….
    Ini karena Bos NH18 cinta damai.
    Secara anchor2 itu kan suka menyudutkan lawan.
    Ah, betapa lembutnya hatimu Bos…

  3. Bro, dari kemarin keknya berpihaknya ke TV-One terus… memang kalo urusan berita, apalagi yang berhubungan dengan kepolisian, tentu TV-One bisa leading. Kan KI punya posisi di police watch… (eh, benar gak sih ?), jadi bisa dapet bocoran berita dari kepolisian. Contoh paling vulgar, saat penggerebegan Dr. Azahari, groupnya Bang-One datang sebelum acara penggerebegan, sementara TV lain baru datang jauh setelah itu.

  4. acara-acara di kedua tv berita itu membosankan bro… kita menonton tv untuk mencari hiburan, dan sesekali melihat berita. isu-isu yang diulas secara berlebihan di kedua tv itu, terus terang, tidak memberikan hiburan sama sekali. yang ada hanyalah, kening kita tambah berkerut. makanya, jarang yang mem-vote kedua tv tersebut.

    soal tina…. yaaaaa gitu dech…! 🙂

    Bro ente bener…
    Gue hanya melihat dari perspektif gue yang pulang ke rumah paling cepat pukul 19. Kadang bisa sampe pukul 21.00. Di jam segitu, hanya TVONe dan Metro saja yang masih menayangkan berita. TV lainnya sinetron.
    Gue terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ternyata memang orang menonton tv untuk mencari hiburan. Jadi kalau ada berita pun yang ringan2 saja.
    Lama2 debat juga muak adanya.
    He he…

  5. pengalaman bang karni di ranah jurnalistik agaknya makin mempertajam nalurinya utk memermak reporter2 tv andal, mas azwan. saya juga suka tuh penampilan tina t. sugestif!

    mantap deh pak sawali. ternyata masih mengikuti juga perkembangan dunia tv kita.

  6. Maaf Bang…saya sependapat dengan om NH kali ini….
    Dan saya suka Putra Nababan..kalau wawancara terasa sejuk…

    Dan sudah beberapa bulan ini males lihat Metro dan TV one…kadang terasa menghakimi untuk hal yang belum pasti..jadinya lebih suka nonton AXN atau Star World…

    Selera orang beda2 kok Bu. No problemo…

  7. Tim Redaksi yang terhormat,
    Yth, Pengasuh Suara Anda

    “Kisruh” tentang keputusan mengenai Peraturan Menteri Keuangan,

    Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan No. 87/PMK.011/2011 tanggal 6 Juni 2011 Tentang Pengenaan Bea Masuk tindakan pengamanan terhadap Impor produk Benang kapas selain benang jahit (Cotton Yarn Other Than Sewing Thread), sebagai hasil usulan dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia ke WTO setelah diadakan penelitian.

    Dinilai oleh banyak kalangan pelaku bisnis adalah “SANGAT KELIRU”, karena dampaknya sangat besar bagi Perusahaan Industri Tekstil yang menggantungkan bahan bakunya dari benang kapas. Kita harus mengakui bahwa jika dibandingkan dengan negara China memang produk benang kapas ini jika kita lihat baik dalam masalah harga dan kualitas produk benang kapas produk dari China sangatlah jauh sekali dengan produk yang dihasilkan oleh produk lokal, maka konsequensinya otomatis – dengan sendirinya volume impor meningkat.

    Atas kekeliruan ini janganlah Pemerintah dengan serta merta mengeluarkan peraturan yang membebankan
    kesalahan ini kepada Pabrik2 tekstil lokal. Seharusnya intropeksilah kedalam bagaimana caranya mengembangkan dan meningkatkan mutu suatu produk dalam negeri agar mempunyai daya saing dengan Negara lain. Apalagi dalam penerapkan Peraturan ini dilaksanakan secara tiba2 dan mendadak yang diberlakukan mulai sejak tanggal 6 Juni 2011 tanpa adanya SOSIALISASI, PERTIMBANGAN, dan PERSETUJUAN dari semua pihak terlebih dahulu. Jadi janganlah hanya melibatkan pihak Asosiasi saja dalam memutuskan suatu peraturan karena saya yakin bahwa tidak semua pabrik2 tekstil di Indonesia menjadi anggota Assosiasi Tekstil Indonesia.

    Jika berlarut2 dibiarkan masalah ini sampai dengan ketentuannya selama 3 (tiga) tahun maka lihat saja jangankan sampai 3 (tiga) tahun beberapa bulan kemudianpun pabrik lokal maupun asing baik yang berstatus PMA, PMDN, maupun yang Non PMA dan PMDN akan banyak yang bangkrut sehingga terjadi PHK besar-besaran yang menimbulkan bertambah banyaknya pengangguran dan kemiskinan.

    Ini jelas pasti akan terjadi migrasi besar2an perusahaan PMA ke Negara lain, sehingga dengan sendirinya akan berdampak kepada perekonomian secara Nasional yaitu dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Bagaimana Prospek Ekonomi Makro Indonesia Tahun 2011 ? …
    Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6,0% pada tahun ini dan di perkirakan akan menurun
    dengan tajam…

    Dengan biaya tambahan tarif bea masuk sebesar Rp.40.687/Kg ini jelas merupakan suatu kebijakan “POLITIK DUMPING” dan sudah barang tentu dampaknya dirasakan sangat berat bagi Perusahaan yang sudah membuat proyeksi/kontrak kerjasama pembelian untuk mengimpor barang tersebut dari Negara China (suplayer) untuk tahun anggaran 2011 dan seterusnya. Beban biaya pengeluaran akan membengkak menjadi hampir 100%.

    Sebagai ilustrasi Pabrik A mengimpor benang kapas dengan volume 1,2 ton dengan harga pada Invoicenya sebesar USD9,814.99 atau (dengan rate USD1=Rp.8.549) setara dengan Rp. 83.908.349,- Bea Masuk dinyatakan bebas dengan C/O (Certificate of origin) From E pembebasan ini diberikan sebagai fasilitas dari Preferensi tarif importasi Asean-China (AFCTA).

    Apabila tanpa ada C/O maka tarif bea masuknya yang dikenakan sebagai dasar pengenaaan Bea Masuk digolongkan kedalam tarif umum (MFN) sebesar 5% dari harga (Rp.4.195.000).

    Namun dengan adanya Peraturan ini maka bea masuknya menjadi :

    1) Penambahan bea masuk = Rp. 48.824.400
    2) Tarif Bea Masuk 5% = Rp. 4.195.400
    3) Total Bea Masuk = Rp. 53.019.800
    4) PPN 10% = Rp. 8.810.000
    5) PPh Psl 22 Impor = Rp. 2.202.000
    6) Biaya yang harus dibyr = Rp. 64.031.800
    7) Harga Barang = Rp. 83.908.000
    8) Nilai Pajak Impor sebesar 77% dari harga pembeliannya.

    Oleh karenanya kami berharap agar kepada pihak Metro TV dan TV One agar masalah ini dapat dijadikan suatu
    “WACANA” penting, bahan diskusi secara marathon dan terarah dengan melibatkan banyak pihak terkait secara berkesinambungan sehingga Peraturan ini dapat Dicabut kembali karena ini demi menyelamatkan “HAJAT HIDUP” orang banyak, yaitu para kuli, tenaga kerja dan buruh karyawan pabrik tekstil yang ada di Negara ini.

    Demikian yang dapat kami sampaikan semoga dapat dipertimbangkan atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

    Hormat Saya,
    Arief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s