Mengapa Masuk Pesantren?

“Kamu dulu bandel ya?”

“Kamu dulu nyusahin orangtua ya?”

Beberapa teman sering bertanya seperti itu kepadaku.

Di masyarakat ada kepercayaan sebagian orang kalau yang masuk pesantren adalah anak yang bandel. Minimal, nggak pintarlah. Kalau pintar, pasti mereka masuk sekolah umum. Kalau anak pintar masuk pesantren, ya sayang banget.

Rasanya tidak elok menyalahkan pandangan masyarakat tersebut. Beberapa fakta memperkuat pendapat ini. Seorang ustad yang mantan preman mendirikan sebuah pesantren untuk membina mantan napi agar mereka tidak kembali ke jalan yang suram. Beberapa pesantren malah mengkhususkan diri untuk penyembuhan mereka yang kecanduan narkoba. Perlahan namun pasti,  persepsi masyarakat  tentang pesantren agaknya berubah. Lanjutkan membaca “Mengapa Masuk Pesantren?”

Menteri Pidato Dicuekin

Hari Sabtu lalu aku menghadiri Silaturahim Alumni Gontor di JCC. Rencananya acara ini akan dihadiri oleh Presiden RI dan beberapa menteri.

Aku tiba pukul 10 dan acara telah berlangsung beberapa saat. Di podium tampak Mendiknas Bambang Sudibyo sedang memberikan sambutan. Setelah mengambil tempat, aku mulai mendengar suara-suara yang mengganggu sambutan sang menteri. Memang, setiap orang merasa mereka tidak akan mengganggu acara karena mereka hanya berbisik. Tetapi, jika hal ini dilakukan secara akumulatif, maka akibatnya dapat ditebak sendiri. Lanjutkan membaca “Menteri Pidato Dicuekin”

Kecanduan Facebook

Akhir-akhir ini, pesona facebook memang semakin meninabobokkan saya sehingga mata saya betah manteng di depan komputer berlama-lama hanya untuk menambah teman atau meng-approve teman baru. Akibatnya, mainan lama saya, blog, sering terabaikan. Bahkan di saat bekerjapun, saya sering curi-curi membuka facebook dan melihat “Ada notification baru nggak ya? Ada status baru nggak ya? Ada notes baru nggak ya?” Cari teman-teman lama ah…

Demikianlah, facebook sebagai social utility telah mencuri hari-hari saya. Hingga, saat tiba di rumah pun, sambil nonton tv atau berbaring di tempat tidur, saya sempatkan membuka sedikit facebook via handphone jadul saya yang untungnya sudah dilengkapi dengan GPRS. Jadi, alih-alih membaca buku, sebelum tidur saya malah berasyik-masyuk dengan facebook.  Kebayangkan , saya  aja yang pake HP jadul seperti itu, gimana pula bagi mereka yang pake blackberry. Wah,  nggak bisa tidur tuh…. Lanjutkan membaca “Kecanduan Facebook”

Duo Travelers

Dunia maya memang sangat berjasa dalam menautkan silaturahmi. Baru-baru ini saya secara tidak sengaja bertemu dengan teman sealmamater lewat fasilitas YM, setelah sebelumnya menjadi teman di Facebook. Meskipun dia setahun di bawah saya,  perjalanan hidupnya sungguh kaya dengan pengalaman. Lebih dari 100 kota di 20 negara telah dijelajahinya bersama istrinya yang juga hobi berpetualang.

Sebagai mantan wartawan Tempo tentu saja tulisannya akan sangat memikat. Apalagi, didukung oleh dua gelar MA yang diraihnya dari perguruan tinggi di Amerika (lewat beasiswa Fullbright) dan di Inggris (lewat beasiswa Chevening). Saat ini dia bekerja di sebuah NGO Nature Conservancy.

Terinspirasi oleh buku The Naked Traveler yang berhasil mengguncang pasar perbukuan, petualangan Agustinus Wibowo di negara-negara Stan yang sebentar lagi dibukukan, saya juga berharap blog Duo Travelers ini akan menjadi cikal bakal buku yang juga akan menjadi best seller tidak lama lagi.

Selamat menikmati catatan perjalanan teman saya Fuadi bersama istrinya Yayi yang akan berbagi kepada kita tempat-tempat  eksotis yang telah mereka kunjungi. Tidak hanya cerita, foto-foto yang tersedia dalam database mereka juga tidak main-main, ribuan foto. Mudah-mudahan blog mereka bisa memberikan alternatif bagi dunia perblogan dan dunia perbukuan sekaligus.

O, ya, kalau mau berkunjung, silakan klik di http://duotravelers.wordpress.com. Blog tersebut dapat di klik di side bar blog saya di posisi kanan bawah.

Salam

Terimakasih Mbak Maya, eh dunia maya…

Buah Tangan dari Pesta Blogger 2008

Saya tiba di arena Pesta Blogger (Gedung BPPT) pukul 10.05 WIB. Saya sudah was-was tiket saya dijual kepada blogger yang antri namun belum reservasi. Untunglah, ternyata nama saya belum dicoret. Setelah membayar 50 ribu perak, saya diberi goodie bag yang berisi beraneka barang, mulai dari sampul notebook, kaos pesta blogger, majalah, tabloid, block notes, pulpen, pin, snack, tatakan tetikus, dsb. Pokoknya kalau dihitung-hitung sih pasti lebih dari 50 ribu. Jadi, peserta bukan saja BEP tapi udah untung. Halah, ogi (ogah rugi) banget…Tampaknya panitia berhasil mendapatkan dukungan dana dari sponsor. Bayangin, kedubes Amrik aja ikut buka stan. Bahkan di dalam goodie bag ada brosur Fullbright dan tawaran memperoleh Green Card.

Dari begitu banyaknya blogger yang hadir, tidak banyak yang saya kenal. Sebagian blogger datang bersama komunitasnya. Ada Cah Andong dari Yogya; Loenpia dari Semarang; FLP Bekasi; Komunitas Bundaran HI (katanya mereka nongkrong di Bundaran HI setiap Jumat malam pukul 22.00 WIB), dsb.

Tak lama melakukan orientasi ruangan saya bertemu dengan Melvi dan Mang Kumlod. Selanjutnya, saya bertemu dengan Ibu Enny D Ratna dan Yoga. Bu Enny ternyata membawa anaknya yang masih gadis. Cantik juga euy…Bagi blogger-blogger yang masih bujangan, bisa daftar tuh menjadi mantu Bu Enny. Lanjutkan membaca “Buah Tangan dari Pesta Blogger 2008”