Sup dan Tulang

Hari Minggu kemarin, di kulkas kami masih ada 5 potong  tulang sapi sisa kurban yang belum diolah. Untungnya, tulang ini sudah dipresto sama mama mertuaku yang tinggal di Cianjur, sehingga tidak sulit untuk mengolahnya menjadi sup tulang (sedikit daging).

Aku memberanikan diri meramu bumbunya, hitung-hitung sekalian eksperimen. Kalau masalah tumis-menumis seafood seperti udang dan cumi aku sudah ahli. Tapi kalau masalah sup, aku masih buta. Aku hanya mengandalkan pengalaman lidahku menikmati sup masakan mamiku dan dari sebuah warung padang.

Kuiris lima butir bawang putih dan lima butir bawang merah. Sayang daun seledri yang dibeli beberapa hari yang lalu sudah layu. Yang ada hanya daun bawang. Ya sudahlah, tak mengapa. Semua bahan tadi kutumis di atas pan.

Kukais-kais lagi koleksi bumbu di lemari dapur. Rupanya masih ada cengkeh, kapulaga dan kayu manis. Aha…ini yang kucari.

Maka, setelah air kupanaskan hingga menggelegak, tulang pun kumasukkan ke dalam air. Kemudian, tumisan bawang beserta minyaknya kutuang ke air tadi. Tak berapa lama, kucemplungkan tiga helai cengkeh kering, satu biji kapulaga, dan satu linting kayu manis. Tak lupa, garam, lada dan bubuk kaldu turut dicemplungkan.  Tak sampai lima menit matanglah sup tersebut.

Tak lupa kuiris cabe domba kecil-kecil sebagai “perangsang”, yang dicampur dengan kecap asin. Ramuan ini khusus bagi mereka yang menyukai tantangan.

Dengan sedikit tambahan nasi, kulahap ramuan sup ini dengan lahap. Ternyata dagingnya empuk sekali. Upaya untuk melepaskan daging dari tulang merupakan sebuah perjuangan yang mengasyikkan. Tiga potong berhasil kuhabiskan. Istriku yang juga bisa menikmati, hanya mampu menghabiskan satu potong tulang. Kebetulan dia memperoleh tulang yang berdaging banyak.

Setelah selesai makan, kutawarkan kepadanya, “Neng, kita masih punya setengah kilo daging di kulkas. Besok-besok disup lagi ya?”

“Jangan, Mas. Sup itu enaknya kalau pake tulang. Kalau daging mah nggak ada tantangan.”

Ehm…

Dalam hidup, manusia selalu memerlukan tantangan agar hidupnya lebih bahagia. Kalau lurus-lurus saja hidup terasa hambar.  Anak-anak yang diberi fasilitas berlebihan oleh orangtua yang kaya banyak terjerumus ke lembah narkoba. Mereka merasa hidup mereka hampa, kosong, suwung. Semua kenikmatan sudah mereka rasakan. Lalu apa lagi? Akhirnya mereka melampiaskannya dengan obat-obatan terlarang yang bisa memberikan sensasi luar biasa.

Di saat krisis finansial yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, usahlah kita  terlalu terbawa arus. Anggaplah krisis ini seperti tulang sup tadi. Di atasnya pasti ada daging yang lezat untuk digerogoti. Setelah hujan yang deras, pasti ada secercah sinar mentari sesudahnya.

Banyak perusahaan baru yang muncul pasca krisis 1998. Motivator dan trainer juga bermunculan setelah krisis tersebut. Mungkin jika tidak ada krisis, mereka tidak punya alasan untuk muncul.

Lho, ini ngomongin makanan atau ngomongin krisis sih?

Atur aja deh…

Iklan

17 tanggapan untuk “Sup dan Tulang

  1. Beuh …
    Abang Masak …
    Abang Masak …

    Salut sangat …
    Kalo aku paling banter Nasi Goreng en Indomie Telor doang …
    Huahahha …
    Itu pun kadang-kadang gosong …

  2. hmmm bumbu nya hampir mirip sup buntut kok bang…
    udah ahli nih hehehe.
    biasanya kayu manis dimasukkan bersama nutmeg (pala)… pake pala ngga bang?

    asyik ntar aku mau dimasakin abang ah kalo ke Jakarta.
    EM

  3. Wah…
    Abang jago masak yaa….
    Jadi semakin malllyyuuu… abis aku ini meskipun perempuan, tapi ndak bisa masak… Kalaupun bisa, pasti nggak yang ribet-ribet.. tinggal yang cemplang cemplung dan pake bumbu jadi aja…
    hehehehe… (malah kalau nggak kepingin lebih ribet, tinggal beli soto trus dipanasin lagi.. hihihi)

  4. *eh, Asunaro mejeng* 🙂

    Menanggapi soal krisis.. Memang benar, profesi seperti Motivator yang kini menjamur itu tidak akan pernah muncul sebanyak ini kalau tidak dipicu oleh kejadian-kejadian yang berat seperti peristiwa krismon 1998. Dan seperti halnya permasahan-permasalahan lain di dalam hidup kita, semua tergantung bagaimana kaca mata setiap manusia yang melihat. Kalau memang itu disebut tantangan, pasti akan berbuat sebaik mungkin untuk menghadapinya. Tapi kalau itu disebut hambatan, ya sudah.. selesai… terpuruk.. ogah berusaha..

    Sekarang kita mau jadi kaum yang mana?
    Menjadikan itu tantangan untuk maju?
    Atau menjadikan itu penghalang untuk maju dan mendesak kita ke belakang?

    It’s our calls.. 🙂

  5. Nah-nah-nah, nanti kalau aku bertandang ke Jakarta, kuminta bikinkan yang persis seperti itu. Biar aku yang bawa tulangnya (tulang doang maksudnya!), he-he-he…

    *membayangkan saja sudah betapa lezatnya*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s