Pak Hasan

Kyai Haji Hasan Abdullah Sahal

“Kalau jadi polisi, jadilah polisi yang baik”, kata Pak Hasan sambil tersedak (kepingin tertawa sendiri) dalam salah satu episode Kick Andy yang membedah buku Negeri 5 Menara baru-baru ini. Kontan saja, pembawa acara Bang Andy, A Fuadi sang penulis buku N5M, dan penonton di studio ikutan tertawa terbahak-bahak. Dalam konteks kekinian, ungkapan Pak Hasan sangat relevan.

Kyai Haji Hasan Abdullah Sahal, atau yang akrab dipanggil Pak Hasan, hadir di acara ini sebagai pimpinan Pondok Modern Gontor, menyaksikan anak asuhnya yang telah menggoncang dunia perbukuan Indonesia dengan buku N5M yang telah dicetak 100.000 eksemplar dalam sembilan bulan. Sebuah angka yang fantastis untuk penjualan buku umum.

Sebagai perbandingan, penerbit buku jamaknya sudah senang jika bukunya terjual habis sebanyak 3.000 eksemplar dalam setahun. Jumlah  3.000 ini merupakan oplah minimal cetak yang dianggap telah mencapai skala ekonomis. Jadi, kebayangkan larisnya N5M. Pencapaian N5M diproyeksikan dapat mengejar dominasi Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Amien….*sambil ngelirik Fuadi*

Pak Hasan bukan satu-satunya pimpinan di PM Gontor. Dengan menganut sistem Trimurti atau tiga pimpinan yang diangkat oleh Badan Wakaf, masih ada dua lagi pimpinan pondok. Satunya, Kyai Haji Abdullah Syukri Zarkasyi yang akrab dipanggil Pak Syukri. Keduanya merupakan putra dari pendiri pondok.

Satu pimpinan lagi dipegang oleh bukan keturunan pendiri yakni Kyai Haji Syamsul Hadi Abdan. Dengan menggunakan sistem wakaf, maka pondok tidak perlu khawatir akan mati sepeninggal kyainya. Ini telah dibuktikan oleh Gontor yang telah ditinggal oleh pendirinya dan kini dikelola oleh generasi kedua.

Setiap kyai mempunyai karakternya sendiri. Pak Syukri terkenal sebagai orator, sedikit dandy, ahli strategi dan solidarity maker. Setiap ceramah Pak Syukri mengandung spirit yang membangkitkan motivasi santri untuk maju.

Sementara Pak Hasan mempunyai karakter yang lebih low profile. Konon Pak Hasan hafal Alquran sekaligus jado bermain drum.

Dari dulu, wajah Pak Hasan begitu-begitu aja, seolah tidak mengalami efek penuaan. Mungkin karena beliau senang humor dan sering bergaul dengan santri yang masih muda belia.

Kamis sore adalah saat santri bisa bertemu langsung dengan Pak Hasan lewat forum mengaji bersama di mesjid jamik. Satu jam menjelang magrib, Pak Hasan akan memandu santri membaca beberapa ayat Alquran. Pada saat ini biasanya beliau memakai gamis berwarna putih dengan sorban di kepalanya.

Setelah mengaji, biasanya Pak Hasan akan menerangkan ayat yang barusan dibaca secara panjang lebar. Yang aku sesali, biasanya di saat ini kelopak mata tidak mau berkompromi sehingga banyak tausiyah Pak Hasan yang sangat berharga tidak sempat kudengar.

Hal ini tidak kualami sendirian saja. Sebagian besar santri ada di barisan ini. Bukannya ceramah Pak Hasan tidak menarik atau membosankan, tetapi aktivitas yang padat membuat kami kelelahan sehingga dalam posisi duduk pun kami dapat tertidur pulas. Humor yang selalu diselipkan Pak Hasan dalam ceramahnya tak mampu mengangkat kelopak mata kami. Melihat kenyataan ini Pak Hasan biasanya tidak pernah marah. Dengan sabarnya dia terus bertausiah sampai magrib tiba.

Dalam tausiyah, biasanya Pak Hasan akan mengakhirinya dengan doa. Sebagian besar doa dalam bahasa Indonesia sehingga kami dapat meresapi maknanya dengan baik.

Sekitar lima menit menjelang magrib, santri yang tertidur dibangunkan oleh Bagian Pengajaran (santri senior) untuk mengambil air sembahyang (wudhu).

Beberapa teman santri punya hubungan yang sangat dekat dengan Pak Hasan. Biasanya karena latar belakang peristiwa tertentu. Sampai sekarang mereka masih sering berkunjung. Biasanya Pak Hasan akan rela mengajak ngobrol hingga larut malam. Dalam forum ini tentu saja banyak informasi yang bisa digali tentang keadaan pondok dan situasi umat pada umumnya. Menurut seorang teman, momen seperti ini sangat dinantikannya.

Adapun saya sendiri, sampai kini belum pernah kembali mengunjungi pondok. Kisah saya yang mirip dengan kisah Baso di N5M yang pulang setahun sebelum waktunya membuat saya merasa bersalah dan tidak nyaman jika bertemu dengan pimpinan pondok. Seolah-olah mereka akan menerkam saya. Padahal, dari sisi mereka pasti sudah lupa, karena ini terjadi pada tahun 1990, 20 tahun lalu. Lagipula, kesalahan yang saya lakukan bukanlah yang bersifat kriminal, hanya masalah akademis murni.

Terakhir saya bertemu Pak Hasan, pas peresmian Pondok Gontor di Sumbar. Saya menyalami Pak Hasan di dalam pesawat yang membawa kami ke Padang.

“Siapa ya?” Tanya Pak Hasan.

“Saya santri Bapak, angkatan Akbar Zainudin”, kata saya menyebut teman satu angkatan yang menurut saya paling dikenal oleh beliau.

Pak Hasan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Di pesawat tidak ada lagi pembicaraan karena posisi kursi berjauhan. Setelah sampai di Sulit Air, saya juga tidak berusaha mendekati beliau dan berbicara lebih banyak karena memang merasa tidak ada yang perlu dibicarakan.

Di pondok sekalipun, sangat jarang santri yang dikenal dengan baik oleh kyai karena banyaknya jumlah santri, sekitar 3.000 orang. Sehari-hari yang mengenal kita adalah wali kelas dan bagian pengasuhan santri. Merekalah yang sehari-hari mengelola pondok.

Ada cerita menarik tentang Pak Hasan dari orang Sulit Air yang menjadi tim pembangunan pondok Gontor Sumbar. Saat survey awal, Pak Hasan memimpin doa. Suaranya menggelegar menembus hutan cemara yang berkontur bebukitan.

Doanya kira-kira begini (versi saya): “Ya Allah, jika niat kami ikhlas dalam mendirikan pondok ini, maka bantulah kami dalam mewujudkannya. Tapi jika niat kami tidak ikhlas, maka gagalkanlah upaya kami”. Kontan saja seluruh hadirin yang hadir merasa ada tohokan di dada mereka. Sebagian hadirin menangis terisak-isak. Begitulah kisahnya.

Terlepas dari Pak Hasan masih ingat denganku atau tidak, yang pasti aku berusaha untuk memegang teguh amanat seperti yang beliau sampaikan di Kick Andy. Kalau jadi pegawai, jadilah pegawai yang baik. Kalau jadi pedagang, jadilah pedagang yang baik, dst. Amanat ini memang tidak mudah, apalagi bagi kami yang berkecimpung di tengah pergumulan dunia kerja yang penuh warna dan dinamika.

Mudah-mudahan kami para santri selalu diberi kekuatan untuk memegang amanat ini. Congrat juga buat Fuadi yang telah menghadirkan Pak Hasan. Sorry nggak bisa datang pas syuting karena ada rapat mendadak di kantor. Maklumlah, pegawai yang baik. He he…

Iklan

23 tanggapan untuk “Pak Hasan

  1. buat pesantren perempuannya seketat itu jugakah, bang?

    Saya kurang tahu apakah di sana juga seketat di pesantren putra. Tapi prinsipnya sih kayaknya sama.

  2. wahhh aku juga tertohok dengan “Tapi jika niat kami tidak ikhlas, maka gagalkanlah upaya kami”…

    Penyerahan diri sepenuhnya pada yang Kuasa adalah mutlak, meskipun sulit sekali untuk dilakukan.

    OK Pak Hasan, saya juga akan menurut nasehat bapak untuk menjadi blogger yang baik.

    EM

    Wah, blogger yang baik gimana tuh syarat2nya?

  3. Mantap Bro…

    Insya Allah jika ente sering-sering ketemu beliau lagi setelah ini, beliau akan ingat dengan sangat baik dengan dirimu.

    Oya, artikel ini aku “comot” buat Classic91.org ya… hehehe… 🙂

    Mudah2an bro beliau ingat. Tapi gimana mau ingat, wong dulu juga belum pernah kenal secara pribadi kok? He he…
    Mau dicomot ke classic91 silakan aja bro. Dengan senang hati….

  4. Aku baru menyadarinya setelah Bang Hery menyebut, “Dari dulu, wajah Pak Hasan begitu-begitu aja, seolah tidak mengalami efek penuaan. Mungkin karena beliau senang humor dan sering bergaul dengan santri yang masih muda belia.” Memang betul, ya !!!

    Terus, “Yang aku sesali, biasanya di saat ini kelopak mata tidak mau berkompromi sehingga banyak tausiyah Pak Hasan yang sangat berharga tidak sempat kudengar.” Beneran, Bang ? Menyesalnya sekarang apa langsung saat bangun dari ketiduran ? Gimana kalo kita bareng-bareng mengunjungi beliau di Gontor, sekedar untuk memperingan ‘penyesalan’ Bang Hery ? Kapan ? Pastikan tanggal dan bulannya ya, soalnya aku juga seorang ‘Pegawai yang baik’.

  5. Hmm…Saya jadi teringat pelajaran filsafat tentang kata baik itu. Sepertinya pak Hasan menggunakan kata baik sebagaiamana yang digunakan oleh Kant, yakni kebaikan sebagai menjalankan tugas sesempurna mungkin. Padahal ada pengertian lain tentang kata baik, yakni menjadi orang yang otentik dan menemukan jalan hidupnya (Sartre), atau baik sebagaimana penilaian orang terbanyak (Bentham), dan baik berdasarkan kesenangan (hedonisme). Sesuatu dikatakan baik apabila ia memberikan kita kesenangan, jika tidak membuat kita senang, maka hal tersebut tidaklah baik. Kant banyak dipuji, karena menempatkan kebaikan tanpa pamrih. Sayangnya, kalau ditanya, apakah menjalani kehidupan yang tidak membuat kita bahagia adalah sebuah perbuatan yang baik? Ah, mungkin hati kecil kita menolak, tapi mau apalagi, tugas adalah tugas, tidak dapat ditawar-tawar, karena kita memang hendak menjadi orang baik bukan. Dan mungkin di sinilah makna ikhlas yang dimaksud saat beliau hendak mendirikan PM Gontor di Sumatera Barat. Sejak awal beliau sudah tahu, bahwa yang didirikan itu memang tidak memberikan “kebaikan” sebagaimana mestinya. Tapi demi sesuatu, yang entah kita namakan apa itu, usaha tersebut harus tetap berjalan. Pertanyaannya, apakah “demi” itu adalah sesuatu yang benar-benar berharga untuk diwujudkan? Seberharganya ia sampai harus menolak realitas kebaikan lainnya, seperti baik adalah bahagia.

  6. Bang …
    Saya nonton acara tersebut …
    sekilas saya mendengar pemaparan beliau …
    sepertinya beliau orang yang kocak juga ya Bang …

    Setiap kata yang keluar juga sepertinya diiringi energi kebaikan yang full sangat …

    Beliau pantas dijadikan panutan …

    Mengenai 5 Menara …
    Saya ikut bangga mencermati perkembangannya ,,,
    dan lebih bangga lagi bahwa …
    salah dua nama yang disebut di lembar kata pengantarnya …
    saya kenal dengan baik …

    Hery Azwan dan Hardi V …

    Ah bangganya saya

    Salam saya

    Kyai2 di pesantren pada umumnya kocak. Untuk bisa diterima oleh masyarakat biasanya modalnya ya kocak ini. Pak Hasan adalah salah satunya.
    Btw, kalau Bos Nh aja bangga, apalagi saya.
    He he….
    Sukses terus Bos dengan ide2 kreatifnya….

    Salam saya

  7. Dua kali aku baca postingan ini bang…

    Nasihatnya bagus banget… (berkaca-kaca)
    intinya melakukan segala sesuatu sebaik2nya yah…

    *merinding terharu doanya baguus…

    Wah, mantaplah kalau Eka suka bacanya….

  8. Assalamualaikum
    saya baru sekali mampir ke sini..

    hm.. sepertinya temennya Uda Vizon di Gontor ya?
    soal Negeri 5 Menara,
    belum lama ini juga dibahas di TVOne.
    cerita tentnag kalo ternyata jsutru anak pesantren itu yang paling banyak melanglang buana.

    dapet beasiswa dari sana sini. jauh2 di suatu negara, eh ketemunya juga anak pesantren.

    salam kenal saya mas Azwan
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s