Mandi di Kali

duh aduh Siti Aisyah

mandi di kali bajunya basah

tidak sembahyang tidak puasa

di dalam kubur mendapat siksa

(sebuah lagu kasidahan, judulnya lupa)

Bagi anak-anak yang tinggal di Jakarta saat ini (tahun 2009), mandi di kali barangkali tidak pernah terpikirkan dalam benak mereka. Ya iyalah. Udah airnya kotor, banyak sampah, terkena polusi pula.

Meskipun demikian, jika kita sedikit rajin mengintip di sepanjang aliran kali Ciliwung, maupun di bawah simpang susun selepas tol bandara, kita dapat menemui masyarakat yang masih memanfaatkan kali untuk mandi, mencuci, bahkan sikat gigi. Kemiskinan membuat mereka terpaksa melakukannya dan lama-lama jadi terbiasa meskipun sebenarnya mereka tidak suka.

Kembali ke masalah mandi di kali, saya teringat kembali kosa kata ini gara-gara gempa di Padang tanggal 30 September 2009 lalu. Beberapa hari pasca gempa saya menghubungi karyawan cabang kantor kami yang bertugas di sana. Syukur, semua karyawan selamat. Kantor hanya retak-retak di dindingnya. Peralatan kerja juga sedikit berserakan. Listik dan PAM mati.

Sehari setelah gempa, air sisa kemarin masih ada. Tapi di hari berikutnya persediaan pun habis. Lalu kemana mereka harus mandi? Saya tidak pernah terpikir, rupanya karyawan kami bersama warga Padang lainnya terpaksa mandi di kali.

Untungnya, kali atau sungai di Padang relatif masih bersih. Bisa dibilang, kali di Padang merupakan kali terbersih yang pernah ada di seluruh kota di Indonesia. Jarang kita melihat sampah hanyut di kali. Padahal, kali ini tinggal selangkah menuju laut.

Di tempat lain, biasanya kali yang sudah mendekat ke laut akan berlumpur dan berbau. Tapi di Padang, itu tidak terjadi. Air tetap jernih, meskipun tidak sejernih di hulu. Maka, kali pun penuh dengan warga yang mandi, gosok gigi, mencuci. Ada jugakah yang buang hajat?

Ternyata menurut teman saya tadi, tidak ada. Rupanya mereka sadar kalau buang hajat akan mengotori kali, sehingga kalau mau buang hajat mereka melakukannya di darat.

Sungai di Indonesia memang belum dikelola secara benar apalagi dimanfaatkan untuk industri wisata, laksana di Paris dengan Seine, Frankfurt dengan Rheine, Venesia dengan wisata gondolanya dsb. Bagi yang pernah ke sana pasti iri mengapa kita tidak bisa melakukan itu di Indonesia.

Padahal, dulu di zaman Belanda, kali Ciliwung yang dibuat terusannya di sekitar Pasar Baru bisa dibuat untuk mandi. Bukan hanya untuk warga pribumi tapi juga untuk orang Belanda. Konon, sinyo dan noni Belanda awalnya malas mandi seperti kebiasaan di Eropa. Tapi ternyata mereka kena penyakit sejenis keringat buntet.

Di daerah tropis, mandi merupakan sebuah ritual wajib untuk menjaga kebersihan kulit. Maka dibuatlah sudetan dari Ciliwung untuk melewati Pasar Baru, tempat orang Belanda bermukim. Di sini mereka bisa bercengkerama sambil mandi. Tentu saja kendaraan yang lewat di pinggirnya belum seramai sekarang, atau bahkan belum ada.

Bayangkan, sekitar 70 tahun yang lalu, kali di sana masih bersih. Lalu, kok sekarang tidak bisa? Pasti ada yang salah di sini. Di samping perkembangan alam, pasti ada andil manusia yang tidak kompeten menjaga kebersihannya.

Waktu saya kecil, mandi di sungai selalu menjadi kegiatan yang dinantikan. Meskipun belum bisa berenang, kami anak-anak berpura-pura berenang dengan cara menyentuh dasar sungai dengan tangan sehingga muka kami tetap di atas. Tentu saja ini hanya bisa dilakukan di air yang dangkal. Di air yang dalam, kami menaiki ban dalam mobil yang segede gaban. Kayaknya bukan mobil biasa deh, tapi truk atau Jhon Deer.

Sungai di daerah Tanjung Langkat dan Tanjung Keliling saat itu masih jernih sekali jika tidak banjir. Dasar sungai masih kelihatan. Sungai-sungai ini berhulu dari Bukit Lawang, tempat wisata yang mulai bangkit lagi setelah banjir bandang tempo hari.

Betapapun kini sudah ada waterpark dan waterboom, yang menyediakan kolam arus laksana sungai, menurutku, sensasi mandi di kali dengan batuannya tetap tak tergantikan. Apalagi, di sungai kita bisa mencari udang kecil yang bersembunyi di balik batu. Kalau tega, udang ini bisa dimakan langsung.

Semakin banyaknya daerah di Indonesia yang terkena gempa semakin membuktikan betapa pentingnya peran sungai. Di saat instalasi PAM tidak jalan akibat gempa, keberadaan sungai seperti terjadi di Padang sangat membantu warga untuk memperoleh air minum, mandi dan mencuci.

Karena itu, sudah selayaknya setiap pemerintah kota memprioritaskan program kali bersih. Program yang sudah didengungkan sejak lama ini tampaknya mengalami jalan di tempat, tidak ada progress. Tidak ada perubahan yang berarti. Warga tetap membuang sampah rumah tangga di sungai. Industri juga tidak segan-segan membuang limbahnya di sungai tanpa merasa bersalah.

Jangan sampai, anak-anak kita akan bingung saat mendengarkan lagu di atas. ‘ β€œNgapain juga Siti Aisyah mandi di kali. Kurang kerjaan apa?”

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari air PAM yang tidak menyala pagi ini sehingga saya harus mandi dengan air setengah ember. Bagaimana menurut sampeyan? (copy paste dari Pak EWA)

Iklan

10 tanggapan untuk “Mandi di Kali

  1. “Kalau tega, udang ini bisa dimakan langsung” << Sashimi ya Bang? πŸ˜›

    Wah si Abang bersyukur dong masih bisa mandi di kali.
    Gw dulu pas kecil pernah sih tapi bukan mandi, berenang di kali (yg dangkal). Habis berenang ya mandi di kamar mandi… πŸ˜›

  2. judulnya kalo gak salah indung-indung,

    kali di padang relatif bersih, cuma dangkal, kalo hujan baru dalam dan deras.
    mungkin karena bersih sungai yang dekat ke laut (agak dalam) dijadikan tempat lomba perahu naga antar negara setiap tahun.

  3. Jaman kecil dulu ?
    Mandi di kali ..??

    Mmmm … pernah Bang …
    Dulu kalinya ada di sepanjang jalan Kertamukti Bang …
    Itulah arena kolam arus kami … hahaha

    Salam saya

  4. Mandi di kali? Kayaknya ga pernah deh, kecuali mungkin saat camping dahulu…yah, beginilah nasib anak kota. Eh, kota ya? Kayaknya ga ada kota deh di Indonesia. Hanya ada kampung yg sangat besar yg kemudian kita namakan kota. πŸ™‚

  5. Mandi di kali tuh emang ada kenikmatan tersendiri, beda dengan mandi di kolam renang, meski sama-sama bisa dipakai untuk tempat berenang. Tapi tetap mandi di kali memberikan nuansa kenikmatan tersendiri, dan kenikmatan itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yg sudah merasakan langsung mandi di kali:)…

    Emang dulu biasanya mandi di kali mana?

  6. Hahaha…mandi di kali emang asyik… tapi kalo dilakukan sekali-sekali aja, untuk bersenang-senang. Kalau harus jadi rutinitas…wah ciloko itu..

    Kayaknya wisata sungai bisa jadi Ide yang bagus, Mas… πŸ˜€

  7. Aha… aku baru saja melakukan mandi di kali, di padang. sudah baca kan ceritanya di blogku?
    wuih… sensasinya luar biasa.
    emang benar Bro, meski waterpark sebagus apapun, mandi di kali tetap paling top..

  8. Wah.. jadi inget masa kecil dan muda (sekarang udah merasa agak tua). Kalau jalan2 ke SUmbar, pasti aku menyempatkan diri main di Kali. beberapa kali disana sangat bersih dn segar… Mandi,nyebur, main air, gak jelas. Campur2 sih..

    Sesungguhnya kondisi kali (sperti juga lingkungan lainnya) adalah representasi karakter pemerintah dan masyarakatnya yaa Bang..? πŸ™‚

  9. Saya juga sempat mengalami mandi di kali bang, tentu saja waktu masih anak-anak. Tahun 70-an, kali-kali di Yogya juga masih lumayan bersih. Sekarang Pemkot Yogya sedang giat-giatnya mengkampanyekan ‘Kali Code Bersih’. Tapi agak susah juga, kalau warga di hulu (yang nota bene ada di luar wilayah kota Yogya) belum tumbuh kesadarannya ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s