Mengelola Quantum, Meraih Ikhlas

Di era modern ini, yang segalanya bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan dan tekonologi, masih perlukah kita berdoa? Masihkah Allah mendengar doa kita? Masihkah doa-doa kita dijawab? Untuk menjelaskan hal ini, mari kita berdiskusi berdasarkan buku Quantum Ikhlas yang ditulis oleh Erbe Sentanu. Mungkin penulisnya belum dikenal di kalangan awam. Tetapi bagi yang berkecimpung di dunia “persilatan” mungkin pernah dengar. Mas Nunu, begitu sering dipanggil, aktif di organisasi neuroscience internasional.

Apa itu Quantum?

Sang penulis mencoba menjelaskan quantum secara fisika. Setiap benda jika dibelah lagi akan ketemu partikel terkecil yang kalau dulu disebut atom. Namun sekarang ternyata atom masih bisa dibedah lagi. Akhirnya, setelah dibelah terus, maka ditemukanlah yang namanya quanta yang tidak kasat mata. Semua benda pada hakikatnya adalah quanta yang saling memancarkan getaran elektromagnetik. Hanya saja ada yang rapat dan ada yang jarang. Benda padat sekalipun, jika diurai terus, akan ditemukan ruang kosong di dalamnya. Hal ini mirip dengan film bioskop yang kita lihat bergerak. Padahal, sebenarnya adalah kumpulan dari 24 foto diam dengan berbagai adegan. Jika 24 foto tadi diputar dalam satu detik, maka mata kita akan melihat seolah-olah foto tadi bergerak.

Law of Attraction

Pikiran, perasaan dan ucapan manusia ternyata punya getaran, sehingga mempunyai quanta juga. Karena itu, kita harus berhati-hati dengan pikiran, perasaan dan ucapan kita. Semua yang kita rasakan, pikirkan dan ucapkan akan kembali mengenai kita sendiri.

Jika kita baru membeli mobil berwarna merah, maka seolah-olah di jalan raya banyak sekali mobil berwarna merah. Padahal, sebelumnya kita tidak pernah perhatian dengan mobil merah. Orang yang merasa dirinya apes terus, pasti terus-terusan ketiban sial. Di dalam Alquran disebutkan bahwa Allah hanya mengiyakan persangkaan hambanya. Jika hamba-Nya berprasangka baik, maka baiklah yang akan terjadi. Sebaliknya, jika hamba-Nya berprasangka buruk, maka hal buruklah yang akan terjadi.

Bahagia dan Syukur

Kapan kita bahagia? Banyak orang yang menjawab dia bahagia kalau sudah punya rumah, bahagia kalau sudah kaya, bahagia kalau sudah lulus, bahagia kalau sudah menikah, bahagia kalau sudah punya anak, dsb. Padahal, begitu dia punya rumah, akan timbul masalah baru yang membuatnya tidak bahagia. Begitulah seterusnya.

Di manakah letak bahagia? Rasa bahagia itu ada di dalam jantung (orang Indonesia menyebutnya “hati”). Karena itu, kita bisa bahagia saat ini juga jika kita mau. Salah satu caranya adalah dengan cara bersyukur. Sebagai praktek, perhatikan semua milik kita yang berharga. Tatap selama lebih kurang 2-3 menit. Bayangkan apa yang telah diberikannya kepada kita selama ini. Misalnya saja, kita bayangkan saja televisi di rumah kita yang telah menghibur kita dengan musik dan lawak, memberi kita informasi terhangat, dsb.

Kekuatan Doa

Berdasarkan konsep kuantum di atas maka doa sangat memiliki kekuatan yang dahsyat jika kita mengetahui berdoa yang benar. Dalam berdoa kita harus membayangkan secara detil apa yang kita minta. Misalnya saja kita kepingin rumah berukuran 500 meter, maka kita harus bayangkan di depan mata kita rumah sebesar itu. Kemudian, kita harus merasakan jika Allah telah mengabulkan doa kita. Setelah itu, ucapkan syukur kepada Allah karena Dia sudah mengabulkan doa kita.

Dengan rasa syukur yang dibayar di muka sebenarnya kita berupaya mengkondisikan alam bawah sadar yang merupakan 88% dari pikiran kita. Alam sadar hanya mengambil porsi 12% dari pikiran kita. Karena itu, sayang sekali jika tidak mengoptimalkan alam bawah sadar ini.

Karena itu, saat doa yang paling baik adalah sebelum tidur, di saat alam sadar akan beralih ke alam bawah sadar. Saat tidur otak sadar kita beristirahat dan tingkat kesadaran kita berubah dari beta ke alfa (eh, terbalik nggak ya). Selain itu, buku ini juga dilengkap dengan CD yang bisa mengaktifkan bawah sadar kita. Katanya, frekuensi untuk telinga kanan dan kiri dibedakan. Selisihnya itulah yang pelan-pelan bisa mengaktifkan alam bawah sadar kita. Saat CD diputar kita dapat berdoa sambil merilekskan pikiran kita.

Memberi = Menerima

Konsep memberi sama dengan menerima ini sangat berkesesuaian dengan ceramah yang selalu disampaikan Ustadz Yusuf Mansur tentang sedekah. Dalam Alqur’an sendiri disebutkan bahwa setiap satu sedekah ibarat sebutir biji yang dapat menumbuhkan 700 biji lainnya. Jadi, setiap kita memberi sebenarnya kita memberi pada diri sendiri karena semua pemberian kita kepada orang lain akan berbalik kepada kita. Hukum ini merupakan sunnatullah atau hukum alam yang tak perlu kita percayai tapi jika kita melakukannya pasti efeknya akan terasa seketika. Hal ini sama halnya dengan hukum gravitasi. Kita tidak perlu percaya hukum gravitasi, tetapi jika kita melempar gelas, pasti akan jatuh ke bawah.

Karena itu, jangan takut miskin kalau bersedekah. Semua yang kita sedekahkan akan berbalik kepada kita. Tentu saja, jangan semua penghasilan kita disedekahkan. Harus diperhitungkan juga kebutuhan minimal kita dan keluarga dari segi makanan, pakaian dan perumahan.

Positive Feeling vs Positive Thinking

Konsep positive feeling merupakan suatu yang agak berbeda dengan positive thinking seperti yang kita pahami. Terkadang, ketika mencanangkan suatu target, pikiran kita akan berkata, “Saya harus bisa”. Tetapi sering kali hati kita tidak bisa dibohongi, sehingga hati kita sering menyangkal, “Bisa nggak ya?” Karena itu, kita harus memulai suatu keinginan kita dengan kata-kata yang mengandung emosi. Misalnya, “Rasanya lebih enak ya kalau saya bisa naik haji bersama keluarga tahun depan”. Dengan demikian, tidak ada penolakan dari hati. Mengapa hati sangat penting? Karena getaran di jantung (hati) memancarkan 5.000 elektromagnetik yang lebih besar daripada getaran di otak. Di buku ini Erbe menjelaskan lagi salah kaprah orang Indonesia mengenai kata hati. Padahal yang kita maksudkan sebenarnya jantung. Dalam hal ini orang Inggris dan orang Arab benar dengan kata heart dan qalbu. Jadi, kalau disebutkan kata “hati” di buku ini maksudnya adalah jantung.

Testimoni

Penulis buku ini sudah membuktikan betapa ampuhnya doa yang khusyu’. Pada tahun keenam pernikahannya beliau divonis oleh dokter tidak akan bisa punya anak lagi karena spermanya kosong atau aspermatozoa. Dengan tetap mengucapkan alhamdulillah beliau secara serius berdoa kepada Allah sambil berperan seolah-olah dia dan istrinya telah menjadi bapak dan ibu. Alhasil tiga bulan kemudian, spermanya telah terdeteksi dan kandungannya menjadi 30%. Setahun kemudian lahirlah anak beliau terkasih. Segalanya mungkin bagi Allah. Salam Ikhlas….(Hery Azwan, Jakarta, 08/2007)

Iklan

4 tanggapan untuk “Mengelola Quantum, Meraih Ikhlas

  1. Kalau berdoa ke Allah SWT bedanya dengan sugesti pada diri sendiri itu apa yah?

    Ketika seseorang sudah merasa dekat dengan Allah apakah ia masih perlu berdoa?

    “Pertolongan Allah itu dekat”..
    “Demikian juga Allah”

    S.Al baqoroh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s