Tarawih

Tarawih berjamaah bagi para pekerja metropolitan Jakarta merupakan suatu kemewahan. Bahkan untuk berbuka puasa di rumah sekalipun, banyak yang tidak bisa merasakannya, termasuk saya. Rumah di pinggiran Jakarta yang relatif jauh dari tempat kerja di pusat kota menjadi penyebabnya. Ditambah lagi, kemacetan yang memuncak menjelang waktu berbuka membuat patah arang untuk mengejar taraweh berjamaah. Karena itu saya tidak mau menambah kemacetan jalan dan ikhlas berbuka puasa di luar rumah.

Minggu malam yang lalu kami memperoleh kemewahan dengan bertarawih di mesjid Al Azhar Kebayoran. Kebetulan, sorenya ada acara bedah buku ‘Negeri 5 Menara’ karangan teman saya A Fuadi di tempat yang sama. Jadi sekalian bisa ngabuburit. Acara ini dihadiri sekitar 100 pengunjung yang terdiri dari anak muda anggota YISC dan masyarakat umum. Tanggapan terhadap acara ini cukup baik ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang ingin bertanya. Acara yang dimulai pukul 16.00 ini berakhir sekitar pukul 17.30. Jadi, waktu berbuka tinggal sebentar lagi. Mau buka di mana?

Takmir mesjid sejatinya telah menyediakan 600 paket berbuka di aula Buya Hamka yang terletak di lantai dasar. Namun, rasanya kok tidak elok kami mengambil hak kaum duafa dan ibnu sabil. Akhirnya kami memutuskan untuk berbuka di gerai yang terletak di halaman mesjid. Ada sekitar 3 gerai di sana. Bermacam menu yang ditawarkan, mulai dari kebab, soto, masakan padang seperti rendang, ayam goreng, dsb.

Minuman yang ditawarkan juga bervariasi dari mulai air tebu, es buah dan makanan standar pabrik seperti teh botol dan air mineral. Istriku memilih es buah dan tahu goreng plus bumbu kacang, sementara aku memilih air tebu dan lupis. Di waktu berbuka ini tampaknya tidak begitu banyak pengunjung di sini. Mungkin lebih banyak yang hadir di aula.

Usai shalat magrib, kami mencari makanan di luar kompleks mesjid. Ternyata cukup banyak pedagang kaki lima yang berjualan dari mulai bakso, pecel lele, sate padang. Dari jauh ke arah Blok M terlihat beberapa warung kaki lima yang lebih besar, lebih permanen dan lebih bersih tampaknya. Namun karena relatif jauh kami memutuskan makan di warung yang dekat pagar saja.

Beberapa pengemis cilik mulai beraksi yang membuat kita yang makan sedikit terganggu. Sayup-sayup terdengar suara sinden dan petikan kecapi. Rupanya seorang ibu tua yang sedang mengamen dengan duduk bersimpuh. Bunyi yang dihasilkan berpadu dengan suara si ibu tua dalam bahasa Jawa sangat eksotis. Saya jadi khawatir kalau si mbok dilihat oleh seorang pemandu bakat dari PH negara tetangga yang sedang buka front dengan kita. Bisa-bisa si mbok dibawa ke sana untuk menjadi talent iklan The Truly Asia.

Tak lama, azan Isya berkumandang. Jamaah yang ada di luar mulai memasuki mesjid. Tampak seorang ibu dituntun anaknya dari bajaj. Untung bajaj tersebut berbahan bakar gas sehingga si ibu tidak gemetaran ketika turun. Jamaah lain datang rombongan dengan anak berusia sekolah dasar. Mesjid semakin meriah adanya.

Setelah azan usai, jamaah melakukan sholat Rawatib. Tak lama pengurus membacakan laporan yang berkaitan dengan kegiatan selama Ramadhan dari mulai daftar penceramah sampai nilai kotak amal. Aku sangat takjub dengan dana yang terkumpul setiap malam sejumlah Rp 7.000.000. Adapun dana yang dihabiskan untuk penyediaan makanan buka puasa (takjil) senilai Rp 4.000.000. Pengumuman lain adalah tentang penerimaan zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah tahun ini sebesar Rp 25.000 per orang.

Pengumuman berlangsung sekitar 15 menit sehingga sholat Isya baru dimulai sekitar pukul 19.30. Mungkin hal ini sekaligus untuk menunggu jamaah lain yang belum tiba. Tampak seorang berpakaian gamis putih berwajah timur tengah menduduki saf depan. Sepertinya beliau anggota CD atau korps diplomat. Seorang Bapak yang berwajah bersih meletakkan BB dan dompetnya di dekat jendela. Aku kok jadi khawatir kalau-kalau ada orang iseng mengambilnya. Meski terletak di lantai dua, di depan jendela adalah tempat terbuka yang bisa dimasuki siapapun. Hanya saja, perlu tenaga ekstra untuk memanjat jendela.

Suasana di dalam mesjid cukup panas meskipun jendela sudah dibuka lebar dan AC dipasang di setiap sudut. Untung aku ada disaf pertama, pas di depan jendela sehingga hawa dingin dari luar dapat mengurangi gerah. Dari jendela ini, kita dapat melihat halte busway yang terletak pas di depan mesjid. Jadi, bagi anak kecil yang matanya sering melirik kiri kanan dianjurkan agar tidak mengambil tempat di saf pertama pas di depan jendela.

Shalat Isya pun dilakukan. Sang Imam membacakan surah Al Bayyinah pada rakaat pertama. Cukup panjang memang. Didukung dengan sound system yang prima, bacaan imam terdengar sangat merdu dan syahdu.

Setelah usai Isya dan Rawatib didirikan, naik ke atas mimbar Ust H Mas’adi Sulthani MA. Kebetulan sekali, beliau adalah tokoh Etek Gindo yang diceritakan dalam buku ‘Negeri 5 Menara’ yang cukup berpengaruh pada Alif Fikri untuk masuk pondok. Kok bisa ya, paman dan kemanakan ada di tempat yang sama pada hari yang sama? Benar-benar aneh…

Ceramah berlangsung sekitar 15 menit, sehingga Tarawih baru dapat dimulai pada pukul 20.00. Bahasa yang digunakan oleh penceramah sangat intelek. Istilah-istilah Inggris banyak digunakan. Hal ini menyesuaikan dengan jamaah yang sebagian besar terdiri dari kaum intelek. Meskipun topiknya puasa dan membahas seputar makna takwa yang diharapkan setelah berpuasa, tapi istilah seperti INTEGRITAS, KAPASITAS, KOMPETENSI, CHARACTER BUILDING, banyak terlontar dari mulut sang penceramah. Jamaah anak-anak mungkin agak sulit memahaminya.

Tarawih berlangsung dua dua. Artinya beristirahat setiap dua rakaat. Di tempat lain ada yang melakukan secara empat empat, artinya beristirahat setiap empat rakaat. Ayat yang dibacakan setelah Al Fatihah bukan ayat yang ada pada juz amma, tetapi ada pada juz lain. Imam membacakan secara tartil bahkan relatif lambat sehingga jamaah yang sudah tua sangat rileks. Jumlah ayat yang dibaca tidak terlalu panjang sehingga jamaah tidak berdiri dalam waktu lama. Jadi, setiap dua rakaat berlangsung sekitar 5-7 menit.

Pukul 20.30 tarawih usai dan dilanjutkan dengan witir tiga rakaat. Praktis, witir usai pukul 20.45 setelah di akhir diiringi dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh imam.

Setelah tarawih, jamaah menyerbu penjual air tebu yang dibandrol gocengan alias Rp 5.000. Puluhan jamaah antri di depan gerai sehingga memacetkan jalan keluar bagi jamaah lain. Gerai makanan kembali dipenuhi oleh jamaah bahkan lebih ramai dari waktu berbuka. Banyak jamaah yang membeli dibungkus untuk makan sahur. Akupun tak ketinggalan membeli soto daging.

Taraweh berjamaah memang beda dengan taraweh sendiri. Ada perasaan atau suasana nikmat yang tidak bisa diperoleh saat sendiri. Susah sih mengungkapkannya. Apalagi ketika di salat tarawih sebagian lampu dimatikan untuk mengurangi hawa panas. Suasananya benar-benar kondusif untuk menuju khusyuk.

Minggu depan mau taraweh lagi ah…Tentu saja ke mesjid lain.

Yuk tarawih!!!

Iklan

14 tanggapan untuk “Tarawih

  1. Padahal saya datang pada acara itu lho, tapi kok ga bertemu ya? Tentang tarawih, saya lebih suka shalat sendiri di penghujung malam sebelum sahur. Toh, tarawih itu kan termasuk shalat malam mirip tahajud. Lagipula, kala malam itu sangat senyap dan khidmat jadi lebih enak buat berdoa. πŸ™‚

  2. Ini benar sekali Bang ..
    Saya termasuk yang selalu melakukan A.K.A.P ketika sore hari nya … alias berkendara Antar kota antar propinsi …
    Kerja di Propinsi DKI … Rumah di Propinsi Banten

    Sehingga praktis Tarawih Berjamaah di masjid hanya bisa saya lakukan selama weekend saja …
    dan saya beruntung punya rumah yang berlokasi didekat masjid kompleks … tinggal jalan 50 m

    Thanks Himbauannya Bang …

  3. aku tahun ini nyaris tidak bisa shalat berjamaah di masjid. aku tarawih sendiri di rumah. penyebabnya karena kakiku belum bisa dilipat sempurna akibat kecelakaan tempo hari itu, sehingga memaksaku untuk shalat dengan cara duduk di kursi. akibatnya, bila ada jadwal ceramah, aku jadi gak enak dengan jamaah, karena aku datang hanya untuk ceramah dan shalat di rumah…

  4. Ya, tarawih berjamaah di tempat yang nyaman memang meberikan kekhusukan yang lebih mendalam. Saya bela-belain tarawih di Masjid Kampus UGM yang jauh dari rumah, karena disana suasananya nyaman, adem, penceramahnya bagus-bagus, dan bacaan imamnya sangat fasih.

    Selamat menunggu tarawih di akhir pekan berikutnya Bang.

  5. saya merindukan suasana religius semacam ini, mas azwan. selain bisa menjadi ajang silaturahmi, dg berjamaah suasana khidmad dan khusyu’ bisa lebih terbangun. apalagi ada acara bedah bukunya segala. hmm … bener mantab dan bikin iri nih, mas.

  6. di bandung menjelang buka puasa jalanan macet bukan main, semua ingin buka puasa “tepat waktu” di rumah, kalau ada acara sampai agak sore saya mendingan sekalian buka puasa di luar rumah & menunggu jalanan agak sepi …

  7. Saya bulan puasa ini selalu menyediakan permen atau minuman di tas, karena sering terpaksa buka dijalan. Apa boleh buat, sholat Tarawih pun sering dilakukan di rumah, atau di hotel kalau sedang tugas keluar kota

  8. Wah, kayaknya seru juga ngerasain tarawih berjama’ah di berbagai tempat. Saya mah di masjid deket rumah saya aja dari dulu. Pernah pengalaman shalat di masjid lain, jadi bingung setelah shalat isya ada shalat qada dulu. Shalat qada, berjama’ah pula. Tapi, yah, walaupun saya sih asik-asik aja mencoba untuk tidak macem-macem, cuma jadinya duduk sendiri pas yang lain shalat, aneh juga. masjid langganan (masjid langganan?) ada juga imam yang baca suratnya bukan juz ‘ama. Biasanya kalau beliau giliran imam, masjid jadi rada sepi. Sebab di tempat saya lebih dari setengah jema’ahnya justru anak-anak muda dari usia SD sampai kuliahan yang begitu ngeliat sang imam tersebut yang maju, mendadak bubar, heheh.. Pindah ke masjid tetangga. Saya kira, imam juga seharusnya mengerti dulu jama’ahnya.
    Mungkin kapan-kapan merasakan shalat di berbagai masjid. Kapan yaa… ?

    Waktu masih mahasiswa saya punya giliran jadi imam di musholla. Udah gitu 23 rakaat lagi. Maka, saya yang masih muda saat itu dengan semangat 45 menunaikan tugas dengan heroik. Pas tiba diliran seorang pak tua yang dihormati di musholla itu, jamaah pada komplain karena bacaannya lambat sekali. Akhirnya saya selalu dipersilakan mengimami. Tapi lama2 nggak tahan juga terus2an jadi imam, apalagi dengan kecepatan tinggi. Akhirnya saya suka kabur sholat tarawih di mesjid lain yang 11 rakaat. He he…

  9. tiga tahun ini aku taraweh dirumah saja…..
    bukan tidak mau ke masjid tapi ntah kenapa lebih nyaman bertaraweh dirumah, selain lebih fleksibel aku juga bisa menambah kegiatan lain untuk beribadah πŸ˜€

    bukunya udah aku baca tuntas..tas..tas…
    keren!!!

    Emang kalau taraweh di rumah sebenarnya lebih enak. Rasul sendiri taraweh cuma 3 malam secara berjamaah. Selebihnya beliau taraweh sendiri karena khawatir taraweh menjadi wajib bagi umatnya. Tapi, dengan berjamaah, di samping ibadah, kita juga dapat bersosialisasi dengan teman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s