Bendahara Mushola

Sejak pensiun sebagai pegawai PTPN V Pekanbaru pada tahun 2000, ayahku mengisi harinya dengan pelbagai aktivitas. Untuk mengusir kejenuhan, pernah dia mencoba bekerja kembali di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta. Tetapi ini tidak berlangsung lama.

Lokasi kerja yang relatif jauh dari rumah kami di Medan menjadi salah satu alasannya. Belum lagi, di lokasi perkebunan ayah hidup layaknya anak kos. Setiap Senin pagi dia bersegera berangkat ke perkebunan yang hampir mendekati perbatasan Sumut-Aceh. Sebaliknya, Sabtu siang ayah bersiap-siap kembali ke rumah setelah lelah bekerja 6 hari seminggu.

Alasan lain ayah berhenti bekerja adalah penghasilan yang tidak sebanding dengan kompetensinya. Hal ini sebenarnya tidak dipermasalahkan benar oleh ayah, tetapi oleh mamiku yang tidak tega. Sebagai mantan Kepala Tata Usaha di perkebunan sudah selayaknya ayah dibayar tinggi. Tapi kenyataannya, di mana-mana hukum ekonomi berlaku. Pengusaha berusaha mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan mengeluarkan biaya sekecil-kecilnya.

Sebenarnya, dengan tanpa bekerjapun ayah dapat menikmati hari pensiunnya dengan tenang. Uang pensiun yang ditambah fasilitas kesehatan masih diterimanya dari perusahaan plat merah tersebut.

Namun, kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri sepertinya masih bergelora. Ayah masih merasa sehat dan kuat. Terbukti, saat masih bekerja di perusahaan swasta tadi, ayah terlihat lebih segar, dibanding ketika tidak mempunyai kegiatan. Badan ayah juga lebih langsing, perutnya lebih ramping daripada ketika tidak bekerja.

Di samping dari uang pensiun, ayah juga punya beberapa hektar kebun sawit yang menghasilkan tiap bulan. Jika harga sawit dunia lagi bagus, maka ayah rajin mengunjungi anak-anaknya kami, baik di Jakarta maupun Bandung. Bersama mamiku ayah juga masih sempat melaksanakan umroh dari hasil panen sawit.

Beberapa tahun lalu ayah diangkat sebagai bendahara mushola. Mendapatkan amanah ini ayah berupaya untuk menunaikannya dengan baik dan profesional. Ayah membuat buku besar yang mencatat semua pengeluaran mushola, sesuatu yang tidak dimiliki pengurus sebelumnya. Ayah mencatat dengan rapi semua transaksi. Ayah orang yang berani mengeluarkan pendapat jika dianggapnya benar.

Suatu kali, pada sebuah rapat pengurus mushola ayah memberikan pendapat yang membuat kuping pengurus lain merah. Ayah tidak setuju jika honor untuk imam tarawih yang berasal dari kalangan internal (jamaah mushola) disamakan dengan imam panggilan dari luar. Sementara pengurus lama dan para tetua menganggap hal ini wajar karena sudah berlangsung lama.

Ayah memberi pertimbangan bahwa kas mushola tidak akan sanggup membiayai jika kebijakan ini ditetapkan. Ayah berani mengancam,”Kalau mau terus seperti yang dulu, mendingan muhola ini dibubarkan”.

Semua pengurus terdiam.

Mushola ini bukanlah mushola besar. Jamaahnya juga tak banyak. Paling banyak di solat tarawih ada 5 saf. Menjelang akhir Ramadhan saf semakin maju sehingga tinggal 2 saf. Jamaah mushola juga bukan dari kalangan mampu laksana di kompleks perumahan.

Sebagian besar jamaah adalah dari kalangan biasa, bahkan tukang becak dan pengangguran pun ada. Karena itu, tidak bisa diharapkan ada dana cukup untuk menopang aktivitas mushola. Akhirnya pendapat ayah diterima. Imam dan penceramah lokal untuk sholat Tarawih hanya dibedakan pemberian honornya (lebih rendah) dari imam panggilan.

Menjelang sholat Ied ayah sibuk mempersiapkan kotak amal atau kencleng. Dia membeli sendiri kotak berukuran pembungkus mi instan dari warung terdekat. Lalu dia sendiri membungkusnya dengan kertas kado. Setelah dibungkus rapi, di atasnya dibuat lubang sebagai tempat memasukkan uang. Maka, jadilah sekitar 6 kencleng.

Pada hari Jumat ayah minta dibangunkan pukul 9 untuk kerja bakti membersihkan tempat sholat Ied di lapangan. Apa daya, hujan yang terus mengguyur kota Medan membuat bakal tempat sholat Ied tergenang. Maka sehari menjelang hari H, tempat pun dipindah ke halaman rumah warga yang terletak di samping mushola. Kaum ibu dan anak gadis nantinya akan ditempatkan di mushola, sedangkan kaum bapak akan mengambil tempat di halaman dan jalan.

Pada sore hari ketiga Lebaran, saat kegiatan silaturahmi sedikit menurun, dan tamu juga sudah mulai berkurang, ayah memanaskan setrikaan. Aku yang sedang menonton Ipin dan Upin mengira ayah akan merapikan baju. Betapa terkejutnya aku saat melihat segepok uang dibawa ayah. Menurutnya jumlahnya sekitar 1,1 jutaan hasil infak sholat Ied. Pecahan yang paling banyak tentu saja uang seribuan. Udah begitu tampangnya sudah tidak karuan alias belel bin kucel. Uang 50 ribuan hanya 3 lembar kulihat. Uang 20 ribuan dan 10 ribuan ada beberapa.

Ayah sedikit mengomentari kurangnya kesadaran jamaah. “Hanya setahun sekali pun mereka tega memberi infak dengan uang seribuan”. Aku mencoba menetralisir,’Ya, kan tidak semua dari kalangan mampu, Yah”. Ayah mulai menyetrika satu persatu uang yang kucel tadi sehingga kaku kembali. Bau khas uang yang sudah bergulat dengan keringat banyak orang muncul bersamaan dengan hawa panas setrika. Pelan2 keringat ayah bercucuran. Lumayan juga jumlah uang seribuan.

Melihat ini aku serba salah. Mau dibantu ikut menyetrika, kok kayaknya ayah menikmati benar aktivitas ini. Nggak dibantu kok kayaknya aku ini anak kurang ajar. Ayah memang terampil mengerjakan pekerjaan rumah.

Menjahit pakaian (dengan mesin jahit lho), jago memasak (salah satu menu yang jadi favorit kami waktu kecil adalah sambal teri pake air), memahami perlistrikan (beda banget dengan aku yang takut kesetrum sehingga ogah lama2 bergaul dengan listrik), bahkan katanya dulu waktu muda bisa membuat gitar. Memahami track record ayah ini, aku putuskan untuk tetap membiarkan ayah menikmati kegiatan menyetrika sambil mengobrol. (Ah, bilang aja malas…)

Menurut ayah, ide menyetrika ini didapatnya dari salah seorang pengurus mesjid. Menurutnya, kalau disetrika uang yang kucel sekalipun akan berubah kaku dan menjadi seperti baru. Menjelang magrib, kegiatan setrika pun usai. Ayah dengan berbinar-binar menghitung kembali uang dan mengelompokkannya sehingga mudah dihitung ulang. Setelah itu, aku kurang paham apakah akan disetor ke bank atau akan disimpan di brankas. Intinya, ayah melakukan semua kegiatan sosial dengan tanggungjawab dan dedikasi tinggi tanpa mengharapkan imbalan. Secara materi ayah sudah cukup sehingga tidak akan mengambil apapun dari mushola. Alih-alih mengambil, malah banyak menyumbang.

Saat sholat Ied kemarin, ayah aktif memindah2kan tikar dan menyusun kembali sesuai kebutuhan. Sebenarnya ayah tidak perlu turun tangan sejauh itu. Rasanya masih banyak pengurus lain yang lebih muda. Tapi dengan dedikasinya, ayah pun tak canggung turun tangan mengatur segala sesuatunya sehingga semua jamaah dapat kebagian tempat. Maklum, di halaman rumah warga ini luasnya tidak seluas di bakal tempat semula.

Saat sholat Ied usai dan jamaah bersalaman, tiba-tiba ponakanku Davin yang baru berumur empat tahun berteriak,”Ayah, uangnya mana? Katanya mau ngasih Apin?”

Jamaah yang mendengarkan teriakan Apin ini pun tertawa, minimal senyum. Ayah yang masih sibuk bersalaman tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Nantilah, Pin. Di rumah ya, nak”. Dasar anak sekarang pada matre semua…

Belum sampe rumah, uang saja yang dipikirin. Angpao oh angpao….

Setiba di rumah setelah bersungkem ria, ayah memberikan angpao kepada cucunya dengan sampul bergambar Ipin dan Upin. Ah, kartun ini memang lagi beken di Medan, eh Indonesia kaleee…

Iklan

14 tanggapan untuk “Bendahara Mushola

  1. Ah ayah bang Hery memang berdedikasi tinggi, dan menjalankan pekerjaannya dengan hati riang dan tanggung jawab. Saya kagum bang….

    Saya juga kadang-kadang menyeterika uang kucel dan kertas (/surat/fotokopian) yang saya anggap berharga dan tanpa sengaja terlipat-lipat loh.

    EM

    Ime-chan, kalau di Jepang, uang yen suka kucel juga nggak sih? Atau seperti dolar US yang selalu mulus?

  2. Ahhhh …
    Ini cerita yang saya tunggu-tunggu bang …

    Ini yang disebut dedikasi …
    Menjalankan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan gembira …
    Hanya energi itu yang bisa menggerakkan Ayahnya Bang Heri mau berkeringat mensetrika uang sumbangan dari masjid itu …
    Sebuah energi yang bernama … ketakwaan …

    Salam saya Bang

    And … Thanks ya Bang …

    Tulisan ini terinspirasi dari postingan Bos Trainer tentang Karyaku (alias tentang setrikaan)…

  3. Akh..
    Menjadi tua adalah kodrat..
    Tapi menjadi tua dan tetap bermanfaat adalah pilihan..
    Sesuatu yang patut dicontoh…

    *Sambil ikutan ngantri dibelakang Apin seperti kurcaci di cerita snow white, kali2 aja ikut dikasih angpao.. Xixixi.. 😀

    Mas Nug, kalau mau nitip angpao buat Apin juga boleh kok. Nanti akan saya sampaikan. Xixixixi….

  4. Kegiatan sosial memang perlu dedikasi yg sangat tinggi, salut untuk ayahanda Bang Hery …

    BTW, libur lebaran kemaren saya baru tahu kalau ada kartun Upin dan Ipin karena nggak ada alternatif tontonan lain … hehehe, tapi seronok kali dialek-nya … betul betul betul ?

    Tuh film memang seronok nian, Cekgu…

  5. Lho…? kok masih membahas setrikaan…? hahaha…. ternyata Om Trainer itu memang inspirasi banyak orang ya… 😀

    Bro, aku sepakat dengan pendapat Mas Nug, bahwa menjadi tua adalah kodrat, tapi menjadi tetap bermanfaat, adalah pilihan. Ayahmu telah memilih menjadi orangtua yang bermanfaat. Ini perlu ditiru nih… 😀

    Setrikaan memang membawa inspirasi, bro…
    Siiip, semoga kita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain…

  6. Terkadang sebagai anak, kita tak tega melihat orangtua masih sibuk, inginnya beliau menikmati hari tua nya dengan santai.
    Namun setelah saya sendirri merasakan pensiun, dan sebelumnya pernah ikut pelatihan, malah disarankan kita tetap sibuk agar tak mudah pikun. Tentu saja kegiatannya disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing.

    Jadi ingat si bungsu yang kawatir melihat ibunya sibuk terus, bahkan lebih sering bepergian dibanding saat aktif bekerja dulu. Padahal sebetulnya, dengan bekerja lagi, sepanjang bisa mengatur waktu, tidak ngoyo, banyak hal yang bisa dilakukan untuk memberikan sharing pada orang lain.
    Ayah bang Hery termasuk orang yang tak bisa menganggur dan tentu ini harus didukung oleh putra putrinya.

    Setuju, Bu Enny. Anak2 harus mendukung orangtua yang sudah pensiun untuk tetap beraktivitas.

  7. sungguh, ayah mas azwan benar2 total dalam mengabdikan sebagian besar hidupnya utk memajukan mushola sebagai rumah Allah. selamat idukl fitri, ya, mas azwan, mohon dimaafkan segala salah dan khilaf saya selama ini.

    Sama2 Pak Sawali. Mohon maaf juga kalau ada komen saya yang tidak berkenan…

  8. Wah…cerita yang menginspirasi…ringan dan sedikit menggelitik, hehehe…

    Mas, buat kebanyakan orang tua yang udah memasuki masa pensiun, mencari kegiatan yang benar-benar sesuai dengan hati nuraninya tanpa mengurangi peranan dilingkungannya biasanya memang cukup sulit. Salah satunya jadi pengurus musholla, yang selain bisa untuk aktualisasi diri, juga sekalian beribadah, ya ngga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s