The Last Lecture

Hampir sebulan buku “The Last Lecture” ada di tanganku. Buku ini tiba sehari sebelum hari ulang tahunku sebagai hadiah. Nggak taunya, perusahaan ekspedisinya bisa mengirim lebih cepat.

Kadang-kadang lebih cepat itu tidak selalu lebih baik. Lho, kok malah ngomel, bukannya berterima kasih. Eh iya. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, arigato gozaimasu, kepada pengirimnya kakanda (jadul banget ya pake istilah kakanda?) Imelda Coutrier di Tokyo yang sudah bersusah payah dan mau repot-repot mengirim buku kepadaku. Semoga bisa menjadi barokah. Amien…

Berhubung bukunya berbahasa Inggris, kecepatan bacaku tentu saja tidak secepat ketika aku baca Maryamah Karpov. Apalagi, di buku ini banyak pesan-pesan yang mendalam dan penuh perenungan sehingga rugi kalau dibaca cepat-cepat. Jadi, tiap malam sebelum tidur aku baca 3-4 chapter. Kalau udah ngantuk, satu chapter pun jadi.

Buku ini terdiri dari 216 halaman, seukuran buku The Secret versi Indonesia. Ada 60 chapter yang bercerita tentang kisah hidup Randy Pausch, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Carnegie Mellon, yang mengidap kanker pankreas. Setiap chapter terkadang hanya berisi satu halaman. Jadi, mirip panjangnya postingan di blog deh.

Kuliah terakhir Randy yang disampaikan tanggal 18 September 2007 memukau dunia, sehingga banyak disaksikan di Youtube. Kuliah ini akhirnya dibukukan oleh Randy bekerjasama dengan Jeffrey Zaslow, seorang jurnalis di Wall Street Journal. Saat itu, usia Randy diramalkan hanya tinggal tiga bulan lagi.

Randy, yang punya tiga orang anak yang masih imut, ingin memberikan kenang-kenangan kepada mereka. Ini nih babe loe.

Begitulah, setiap hari setelah kuliah terakhir tersebut Randy mendiktekannya kepada Jef sambil bersepeda. Randy tidak mau proyek pembuatan bukunya ini malah mengambil waktu keluarganya (istrinya Jai dan ketiga anaknya).

Tak sampai sebulan selesailah buku ini yang kemudian menjadi best seller di Amerika. Konon buku ini laku 2 juta eksemplar dan berhasil mengalahkan The Secret selama beberapa minggu.

Isi kuliah terakhir Randy yang bertajuk “Really Achieving Your Childhood Dream” sangat inspiratif. Apalagi, mimpi-mimpi masa kecil Randy hampir semuanya tercapai dengan cara yang terkadang unik. Misalnya saja, Randy bermimpi bisa merasakan zero gravity. Kesempatan ini dia peroleh tatkala mengantar mahasiswanya studi banding ke NASA. Berhubung dosen tidak boleh ikut, maka Randy melamar sebagai wartawan kampus yang akan meliput kegiatan ini. Mimpi-mimpi Randy yang lain adalah bertanding di NFL (liga sepakbola Amerika), bekerja di Walt Disney, dsb. Semua mimpi ini tercapai dengan caranya sendiri dan diuraikan dengan sangat manis di buku ini.

Dalam hal ini Randy merasa beruntung dilahirkan dari orangtua yang membiarkan anaknya bermimpi dan berkreasi dan tidak mengarahkan mereka sesuai keinginan orangtua. Menurut Randy, dia sudah mememangkan Parent Lottery. Untuk meneruskan kebaikan ini, Randy juga membiarkan anaknya memilih bidang yang sesuai dengan mereka.

Sebagai orang yang telat menikah (di umur 37), Randy cukup akrab dengan ponakannya saat dia masih bujangan. Untuk menunjukkan kecintaannya kepada sang ponakan, Randy bahkan menuangkan soda di jok mobilnya. Dengan tindakan ini diharapkan sang ponakan tidak merasa bersalah jika nanti dia muntah di mobil ini. Kelak, Randy juga ingin anaknya diperlakukan seperti ini oleh sang ponakan, saat Randy sudah tiada.

Membaca ini saya jadi teringat kalau keponakan naik mobil saya, selalu saya tanya, “Anak-anak udah pada ee belon? Plastik muntahnya udah dibawa apa belon?” Saya jadi malu sama Randy.

Bisa dibilang, buku ini berisi petuah tentang kehidupan yang disajikan dengan bahasa yang sederhana dan berkonteks kehidupan Randy, baik sebagai manusia, mahasiswa maupun dosen. Misalnya saja, bagaimana dulu orangtua Randy membiasakan mereka membaca buku, dan menjauhkan mereka dari televisi.

Di antara petuah Randy yang masih saya ingat adalah sbb:

  1. Hati-hatilah jika kita dicuekin. Seringkali dikritik lebih baik daripada dicuekin. Kalau tidak ada lagi orang mengkritik kita artinya orang lain sudah menyerah dengan kelakuan kita. Karena itu, terimalah kritik sebagai bagian dari proses untuk kebaikan kita.
  2. Jangan pernah mengeluh bila menghadapi ujian apapun. Do not complain. Just work hard. Kerja keras tidak saja berlaku di tempat kerja, tetapi juga dalam membentuk keluarga. Tidak ada keluarga yang harmonis tanpa kerja keras dari pihak suami dan istri. (Eh ini dari buku ini atau dari buku lain ya? I’m not sure)
  3. Hambatan ibarat dinding tebal yang tiba-tiba menghadang dihadapan kita. Dinding tersebut bukan untuk menghentikan langkah kita, tetapi untuk menunjukkan seberapa besar dedikasi kita untuk mencapai tujuan. Randy pernah ditolak sebelum dia diterima menjadi mahasiswa Ph D.
  4. Jangan terpengaruh dengan cara bicara orang kepada kita untuk menyampaikan sesuatu dengan tujuan yang sama. Lihat isi pembicarannya, bukan cara menyampaikannya. Lha ini sih mirip pepatah “Unzhur ma qola, wala tanzhur man qola”.
  5. Jangan pernah sombong, karena sombong akan membatasi ruang gerak pencapaian kita.
  6. Walaupun gagal beberapa kali atau menghadapi berbagai hal, “jangan menyerah”
  7. Jujur. Jangan pernah mempertaruhkan integritas Anda.
  8. Mohon maaf dengan tulus bila melakukan kesalahan. Jangan sampai minta maafnya malah nambah buat kesal.
  9. Bantulah teman Anda untuk mencapai kesuksesan.
  10. Jangan takut salah dalam bertindak. Jadilah seperti penguin pertama yang berani melompat ke air duluan.

Akhirnya, Randy tak kuasa melawan takdir. Pada tanggal 25 Juli 2008, 9 bulan pasca kuliah terakhir atau ekstra 6 bulan dari ramalan dokter, maut menjemputnya dalam usia 48 tahun. Namun, petuah-petuahnya tetap hidup untuk menginspirasi keluarganya yang ditinggalkan dan kita semua.

Iklan

20 tanggapan untuk “The Last Lecture

  1. Ah … Iya bang … ini buku yang layak untuk di koleksi …
    (aku mau beli yang Endonesa saja …)
    Mudah-mudahan terjemahannya bisa smooth dan tidak malah jadi aneh kata-katanya …

    Aku sempat melihat buku ini di toko buku … aku hampir tertarik untuk membelinya …

    But setelah membaca review abang ini …
    This book will be on my shopping list … (halah List … emang berapa buku yang akan kau beli wahai trainer …) (Dan trainer mencawab … Satu …)

    hehehe
    Thanks Bang

  2. Buat Pak eNHa buku bahasa Indonesia-nya lumayan bagus kok terjemahannya, paling hanya 1-2 term yg agak kurang konek dg konteks-nya (tapi saya lupa, yg saya ingat cuma soal “tipuan kepala” (?)). Juga ada bonus CD berisi rekaman last lecture-nya, hanya saja sayangnya resolusinya rendah seperti di youtube. Padahal harapan saya itu adalah kopi dari film aslinya.

    Tapi it’s really inspiring, dan saya justru sangat terkesan dan terharu saat melihat film-nya itu.

    Thanks to Bang Hery dengan ulasannya yg seperti biasa sangat detail dan komplit … pakai telor … halah!

  3. oooh tanggal 25 Juli 2008 meninggalnya ya? aku malah bertanya-tanya terus kapan dia meninggalnya hehehe (ngga inget nyari di Mas Google).

    Hehehe aku bacanya? 2 hari bang. Nyuri-nyuri waktu naik kereta pergi ngajar. Soalnya dikejar deadline kan hihihi

    Aku juga ada beberapa point yang aku catat, nanti aku posting dengan tulis link ke sini ya.

    (I have to thank Pak Oemar also (semoga pak Oemar baca), karena kalau tidak ditulis dalam blog pak Oemar aku ngga tahu ada buku bagus hehehe)

    tabik
    EM

  4. The Last Lecture.
    Oh iya, dulu pernah dibahas juga sama Pak Grandis ya… Pantesan kok sangat familiar… (dan pas liat di Gramedia, kebayang2 wajahnya Pak Grandis, pula.. hehehe)

    Buku wajib punya ya, Bang..
    Hmm… ntar deh aku beli…

    Eh, Bang… aku salut sama Abang yang berhasil menulis review sebaik ini. Point-pointnya aku baca pelan2 biar meresap di hati…. cieehh..

    Eniwei…
    Agak melenceng dari topik, nih, Bang. Ada salah satu episode di Oprah yang bercerita tentang seorang Ibu penderita Kanker dan divonis akan meninggal dalam waktu beberapa tahun. You know what, ibu itu melakukan apa? Dia merekam dirinya sendiri dengan handy cam, lalu membuat banyak video yang isinya adalah dia sedang mengajari anak gadisnya.

    Dia bicara soal first date…
    first love…
    bagaimana ber-make up yang baik…
    berdandan yang nggak norak…
    mencari lelaki yang baik…
    dll dsb, dan masing-masing dibuat dalam video yang terpisah! Kelak, dia berharap, video2nya itu bisa membimbing anaknya ketika ia sudah meninggal nanti…

    Sumpah, aku menangis, Bang…. benar-benar terharu. Saat itu, si Ibu memang masih hidup dan membagi cerita ini ke penonton. Aku nggak tahu bagaimana dia sekarang……

  5. Dari hasil yang bapak post sepertinya buku ini cukup bagus…tanpa pikir panjang, sekaligus ngasih tahu juga….saya pengen beli nih pak….biar sama2 tahu isi nya seperti apa. Tul??
    Salam

  6. Rasanya buku terjemahannya di Indonesia sudah ada di Gramedia (inget-inget lupa)…cuma kemarin belum menjadi prioritas beli, karena terus terang saya tak suka buku yang sedih…karena hidup ini sudah berat, jadi penginnya bacaan yang menyenangkan. Dasar…..sama seperti nonton film penginnya yang gambarnya indah, juga makanan yang warnanya nggak hitam (bukan rawon).

    Tapi lihat resensinya bang Hery, kayaknya Oke juga.

  7. Bang Hery, benar kata Bu Enny, sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan dilengkapi CD. Ah lebih tahu Bang Hery kali yang bekerja di penerbitan. Sebaiknya dibeli Bang supaya handai taulan yang tak terlalu paham bahasa Inggris juga mendapat hikmahnya.

    Yang saya ingat, Randy tidak mengajak pembacanya larut dalam kesedihan tetapi ingin menularkan semangat hidup. Ah ada satu kalimat indah yang saya lupa, tapi saya ingat betul, sengaja dia habiskan waktu yang mestinya lebih berharga bagi keluarga yang akan ditinggalkan, demi menjadikan dirinya “message in the bottle” untuk anak-anak dan kerabatnya kelak ketika ia benar-benar wafat.

    *sambil bongkar-bongkar rak buku, mencari The Last Lecture yang nyelip entah dimana*

  8. kemarin buku ini jadi topik di kick andy
    aku dah daftar di sana, siapa tahu dapat, hehehe…

    btw, reviewnya bagus banget bro, thanks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s