Bulan: November 2008

Baca Doa dan Moderator

Minggu ini ada banyak hal yang harus aku lakukan. Di samping harus mempersiapkan stan Grafindo pada Indonesia Book Fair, aku juga dapat “order” untuk membaca doa pada pembukaan Indonesia Book Fair dan menjadi moderator pada seminar tentang Reproduction Right yang disponsori oleh WIPO. Dua kegiatan ini sebenarnya agak bertolak belakang, tapi bagiku, kalau orang percaya mengapa tidak aku terima.

Sehari sebelum pembukaan IBF 2008, panitia mengirim sms kepadaku untuk melakukan gladi resik. Aku pun datang, di tengah suasana assembly hall yang hiruk pikuk karena kontraktor sedang membangun stan masing-masing. Debu beterbangan dengan dahsyatnya. Bau cat menusuk hidung. Keringat pun bercucuran. Sedikit sekali pekerja yang memakai masker, termasuk panitia yang mempersiapkan acara pembukaan. Lanjutkan membaca “Baca Doa dan Moderator”

Obama dan American Dream

Obama akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-44 mengalahkan John McCain dari Partai Republik.  “Change has come to America”, kata Obama pada pidato kemenangannya yang disambut riuh oleh pendukungnya di Chicago. Seluruh dunia menyambut gembira kemenangan Obama. Tak jelas, apakah Osama juga senang, sehingga dia menghentikan terornya terhadap dunia. Lanjutkan membaca “Obama dan American Dream”

Gontor Sumbar

Hari Jumat minggu lalu, aku terlibat dalam sebuah proyek “akhirat”, mengutip pernyataan pemilik perusahaan tempat aku bekerja, Bapak Haji Syaifullah Sirin. Mengapa disebut proyek akhirat? Karena proyek ini bertujuan untuk mewujudkan berdirinya sebuah pondok pesantren di Sumatera Barat yang berafiliasi ke Pondok Modern Gontor. Jadi tidak ada janji profit sharing di proyek ini.

Proyek ini diinisiasi oleh Dewan Dakwah & Risalah (DDR) yang terdiri dari tokoh serantau yang berasal dari Sulit Air, sebuah nagari yang terletak di kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dengan luas tanah lebih dari 10 hektar diharapkan pondok ini bisa menjadi pusat cahaya bagi pendidikan di Sumatera Barat. Lanjutkan membaca “Gontor Sumbar”

Pantai Ancol

Di Jakarta, tampaknya hanya di Ancol kita dapat menemukan pantai yang tidak terlalu jauh. Kalau harus ke Pangandaran atau Anyer, wah udah capek di jalan duluan. Kalau ke Ancol, apalagi di Minggu pagi, dengan mengeluarkan uang Rp 6.000 kita sudah bisa menikmati jalan tol dalam kota dan tiba di pantai dalam hitungan menit (dengan catatan kalau rumahnya masih di dalam kawasan kota Jakarta).

Minggu kemarin, aku berkesempatan membawa tiga keponakan dari adikku yang di Bandung. Mereka kutawari, mau ke pantai atau berenang di kolam kompleks. Acal dan Miki memilih pantai, hanya Sasa memilih kolam. Maka, kuputuskan untuk ke pantai Ancol. Kami berangkat tanpa papa mereka yang sedang menguji di Purwacaraka Music School cabang Harapan Indah.

Lanjutkan membaca “Pantai Ancol”