Imigran Muslim di Jantung Eropa

Imigran Muslim di Jantung Eropa

Saya ingin sharing mengenai serba-serbi imigran muslim di negara Eropa yang saya kunjungi. Penilaian ini mungkin hanya berdasar pandangan subyektif saya, jauh dari valid.

Waktu trip ke Barcelona, saya 2 kali naik taksi yang supirnya ternyata orang Pakistan. Sang supir bercerita kalau di Barcelona banyak sekali orang Pakistan. Jumlahnya sekitar 180.000. Wow banyak juga ya. Karena itu tak heran, dari 3 kali naik taksi, 2 taksi sopirnya dari Pakistan. Setelah tahu kalau kita dari Indonesia mereka memberi saran jika kita ingin makan seafood di sepanjang Barceloneta beach atau restoran manapun di Barcelona, jangan ragu untuk meminta makanan halal dari waiternya karena sebagian besar waiter di sana orang Pakistan.

Ini saya buktikan waktu memesan seafood di sebuah cafe di jalan Parallel, wilayah Montjuic. Ketika saya menunjuk menu tertentu, sang waiter yang berasal dari Pakistan langsung menyilangkan tangan tanda melarang. No, it’s not for you. Ternyata yang saya tunjuk menu berbahan B2.

Di Jerman banyak orang Turki sehingga tak sulit mencari restoran Turki. Bahkan menurut saya cita rasanya lebih enak dibanding resto di Istanbul sekalipun. Saya menginap di daerah Bullows, Berlin yang sekitarnya dikepung resto dan cafe beraroma Turki. Warung kebab ada di mana2 bagaikan meyebarnya warung padang di Jakarta.

Bahkan kini di Jerman mulai semakin banyak orang Arab, terutama yang berasal dari Suriah. Saat turun dari bandara Hamburg menuju City Center dengan kereta, di sebelah saya bercakap2 dua anak muda dengan bahasa Arab. Bahkan setelah tiba di Hamburg Hbh lebih banyak lagi orang Arabnya. Mereka sudah tak canggung lagi berteriak dalam bahasa Arab.

Yang lebih unik lagi, di halaman Duomo, Milan penjual makanan burung merpati pun orang Arab. Kakak saya hampir dimintai uang tambahan atas makanan burung yang telah dibeli. Kholas, kholas. Yakfi, kata saya. Sudah, sudah. Cukup. Untung saya pernah nyantri sebentar sehingga bisa sedikit berbahasa Arab.

Di Belanda kami sempat solat di mesjid yang dibangun imigran Turki. Meski di negaranya berhaluan sekuler dan saya sudah melihat sendiri jumlah jamaah solat subuh di Cappadocia yang sangat minim, di luar negeri orang Turki sangat aktif membangun mesjid beserta komunitasnya. Tulisan di dalam mesjid pun berbahasa Turki, bukan bahasa Belanda.

Di Brussel kami berkesempatan solat Zuhur berjamaah di Grand Mosque. Di sini kebetulan hari Sabtu sehingga terlihat banyak anak2 yang sedang belajar Islam. Mesjid ini digerakkan oleh imigran Maroko. Mesjid yang terletak di pinggir taman umum ini terlihat sangat tua. Bangunan awal berdiri sejak tahun 1879. Lalu direnovasi atas donasi Raja Saudi dan selesai tahun 1979.

Di sekitar Eiffel yang menjual souvenir kebanyakan orang berkulit hitam, juga orang Aljazair dan Maroko. Uniknya, seperti penjual oleh2 di tempat lain, mereka bisa bahasa Indonesia sedikit. Apa kabar, 5 biji 1 euro, adalah kalimat yang sering muncul dari mulut mereka. Kalau kita jawab, mereka akan semangat untuk terus mencecar kita. Solusinya ya kita pura2 bego gak ngerti aja. Nanti baru mereka mengganti dengan kalimat Bonjour, Good Morning. Kalau nggak menjawab juga biasanya mereka berteriak lagi: Malaysia, Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s