Matrud

Minggu lalu saya terlibat diskusi menarik dengan seorang ustad terkenal di Bandung selepas salat Jumat. Ustad yang berambut gondrong ini baru saja bertindak sebagai khatib Jumat di mesjid kantor kami.
Sambil menikmati makan siang berjamaah di rumah pemilik perusahaan kami, beliau berkisah kalau dia pernah nyantri di Gontor selama dua tahun (kelas akselerasi). Setelah mengetahui saya juga pernah nyantri di Gontor, obrolan pun mencair.
Sang ustad berkisah kalau dia diasingkan ke Gontor oleh ayahnya karena sediki nakal. Lho, kok cuma 2 tahun?

Sang ustad berterus terang kalau dia saat itu (sekitar tahun 1972) matrud alias diusir. Apa pasal? Rupanya dia mengajak 4 orang temannya merayakan tahun baru di Madiun. Maklumlah, darah muda masih bergelora. Mungkin kalau sekarang dapat disamakan dengan anak ABG yang sedang gandrung nonton SNSD atau Cherry Belle. He he…
Dari Gontor mereka naik Delman, kemudian disambung dengan bus. Pergi setelah Isya, pulang menjelang subuh. Hal yang seharusnya mereka antisipasi adalah sais delman yang kemudian mengadukan pelanggaran ini ke pihak pondok. Tak ampun lagi, hukuman pun dijatuhkan. Tidak tanggung-tanggung, mereka harus meninggalkan pondok. Sebenarnya kesalahan yang membuat santri bisa dipulangkan ada tiga, yaitu: mencuri, berkelahi, dan pelanggaran susila. Seharusnya pelanggaran berupa keluar pondok tanpa izin hanya dihukum dengan penggundulan. Tapi ini, ada pengecualian karena dia mengajak teman lain untuk berbuat kesalahan.
Orangtua sang ustad yang merupakan ketua sebuah ormas Islam yang terkenal di Bandung dan mengenal baik Kyai Imam Zarkasyi datang ke Gontor dan memohon keringanan kepada beliau. Apa jawaban kyai Zarkasyi?
Dalam hal disiplin, tidak ada kompromi. Disiplin tidak boleh pilih bulu. Mau anak kyai, anak pejabat, anak orang biasa semua sama. Inilah yang membuat Gontor disegani dan bernilai tinggi. Peraturan tidak bisa dikadalin. Hukuman ini menjadi pendidikan bagi santri lain dan juga terutama untuk santri yang melanggar.
Akhirnya sang ustad muda melanjutkan sekolah di luar. Menurut seorang teman, beliau pernah kuliah setahun di IKJ. Ustad yang kalau berceramah suaranya menggelegar ini juga bercerita kalau dialah yang membuat Hari Mukti meninggalkan dunia keartisan. Siapakah ustad ini?

Iklan

2 tanggapan untuk “Matrud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s