Edensor: Keliling Eropa Mencari Saripati Hidup

Saat membaca buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini semakin jelaslah bahwa tokoh utama di buku ini adalah penulisnya sendiri — hal yang masih samar pada buku sebelumnya. Untuk meyakinkan betapa nyatanya kisah dalam novel ini, pada satu bab diperlihatkan hasil scan wesel yang pernah diotorisasi oleh Andrea saat dia menjadi pegawai kantor pos di Bogor. Entahlah jika wesel tersebut cuma rekayasa.

Salah satu ungkapan yang diulangi lagi oleh Andrea dari buku Laskar Pelangi adalah bahwa profesi yang tidak dapat dipercaya adalah tukang servis televisi, tukang dadu putar dan penerbit. Ada apa dengan penerbit? Apakah dia punya pengalaman sangat buruk? Bukankah penerbit yang membuat namanya terkenal? Hanya Andrea yang tahu jawabnya.

Buku ini diawali dengan flash back masa kecil Ikal. Ditunjukkan betapa nakalnya Ikal sampai orangtuanya berikhtiar mengganti namanya berkali kali. Setiap nama baru Ikal selalu mengandung cita-cita besar orangtuanya sampai akhirnya Ikal sendirilah yang mencari nama barunya. Nama ini diambil dari seorang pemain sinetron Italia yang kesohor saat Ikal kecil.

Diceritakan pula tabiat Ikal yang keras kepala ternyata menurun dari ibunya. Saat melahirkan Ikal, ibunya hampir meninggal karena terlalu lama menunggu dan tidak mau mengeluarkan anaknya segera. Akibatnya, banyak darah yang keluar. Hal ini dilakukannya hanya karena ingin anaknya lahir pada tanggal 24 Oktober sehingga sama dengan hari lahir “Persyarekatan Bangsa Bangsa” alias PBB. Tujuannya supaya anaknya menjadi pendamai dunia. Memang kurang kerjaan tuh ibu. Aya aya wae..

Diceritakan juga beberapa orang yang sangat berkesan bagi hidup Ikal. Salah satunya adalah Weh yang pernah mengajaknya berlayar dan mengarungi ganasnya ombak bersama. Weh orang aneh yang kesepian akibat putus cinta dan akhirnya bunuh diri. Sementara itu orang kampung menolak jasadnya dimakamkan di pekuburan kampung mereka. Tetapi bagi Ikal, Weh tetap dianggap sebagai gurunya. Kelak ilmu membaca arah dengan panduan bintang yang diajarkan Weh berguna dalam petualangannya menaklukkan Eropa dan Afrika.

Cerita kemudian beranjak dari persiapan Ikal dan Arai hingga tiba di Eropa. Malangnya, saat pertama kali menginjakkan kaki di Eropa, mereka harus tidur di taman karena ditolak oleh pemilik pondokan akibat miskomunikasi. Padahal, saat itu musim dingin dengan suhu di bawah nol derajat. Ikal hampir mati kedinginan. Untunglah Arai menyelimutinya dengan dedaunan sehingga suhu tubuhnya tetap terjaga.

Saat kuliah Ikal memiliki teman dari segala bangsa. Yang paling sengak adalah orang Inggris dan Amerika. Sedangkan Ikal masuk dalam grup minder bersama orang India dan Guadalajara, baik dari segi prestasi maupun segi tongkrongan. Salah satu paradoks yang ditemukan Ikal adalah teman-temannya yang suka mabok dari Jumat malam sampai Senin pagi ternyata prestasi kuliahnya tetap bagus. Padahal Ikal yang selalu minum susu dan soleh kok prestasinya biasa-biasa saja.

Cerita dilanjutkan dengan tekad Ikal dan Arai untuk menuntaskan cita-cita masa kecil mereka mengelilingi Eropa dan Afrika. Sahabat mereka yang sekolah seni pertunjukan di Amsterdam memberi ide mencari modal keliling Eropa dengan mengamen sebagai badut ikan duyung. Jadilah mereka mengelilingi Eropa dari Barat sampai ke Timur. Mereka telah merasakan saripati hidup Eropa dengan berlaku sebagai backpacker.

Yang kurang masuk di akal atau kebetulan adalah saat mereka ditolong orang Purbalingga di Rumania. Saat itu Ikal dan Arai dikeroyok beberapa orang begal. Rasanya kok kebetulan sekali. Memang ada konteks yang cukup logis bahwa Pak Toha yang asli Purbalingga tidak bisa pulang ke Indonesia akibat peristiwa tahun 1965.

Secara umum di novel ketiga ini tidak banyak kejutan berarti. Aliran cerita petualangan mereka di Eropa dan menyaksikan kehidupan rakyat Eropa yang aneh-aneh lebih berbentuk catatan perjalanan belaka. Perjalanan mereka di Afrika juga lebih terasa datar, tidak ada letupan. Bagi mereka yang belum maupun pernah ke Eropa buku ini sangat menarik karena menggambarkan detil karakter masyarakat dan detak jantung sebuah bangsa. Misalnya, bagaimana kehidupan bebas orang Eropa yang membuat Ikal tidak menerima cinta seorang gadis Jerman teman kuliahnya. Ikal rupanya takut terjerumus ke dalam nista dan masih memegang teguh keyakinannya.

Sisi spiritual Ikal makin diperlihatkan tatkala dia dan Arai juga tetap menjalankan puasa saat mereka berpetualang mengelilingi Eropa. Pertemuan dengan seorang veteran mujahidin Afghanistan di mesjid Austria juga hendak menunjukkan sisi spiritualitas Ikal.

Hal ini makin diperkuat dengan cerita dibalasnya kebengalan Arai saat kecil ketika menganggu orang yang sedang sholat. Kebengalan Arai dibalas dengan dipermalukan di depan imam besar dan seluruh jamaah yang sedang membaca Al Fatihah. Saat imam selesai membaca Al Fatihah, Arai berteriak Aminnnn…sementara jemaah yang lain diam saja karena mazhab mereka memang tidak mengeraskan bacaan amin. Di sini penulisnya ingin menjelaskan bahwa semua perbuatan manusia akan mendapat ganjaran, baik seketika maupun harus menunggu 16 tahun. (Hery Azwan: 14/12/2007)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s