Wisata Kuliner Medan Jilid 2

Libur Jumat 2 April aku manfaatkan untuk pulang ke rumah ortu di Medan. Kebetulan istriku ada acara kantor di sana sejak hari Rabu, sehingga biaya perjalanan yang keluar hanya untukku seorang. Lumayanlah bisa irit.

Pesawat Batavia Air A330 yang membawaku berukuran cukup besar.  Kapasitasnya sekitar 320 penumpang. Di tiap baris ada 8 kursi. Di pinggir kanan ada 2 baris kursi, di pinggir kiri juga 2 baris, sementara di tengah ada 4 baris kursi.  Ada 2 gang yang membatasi tiap baris.

Meski masih pagi, rupanya budaya telat masih mewarnai maskapai swasta nasional ini. Sesuai jadwal pesawat berangkat pukul 07.00, tapi kenyataannya baru take off sekitar pukul 07.30. Kalau terlambat di penerbangan siang atau sore mungkin lebih bisa dimaklumi karena berhubungan dengan rute sebelumnya.

Sesampai di Medan sekitar pukul 09.45 aku sudah dijemput ayah, istriku Yuli, adikku Ika dan istrinya Ira serta Dea, Della dan Keyla, keponakanku yang masih orok dan menggemaskan. Target utama adalah warung soto. Kali ini yang dipilih ayahku adalah sebuah warung soto di jalan Riau (nggak ada mereknya). Menurut ayah, warung ini masih mewarisi rasa soto medan hakiki yang beliau kenal sejak muda.

Soto Medan

Sepanjang jalan menuju warung soto, semua sudut kota dipenuhi dengan poster calon walikota Medan yang katanya terdiri dari 10 pasang. Banyak sekali rupanya orang yang ge-er dan merasa dirinya pantas menjadi walikota. Hatta, uang bermilyar rupiah digelontorkan untuk membiayai kampanye. Konon, perlu belasan milyar untuk dana kampanye sehingga tidak heran jika sudah terpilih, maka sang walikota berupaya untuk mengembalikan modalnya.

Warung soto sasaran kami ini mangkal di gedung bercorak lama sisa zaman kolonial. Langit-langitnya relative tinggi sehingga meski tanpa AC tidak  akanmembuat kita gerah. Di etalase kami sudah disambut oleh penampakan udang, paha ayam dan potongan daging sapi goreng yang membuat air liur menetes. Hawa beraroma rempah menguap dari dandang kuah soto yang sedang diaduk oleh sang koki dengan pengalaman puluhan tahun.

Tanpa menunggu lama, kami memesan makanan. Aku dan istriku memesan soto udang, sementara ayah dan Dea memesan soto ayam. Ika memesan soto daging. Ira memesan soto paru. Della yang tidak doyan makan hanya mengambil sedikit porsi dari piring ayah.

Tak lama pesanan pun tiba. Aku langsung kalap menyantap soto udang setelah terlebih dulu memeras potongan jeruk nipis di atas mangkok. Mangkok soto Medan hampir mirip ukurannya dengan mangkok soto bangkong, yakni lebih mini dari ukuran mangkok soto pada umumnya atau mangkok bakso.

Cabe hijau yang sudah digiling dan dicampur dengan bawang goreng juga tak boleh dilupakan bagi yang gemar pedas. Bagi yang gemar kecap juga disediakan satu kecap asin dan satu kecap manis. Entah kenapa botol kecap di sini dikemas dalam botol Coca-Cola. O ya, biasanya soto medan lebih cocok diramu dengan kecap asin.

Belum apa-apa sudah datang nasi tamboh sehingga meja tampak penuh dengan nasi. Aku mengambil separuh nasi tamboh, dan separuh lagi buat istriku. Tambahan daging sapi goreng juga dipesan untuk mengimbangi nasi tamboh. Sampai kuah terakhir, kenikmatan soto medan terus aku buru. Tak ada waktu sekejap pun untuk rehat.

Soto medan sepintas mirip soto betawi, tetapi rasanya memang beda. Masing-masing punya kekhasan sendiri sesuai dengan selera yang menyantapnya. Entah bumbu apa yang membedakan aku kurang paham. Soto betawi biasanya disajikan dengan kentang dan tomat, sementara pada soto medan unsur kentang diwakili oleh pergedel, yakni adonan kentang giling yang digoreng bersama telur.

Persamaannya, keduanya menggunakan santan sebagai bahan dasar sehingga pada dasarnya tidak baik untuk kesehatan. Pada soto betawi, cengkeh terkadang masih terlihat utuh, sementara pada soto medan, semua bumbu sudah digerus habis sehingga tidak meninggalkan bentuk. Untuk sajian di rumah, biasanya soto medan disajikan bersama tauge.

Di setiap meja warung soto biasanya disediakan pisang warangan yang manisnya sangat aduhai. Sebagai penawar racun yang muncul dari santan, pisang ini merupakan menu yang kudu disantap. Kalau mau sensasi lebih hebat lagi, maka kita dapat memesan kopi hitam segelas yang disaring berulang dengan saringan sepanjang lengan. Kalau aku, cukuplah meminum teh manis, atau teh tong sehingga perut tidak terlalu bergejolak akibat didesak dengan menu-menu ekstrem.

Mie Rebus Mamang Ayep

Usai salat Jumat, sorenya kami berburu mie rebus kuah sate di ujung Jalan Bandung. Kata ayah tempat ini telah didatangi Pak Bondan, jadi pasti enaklah. Namanya warung Mamang Ayep. Kurang jelas apakah Mang Ayep berasal dari Sunda atau sekadar panggilan doang.

Pukul 16 sore, warung masih sepi, karena sejatinya menu mie rebus dan sate kacang merupakan menu makan malam. Rupanya kami cukup beruntung karena gerobak mie rebus dan sate sudah tiba. Tampak seorang tua sedang mengipas sate. Kurang jelas apakah beliau Mang Ayep. Yang pasti, dalam sekejap telah hadir mi rebus ala Keling yang dimakan dengan sate sapi berbumbu kacang. Kuah mie rebus bertekstur kental karena dicampur dengan tepung maizena. Kuah ini sangat gurih karena tercipta dari gerusan udang dan gula merah.

Adapun sate kacang  berbumbu mirip sate Madura. Hanya saja, bumbu kacang ini disajikan panas-panas laksana bumbu sate padang sehingga sensasinya lebih terasa. Daging sapi terlebih dulu diungkep atau direbus sehingga tidak ada daging yang liat. Semuanya lembut, dan meleleh di lidah tanpa perlu upaya yang berlebihan.

Kerang Rebus

Menjelang magrib hari Sabtu, setelah membawa partai omak-omak makan bakso Binaria di depan Merdeka Walk, kami mampir di warung kerang rebus di Simpang Limun, tepatnya di pertigaan arah ke Kampung Baru. Penjual yang berjenggot putih menjadi pilihan. Kata adikku, hanya di warungnya kerang berkualitas bisa diperoleh tanpa cacat.

Kunci kenikmatan kerang rebus ada pada bumbu kacangnya dan kesegaran kerang. Kerang segar biasanya akan langsung membuka cangkang setelah direbus. Sebaliknya jika kerang busuk, biasanya cangkangnya sulit dibuka. Kerang yang disajikan kepada pengunjung biasanya sudah dalam keadaan terbuka sehingga memudahkan kita untuk menusuknya dengan garpu kecil.

Setelah ditusuk garpu kecil, kerang dimasukkan ke dalam cangkir kecil berisi bumbu special yang terdiri dari bahan nanas parut, kacang giling dan saus kecap. Perpaduan bahan ini membuat rasa kerang rebus menjadi sangat kaya: kenyal, asin, gurih, manis, asem. Pokoknya mak nyus deh. Entah kenapa kok sulit menemukan bumbu kacang ini di Jakarta. Karena itu, setiap pulang ke Medan, kesempatan makan kerang rebus ini tidak pernah terlewatkan.

Mie Kepiting

Mie kepiting sebenarnya baru-baru saja aku kenal. Menu ini merupakan perpaduan mie aceh yang dimasak dengan tambahan daging kepiting yang masih utuh. Menu ini aku cicipi dari penjual mie di Jalan Garu IV, seberang Simpang Marindal pas malam Minggu. Bumbu mie relatif sama dengan bumbu mie aceh lain. Hanya saja, seekor kepiting berukuran kecil di atasnya menambah sensasi bagi penikmatnya. Istriku sangat khusyuk menikmati kepiting ini.

Di Jakarta, aku sering makan mie aceh dan nasi goreng aceh, tapi tidak pernah mencicipi mie kepiting meskipun dalam daftar menunya ada. Setiap kupesan, biasanya penjual mengatakan menu tersebut lagi kosong. Barangkali tidak banyak pembeli yang memesan sehingga diputuskan menu tersebut tidak dilayani lagi. Padahal, dari sisi ketersediaan bahan rasanya tak sulit mencari kepiting di Jakarta.

Kuliner Rumahan

Masakan ibu pastinya merupakan masakan paling enak bagi anak-anaknya. Masakan mami yang paling aku suka adaalah rendang, gulai, tauco dan sambal lado. Maka setiap pulang ke Medan, mami dengan kasih sayangnya memasak semua makanan kesukaanku tadi.

Untuk sambal lado kali ini dipadukan dengan ikan patin yang baru ditangkap ayah dari kolam samping rumah. Ikan patin ini rupanya tidak hanya enak disambal, tetapi enak juga digulai. Kepala patin yang berlumur lemak dan daging tidak kalah nikmatnya dari kepala kakap. Sekujur kepala patin diresapi bumbu gulai yang gurih dan pedas.  Gulai mami memang luar biasa dahsyat, nikmat sampai ke ubun-ubun pada setiap seruputannya.

Selanjutnya ada menu tauco kerang yang dimasak dengan sedikit santan. Rasanya luar biasa. Cabai hijau irisnya memercikkan aroma biji kacang tauco yang dibaluri aroma lengkuas dan jahe. Benar-benar perpaduan bumbu yang menggelinjangkan lidah, meski kudu hati-hati karena bisa menteror pencernaan.

Tak ketinggalan, untuk kubawa sebagai bekal di Jakarta adalah kerang bumbu rendang. Mami membeli 6 kg kerang yang kemudian direbus. Setelah itu kerang dimasukkan ke dalam bumbu yang sudah berisi santan. Sampai di Jakarta, kerang rendang ini dapat disimpan di kulkas. Setiap hendak dimakan, ambil kerang secukupnya untuk dipanaskan. Rasanya jangan ditanya. Gayus Tambunan lewat di Cengkareng sekalipun, aku ngggak bakal melengos. Kalau yang lewat Dian Sastro ya mikir-mikir dulu…

Durian House

Sebelum pulang oleh-oleh biasanya selalu dibeli sebagai penanda ingat dengan sanak atau teman yang ditinggalkan.  Kata Ina adikku, tren oleh2 Medan sekarang mulai bergeser dari bolu meranti ke pancake durian. Meski demikian, Zulaikha sebagai penjual bika ambon tetap ramai dengan pengunjung. Mau beli saja harus antri. Sementara, penjual bika lain di sepanjang Jalan Mojopahit tampak sepi.

Maka berangkatlah kami ke Durian House  di Jalan Sekip. Aku sejatinya belum ada bayangan mengenai bentuk pancake durian ini. Maka, ketika aku melihat bentuknya, alangkah terkejutnya diriku. Penjual memperlihatkan pancake di dalam kulkas. Kupikir inilah pancake yang belum diolah, seperti batagor Riri setengah matang. Ternyata eh ternyata, pancake tadi sudah siap makan. Maka kucoba satu buah yang ternyata rasanya persis dengan durian.

Dari teksturnya komposisi duren dan tepung 90:10. Jadi persis seperti kalau kita makan buah durian segar. Kalau gini sih mending beli durian sekalian. Akhirnya aku hanya beli 10 potong untuk dicoba oleh rombongan pengantar dalam mobil.

Jadi, mohon maaf untuk teman-teman blogger di Jakarta dan seantero jagat yang tidak kebagian oleh-oleh. Hi hi…Bilang aja pedit. He he…

Mohon maaf buat blogger Medan Uni Marshmallow, Mike Kono dan Wempie. Aku tidak sempat menghubungi kalian. Dua hari di Medan sangat sempit untuk sekadar berkumpul dengankeluarga dan berburu kuliner khas Medan. Btw, bagi yang mau liat foto-foto ada di FB ya…

Iklan

14 tanggapan untuk “Wisata Kuliner Medan Jilid 2

  1. Ada tiga hal Bang …
    1. 10 pasang ?
    Wedew banyak sangat …
    Milihnya bingung tuh …
    Dan tidak terbayang perang poster baliho dan kawan-kawannya

    2. Durian …
    Ini memang trade mark medan ya Bang …
    Rasanya kurang afdhal kalau belum nongrong di kedai Duren. Dan saya dengar cara mengemas untuk Oleh-olehnya pun juga khas sekali katanya …

    3. Makanan yang lain …
    Aaarrrggghhh … Soto medan …
    Suatu saat saya harus merasakannya …
    BTW kok ndak ada Teri medannya ya Bang .. ??
    (padahal itu paling top … )(menurut saya)

    Salam saya Bang

    Bos, kalau teri medan biasanya dibawa dalam keadaan mentah. Mau bos? Aku kirim nih ke rumah, asalkan alamatnya jelas…

  2. wow…..kok gak bilang2 bro
    padahal saya kan bisa nemenin
    makan di Merdeka Walk,
    mie Aceh di tibob,
    atau rumah makan Sidimpuan
    hmmmm…….

    Sorry Bang…
    Acara keluarga pun masih kurang…
    Hi hi…
    Lain kali ya Bang….
    Thanks ya…

  3. buseeeeettt… ngiler aku baca tulisanmu ini bro. reportasenya benar-benar membuat yang baca kepengen mencicipinya.

    dari semua yang ente bilang itu, aku sangat ingin mencicipi kerang rebus. itu maknyus sangat menurutku…

    emmmm… kapan kita ke medan? 😉

    Menarik juga kalau dibuat Tajamuk Medan…

  4. Soto Medan nya yang di daerah kesawan kah? karena disitu yang TOP.

    Yang di Kesawan saya juga sudah coba. Pokoknya rasa soto di Medan menurut saya standar, tidak bisa diklaim yang satu paling top dari yang lain.

  5. halahhh…
    ternyata inilah reportase perjalanan diam-diam bang hery. tembolok mulu nih isinya. hahahaaa… sedaaap…

    anehnya, bang, banyak di antara yang abang sebutkan di atas belum pernah saya kunjungi. makanannya mungkin sama, tapi tempatnya beda. padahal saya kan penduduk medan aseli!

    ayo, kapan bang hery pulkam lagi?

    Tempat langganan orang kan beda2. Medan kan luas. Jadi, wajar aja kalau Uni belum pernah ke tempat yang saya kunjungi.
    Kapan pulkam lagi? Keknya pas lebaran deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s