CT Si Anak Singkong

20121216-111712.jpg

Sudah lama aku tidak membeli buku cetak. Sejak adanya buku digital yang sangat nikmat dibaca melalui iPad, hampir berbulan-bulan aku tidak membeli buku cetak baru. Tak sengaja, minggu yang lalu aku ke Gramedia menemani ponakan yang bermaksud membeli tas. Buku Anak Singkong langsung menarik perhatianku karena sosok pengusaha yang diceritakan dalam buku ini sangat mewarnai hidupku. Betapa tidak, aku sering belanja di supermarket miliknya, aku menonton tv di stasiun miliknya, aku membaca berita singkat di media dotcom miliknya, aku membeli eskrim favorit di gerai miliknya. Cuma menabung saja yang belum kulakukan di bank miliknya.

Buku setebal kurang lebih 400 halaman ini aku selesaikan dalam beberapa jam saja karena begitu menawannya kisah yang disajikan. Setelah menuntaskan buku ini, aku bisa mengambil pelajaran yang bisa kita teladani sebagai berikut:

  1. Integritas sangat penting dalam bisnis. Hal ini berkali-kali terjadi dalam hidup CT. Bank percaya untuk memberikan kredit kepadanya tentu karena integritasnya. Carrefour datang kepadanya karena kepercayaan. Bank Indonesia memintanya untuk mengakusisi Bank Mega juga karena kepercayaan. TV7 dari kelompok Kompas Gramedia menjual sahamnya kepada CT juga karena kepercayaan.
  2. Latar belakang bukanlah penghalang. Latar belakang keluarga yang miskin tidak boleh menjadi alasan untuk maju. Bahkan, latar belakang ini harus kita ubah menjadi pengungkit untuk mandiri dan terlepas dari kemiskinan. Hal ini ditunjutkkan oleh CT yang sangat terharu setelah ibunya harus menjual kain halus kesayangannya untuk membayar uang kuliah di UI pada semester pertama. Sejak itu, dia berjanji untuk mencari uang sendiri guna membiayai kuliahnya. Usaha awal yang dirintisnya adalah memperbanyak diktat kuliah. Dia mencari percetakan yang bisa memberi harga Rp150, sementara kalau difoto kopi di sekitar kampus harganya Rp500. CT menjualnya kepada mahasiswa seharga Rp300, jadi untung Rp150.
  3. Pendidikan Itu Penting. Untuk menjadi pengusaha sekalipun, pendidikan tetap memegang peranan penting. Ini dibuktikan oleh CT yang merupakan mahasiswa teladan di Universitas Indonesia. Setamat UI, di tengah kesibukannya sebagai pengusaha, beliau juga masih sempat menyelesaikan pendidikan magister manajemen di PPM. Bahkan, di PPM ini dia berhasil meraih nilai tinggi meskipun pada semester akhir dia jarang hadir di kelas. Kemampuan membaca cepat dan konsentrasi yang diperoleh dari latihan teater sangat membantu.
  4. Fokus pada Consumer Business. Bisnis dengan konsumen lebih menjanjikan dibandingkan dengan bisnis dengan pihak pemerintah. Hal ini ditunjukkan oleh semua unit bisnis milik CT yang konsumennya adalah masyarakat, bukan pemerintah. Bisnis ini tidak tergantung dengan siapa yang berkuasa, dan yang pasti jauh dari kongkalikong.
  5. Jangan memusuhi pemerintah. Hal ini menjadi pelajaran penting yang meresap di hati CT setelah ayahnya selaku pemred Suluh Indonesia harus menerima nasib akses ekonominya diputus hanya karena ideologinya bertentangan dengan penguasa saat itu (Presiden Soeharo). Karena itu, siapapun pemerintah yang berkuasa, kita tetap menjalin hubungan baik. CT besar di ujung era orde baru. Selanjutnya mulai membesar di era Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY. Bahkan di era SBY CT ditunjuk menjadi Ketua Komite Ekonomi Nasional.
  6. Bekerja ekstra time. Sama seperti pengusaha sukses lainnya seperti Steve Jobs, CT juga bekerja ekstra keras. Hampir setiap malam dia bisa bekerja hingga larut malam, bahkan hingga pukul 03 pagi. Tak ada hari libur baginya.
  7. Membina jaringan. CT sangat pintar membina hubungan dengan siapapun. Semua bisnisnya seringkali terjadi dari pertemuan yang tidak disengaja. Dia selalu menjaga hubungan tersebut dan tidak pernah memutus silaturahmi. Hubungannya dengan Ishadi SK sudah dimulai sejak acara We Care Indonesia di Istana Bogor. Beberapa tahun kemudian, baru hubungan tersebut bisa dikapitalisasi dengan menjadikan Ishadi SK sebagai pendiri Trans TV yang kemudian bisa menjadi tv yang sangat sukses.
  8. Berbagi. Apa yang kita miliki, sebagian harus dibagikan kepada yang membutuhkan. Ini ditunjukkan oleh CT dengan menggagas berbagai proyek, salah satunya Rumah Anak Madani yang menampung anak-anak korban tsunami Aceh. Tidak saja menampung sementara, tetapi juga disiapkan sekolah yang berkualitas. Biaya operasional untuk menyelenggarakan sekolah berasrama ini tidak kecil, bisa mencapai Rp1 miliar perbulan. Biaya ini dialokasikan dari unit bisnis yang ada di CTCorp. Istri CT secara langsung terlibat mengelola yayasan ini.
  9. Melayani Orangtua. Prinsip ini banyak dipegang oleh hampir semua pengusaha sukses di Indonesia. Ini ditunjukkan CT saat menemani ibunya naik haji. CT melayani ibunya bagaikan sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Demkian kata Mien Uno yang menjadi saksi peristiwa itu di tanah suci.
  10. Mencipatakan Sinergi. Kebanyakan bisnis konglomerasi membuat setiap unit bisnis terkadang terlalu egois dan tidak mau bekerjasama dengan unit bisnis lain. Di CTCorps, semua lini bisnis harus bisa bersinergi. Salah satu contohnya, Detikcom Bandung kini berkantor di Trans Studio. Saat Trans 7 dibeli dari Kompas, iklan dibundling dengan Trans TV sehingga omset Trans 7 ikut terdongkrak. Kini, di mana ada Carrefor pasti ada Baskin. Belanja di Carrefour juga menggunakan kartu kredit dari Bank Mega. Komplit sudah….
Iklan

6 tanggapan untuk “CT Si Anak Singkong

  1. Kisah ini memang inspirtif ya bang …

    Walaupun penerbitan buku ini ada sedikit friksi mengenai proses penulisan dan penyusunannya.
    Semoga tidak mengurangi makna didalamnya.

    Salam saya Bang

  2. Aku sudah lama ingin beli buku ini, tapi belum kesampaian. Membaca ulasan ente ini, aku jadi semakin penasaran.. Insya Allah segera dibeli deh.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s