Taman Safari

Untuk kesekian kalinya saya piknik ke Taman Safari. Kali ini dalam rangka memperkenalkan rupa-rupi hewan kepada Fauzan, ponakan kami yang baru berumur dua tahun. Halah, ngerti apa anak sekecil itu. Secara pribadi saya belum bosan ke TSI karena belum semua pertunjukan sempat ditonton. Jadi nggak ada ruginya lah…

Minggu 8 Juni 2008 saya bersama istri berangkat dari Jakarta, sementara keluarga istri bertolak dari Bandung dan Cianjur. Saya telat beberapa menit karena “nyarap” duluan di warung bubur ayam di sekitar Megamendung. Agak bingung juga saya, di sekitar Megamendung dan Cisarua kok malah banyak warung bubur ayam Cianjur. Padahal kan lebih dekat ke Bogor .

Tiket masuk TSI untuk orang dewasa Rp 50.000, anak-anak Rp 40.000. Kayaknya belum naik deh. Untuk mobil Rp 15.000. Tampaknya TSI terus mengembangkan layanannya. Rute yang kami lalui rasanya belum ada pada kunjungan kami sebelumnya. Rute untuk safari malam juga terlihat sedang dipugar.

Setelah berkeliling sekitar dua jam, kami menyantap nasi timbel yang dibawa dari rumah. Aku sih sudah tidak begitu “nafsu” karena tadi sudah makan bubur. Untuk menghormati mertua, aku relakan menghabiskan setengah nasi timbel. Yang penting makan….

Pertunjukan yang sempa kami tonton adalah atraksi harimau sumatera dan benggala. Menakjubkan melihat 6 hewan buas ini begitu jinaknya mengikuti perintah pelatih. Tentu saja setelah melakukan tugasnya, harimau ini diberi potongan daging kecil yang diambil dari kantong pelatih.

Ternyata, harimau ini bisa memanjat pohon. Jadi, kalau kita lagi di hutan pedalaman Sumatera dan dikejar harimau, tak ada gunanya lari memanjat pohon untuk menghindar. Wong, monyet aja yang lincah bisa tertangkap.

Harimau juga bisa diperintah berdiri sehingga tingginya bisa mencapai 2 meter, lebih tinggi dari manusia kebanyakan (kecuali pemain basket NBA). Kobaran api pada sebuah gelang besar juga berhasil dilompati sang harimau. Yang agak jijay, seekor harimau buang air di arena pertunjukan. Bau juga ternyata. Halah, dasar harimau…Nggak tau sopan santun.

Menurut keterangan pembawa acara, seekor harimau membutuhkan sekitar 6-8 kg daging setiap hari. Kebayang, berapa biaya pemeliharaannya. Sehari berarti sekitar Rp 400.000, sama dengan Rp 12 juta sebulan, lebih tinggi dari penghasilan rata-rata orang Indonesia. Wajar saja, jika tiket masuknya mahal.

Pertunjukan berlangsung sekitar setengah jam. Setelah itu kami menuju arena berikutnya yaitu Pentas Aneka Satwa. Yang mengagumkan dalam pertunjukan ini adalah keberhasilan sang sutradara mengarahkan orangutan, anjing, bahkan kambing, dan tikus untuk berakting. Tentu saja porsi terbesar dimainkan manusia. Ceritanya tentang kerakusan manusia yang mengeksploitasi alam dan mengakibatkan global warming.

Saat pentas dibuka, penonton berfokus ke panggung. Eh, tiba-tiba seekor orangutan memanjat tali dari arah belakang penonton dan meluncur menuju panggung. Penonton bertepuk, sementara orangutan mencoba bergaya di atas penonton sambil memonyongkan mulutnya dengan posisi kepala di bawah. Sebagian penonton mengabadikan adegan ini dengan kamera. Anak-anak excited banget melihat adegan ini.

Pertunjukan gratis lainnya adalah Cowboy Show, Circus, Singa Laut dkk. Sayang, waktunya banyak yang bentrok sehingga semua pertunjukan tidak dapat disaksikan dalam satu hari kunjungan. Belum lagi ada air terjun yang agak jauh ke belakang. Perlu ekstra tenaga untuk menuju ke sana. Yang tak boleh dilewatkan juga adalah arena binatang malam atau nocturno, baby zoo, binatang melata, dan burung.

Selain pertunjukan gratis, ada juga permainan mirip di Dufan. Hanya saja, pengunjung harus membayar lagi, rata-rata Rp 10.000. Jika kita ingin mencoba lima permainan, misalnya, ditambah 50.000 tiket masuk, pasti jatuhnya lebih mahal dibanding Dufan yang memakai sistem terusan. Karena itu, banyak arena permainan yang sepi pengunjung. Yang sedikit terlihat ramai hanya sepeda air dan kolam renang (wow betapa dinginnya).

Ada kejadian menarik di Space Shuttle, mirip Kora-kora di Dufan. Karena pusing digoncang naik turun, dua orang anak ABG muntah di tempat. Terpaksa deh petugas menarik selang air untuk membersihkannya.

Bagi orang Jakarta yang tiap hari didera kemacetan, hawa sejuk di TSI yang berlokasi di lereng Gunung Pangrango membuat paru-paru serasa terisi penuh. Segar, segar dan segar…

Bagi anak-anak, tentu saja ini sebuah pendidikan yang baik. Jangan sampai mereka hanya kenal ayam dan sapi dari daging yang mereka makan di restoran, tapi tak tahu bentuknya saat masih hidup. Anak-anak juga bisa naik kuda poni, unta dan gajah. Wah, kalau yang ini saya juga pengen, tapi nggak sempat. Lain kali deh…

Iklan

17 tanggapan untuk “Taman Safari

  1. Saya juga senang pergi ke Safari. Kalau ada tamu Jepang pasti saya ajak ke sini. Paling suka ke baby zoo dan berfoto dengan anak singa, phanter, gorilla dll. Aku termasuk berani berfoto dgn binatang, kecuali ULAR.
    Aku pernah liat pertunjukan Gajah, dan pas wkt itu dia buang air besar dan kecil. Air kecil nya besarr euy…alias seperti keran bocor hihihi. Pertama kali liat Gajah buang air. Ternyata kotorannya sesuai dengan badannya hihih.

    Nanti kalau ke jkt, pasti ke sana lagi. Mau kasih liat Riku lagi…. (dulu udah sih)

    Ime-chan, kalau di Jepang ada nggak kebon kayak gini?

  2. Ichiban itu artinya pertama ya …
    hah kalo gitu aku … next to ichiban ato almost ichiban …

    Spiking ebot Taman Safari …
    Dari 5 orang anggota keluarga dirumah …
    Hanya saya yang belum pernah kesana …
    hah …
    Si Bungsu dan tengah malah sudah 2 kali masing-masing
    Bunda jadinya sudah 4 kali …
    (soalnya pas giliran nganter studi wisata sih …)
    Giliran aku pasti … pas Taman Mini lagi … Taman Mini lagi …
    Jadilah aku lebih hapal pojok-pojoknya taman mini …
    hehehe

    Wah, kasian si bos belon pernah ke TSI.
    Sempetin dong, Bos.
    Jangan mojok aja di taman mini….

  3. duh dah lama banget yah ke taman sapari, kayaknya pas saya sd, abis itu nggak ada kesempatan lagi, dan kayaknya belum tertarik lagih, ada apakah sekarang disana?

    ada macam2 lah, mas. untuk acara keluarga sih pas banget…

  4. Pak Heryazwan,
    lebih tepatnya bukan safari malam atau safari night..
    tapi safari SURUP.
    lha jam 21.30 udah tutup kok.. 😀 tiwas saya serombongan kesono..

    kshan bossNH 😀

    anjing laut sangat menghibur boss.. + yg sebelah bawah anjing laut, tampil burung, anjing, monyet juga sangat menghibur.

    masa sih jam 21.30 udah pada tutup?
    wah nggak bener nih.
    atau mungkin kalau kemaleman, takut ganggu istirahat para hewan.

    btw, kasihan bos Nh yang belum pernah ke sana…

    semua pertunjukan di sana menurut saya menghibur dan positif bagi anak-anak (orang dewa juga kok)…

  5. Taman Safari bisa membikin dunia anak2 menjadi lebih hidup dan dinamis. saya sedih melihat habitat binatang yang sudah banyak tergusur. beberapa waktu lalu saya iseng bertanya kepada seorang anak sekitar usia 4 tahun. “Pernah lihat kodok?” si anak menjawab, “pernah”. Di mana? “Di bondin”! waduh, ternyata utk sekadar melihat kodok saja mesti di bonbin, haks. Rupanya sawah dan kebun sudah bukan lagi tempat yang nyaman utk dihuni oleh kodok.

    Kalau di Jakarta yang banyak tikus, Pak.
    Kalau di rumah saya malah banyak kodok yang masuk ke dalam rumah, bahkan terkadang nyempil di kamar mandi.
    Berarti masih bagus ya Pak?
    Hihiihii

  6. Sepasang beruang kutub itu masih ada, nggak? Kalau di Artik sana bulunya putih seperti salju, kini di Indonesia bulu itu jadi cokelat, entah karena oksidasi atau karena apa.

    Saya juga kasihan melihat menu beruang itu. Kalau di Artik sana dia makan anjing laut dan ikan salmon, maka disini–saban hari–dia hanya makan ikan mas.

    Kalau saya jadi beruang kutub itu, sudah lama saya “stress”. Manalah udara panasnya bukan main. Manalah setiap kali mau bermesraan dengan pasangan selalu ditonton orang. Manalah menu ikan masnya hanya itu-itu saja (yang mentah, dan tak pernah ada yang digoreng, dipanggang atau dipepes).

    Saya pasti sudah menabrakkan tubuh saya ke dinding kaca itu. Pecah, pecah deh! Lebih baik, mati aja sekalian! 🙂

    Namanya juga binatang. Pasti beruang kutub tadi nggak bakalan berpikir kritis seperti Tulang.
    Aku kurang memperhatikan masih ada apa nggak ya si beruang kutub tadi.

  7. Saya pernah tidak masuk kantor sehari hanya karena ingin mengajak keponakan saya Kika (waktu itu berumur 3 tahun) ke Taman Safari. Capek-capek saya mengajak gadis kecil itu melihat singa, harimau, zebra, unta dsb, tahu-tahu dia hanya tertarik dan tertawa ketika melihat ada sepasang kupu-kupu yang sedang hinggap di atas batu.

    “Amangtuaaaa, Amangtuaaa, lihat deh! Ada kupu-kupu….”

    Dan Amangtua–yang sudah berkorban banyak waktu, uang dan tenaga ini–hanya bisa berkata, “Ya, ampuunn…..”

    Memang kita tidak bisa menebak keinginan anak-anak.
    Terkadang apa yang kita anggap bagus, belum tentu menurut mereka.

  8. Kemarin saya baru ke taman safari, ternyata kita bisa keliling taman safari naik gajah.

    wah asyik tuh, keliling safari naik gajah, tapi kaki bisa pegal karena ngengkangya lebar banget..

  9. Say pernah ke taman safari waktu kelas 1 smp sekarang saya kelas 2 smp,saya tertarik pleh para keeper yang melatih para hewan,saya pun berangan-angan sayab ingin menjadi keeper di taman safari tapi gimana ya caranya?

  10. tadi [9-7-2010] aku ke tsi rencananya mw nemenin sepupu umur 3 thn liat beruang kutub setelah sering liat acara tv bernard si beruang kutub di tpi, ternyata sepupu ku sedih krn dpt info kalau beruang kutub itu telah mati… 2 ekor mati, seandainya Greenpeace tahu masalah ini pasti tsi sudah mendapat protes…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s