Totto Chan: Pendidikan Yang Membebaskan

Tomoe Gakuen adalah sekolah dasar di Jepang yang hidup sekitar tahun 1936-1945 dan sangat dipuja oleh alumninya yang bernama Tetsuko. Waktu kecil Tetsuko tidak bisa menyebutkan namanya sendiri sehingga dia memanggil dirinya dengan Totto-Chan. Chan adalah panggilan sayang untuk San (tuan, nona, nyonya, ibu). Tanpa gembar gembor sekolah ini rupanya sudah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi.

Ada beberapa catatan menarik dari buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela. Pertama adalah sikap ibu Totto-Chan yang tidak pernah memberitahukan Totto-Chan kalau anaknya tersebut dikeluarkan dari sekolah pertamanya saat dia kelas 1 SD padahal dia baru bersekolah selama 2 bulan. Totto-Chan baru mengetahu hal ini setelah dia kuliah. Sikap ibunya ini sangat penting untuk memberikan rasa percaya diri Totto-Chan. Tentu hasilnya akan lain jika Totto-Chan tahu sejak dini kalau dia dikeluarkan dari sekolah akibat kenakalannya. Bisa jadi Totto-Chan menjadi anak yang tambah nakal dan mungkin frustrasi.

Kedua adalah bagaimana hebatnya Mr Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen dalam mengajar dan memberikan kebebasan kepada anak didiknya untuk menekuni hobi dan bakat mereka masing-masing. Di Tomoe Gakuen yang muridnya dari kelas satu sampai kelas enam hanya 50 orang setiap murid boleh memulai pelajaran yang disukainya setiap hari setelah guru memberikan daftar pertanyaan yang harus mereka jawab. Bagi yang hobi menggambar boleh menggambar dulu. Bagi yang hobi bahasa boleh belajar bahasa dulu. Mereka boleh bertanya kalau ada yang tidak mengerti. Guru akan menjawab sampai mereka memahami dengan baik.

Saat makan siang mereka makan bersama. Mr Kobayashi akan mengecek apakah mereka membawa lauk “satu dari gunung dan satu dari laut”. Ini adalah cara Mr Kobayashi untuk membuat muridnya lebih paham tentang keseimbangan makanan. Setelah itu, setiap anak akan didaulat secara bergiliran untuk bercerita apa saja sebelum makan. Dengan kegiatan ini anak dilatih untuk tampil di depan umum. Ada yang bercerita tentang anjing peliharaannya, tentang perjalanannya ke kota lain, bahkan ada yang tidak menceritakan apapun. Pada murid yang tidak bisa bercerita Mr Kobayashi tetap memberikan pancingan agar dia berani mengungkapkan apa saja.

Di sore hari murid boleh bermain ke kebun. Di sana mereka dijelaskan sambil bermain bagaimana terjadinya pernyerbukan. Bahkan, seorang petani yang tidak punya ijazah formal mengajar dipanggil Mr Kobayashi ke sekolah untuk mengajar kepada murid SD bagaimana cara bertani yang benar dari mulai mencangkul sampai menyemaikan bibit.

Di Tomoe Gakuen yang kelasnya menggunakan bekas gerbong kereta api murid-muridnya sangat antusias mengikuti pelajaran karena mereka merasakan belajar seperti bermain. Setiap hari mereka tidak sabar untuk cepat-cepat ke sekolah. Mereka juga diberi wewenang untuk menjadi pemilik setiap pohon yang ada di sekolah.

Kehebatan Mr Kobayashi juga terlihat tatkala pada hari olahraga semua cabang ternyata dimenangkan oleh Takahashi, seorang anak yang cacat karena folio. Betapa Mr Kobayashi telah merancang sedemikian rupa agar perlombaan dimenangkan oleh Takahashi. Ini tak lain dilakukan oleh Mr Kobayashi untuk memberikan rasa percaya diri bagi Takahashi yang cacat, yang biasanya minder.

Yang tak pernah dilupakan olah Totto Chan adalah saat pertama kali dia masuk sekolah. Dia dipersilakan oleh Mr Kobayashi untuk membicarakan apa saja. Ternyata anak sekecil dia mampu bercerita selama empat jam dengan Mr Kobayashi tetap antusias mendengarkannya. Kalau guru biasa mungkin tak sudi mendengarkan anak kelas satu SD ngomong ngalor ngidul tanpa jelas juntrungnya. Mr Kobayashi tidak seperti itu. Dia memberikan kepercayaan kepada seorang anak kecil untuk berani mengungkapkan apa yang ada di benaknya.

Mr Kobayashi sekali lagi memberikan muridnya kesempatan untuk melihat gerbong kereta yang datang di malam hari yang akan dipergunakan sebagai perpustakaan sekolah. Mereka disuruh tidur dulu di aula sekolah. Setelah gerbong datang mereka dibangunkan untuk melihat bakal calon perpustakaan mereka. Betapa senangnya mereka melihat gerbong tiba. Sebelumnya mereka telah berdiskusi bagaimana cara gerbong datang: dengan ditarik kereta atau trailer. Ternyata gerbong tersebut dibawa di atas trailer.

Tomoe Gakuen sebagai sekolah yang berbeda dengan sekolah lainnya ternyata harus menerima kenyataan pahit karena dibom oleh Amerika Serikat pada perang dunia kedua. Mr Kobayashi tidak sempat membangun kembali sekolah tersebut karena dia keburu meninggal tak lama setelah itu. Tomoe Gakuen memang telah punah dimakan api, tetapi semangatnya tetap membara di dalam hati alumninya yang banyak menjadi orang besar. Semoga semangat Tomoe Gakuen bisa ditiru oleh sekolah di Indonesia. Begitu juga, kearifan dan kesabaran Mr Kobayashi bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru di Indonesia untuk lebih peduli dengan anak didiknya, yang bermasalah sekalipun. Yang tak kalah pentingnya adalah inspirasi dari ibu Totto-Chan yang tetap sabar meskipun anaknya dikeluarkan dari sekolah dan tidak ikut-ikutan menyalahkan anaknya. (Hery Azwan/Bandung, 22/8/2003).

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Totto Chan: Pendidikan Yang Membebaskan

  1. Waktu membaca buku ini aku sampai menitikan air mata ketika yasuake meninggal dan ketika sekolah tomoe hancur di bom berasa akulah yg pernah bersekolah di sana, teringat semua kenangan yg telah di lalui di sekolah itu

  2. Dalam buku ini banyak sekali manfaat bagaimana kita bersikap kepada anak anak yang dimana setiap anak memiliki kepribadiannya sendiri , bagaimana cara pembelajaran yang diterapkan oleh pak kobayashi membuat anak tidak jenuh , dan semua ide yang diberikan pak kobayashi agar setiap murid tidak ada yang merasakan bahwa dia memiliki kekurangan , semua sama . Sumpah buku ini keren banget. Menghidupkan suasana seolah kita yg merasakannya langsung . arigatou gozaimatsu tetsuko kuroyanangi sudah menuliskan buku ini dan membagikan pengalaman belajar yang luar biasa🎎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s