Pattern of Excellence #3

Salah satu aktivitas pada training POE

Baik juga saya jelaskan sekilas mengenai NLP. NLP ditemukan pada tahun 70-an oleh Richard Bandler yang saat itu masih mahasiswa jurusan matematika dan John Grinder, seorang PhD dalam bidang lingustik. Mereka memodel 3 orang terapis canggih saat itu yang bisa menghipnotis pasien dan menyelesaikan masalah mereka dalam waktu singkat. Cara yang dilakukan oleh ketiga terapis ini mereka tiru dan praktekkan, dan ajaib ternyata berhasil. Kesimpulannya, jika kita meniru kata-kata dan fisiologis seorang, maka kita juga akan bisa seperti dia.

Yang menariknya, yang lebih terkenal karena NLP adalah Anthony Robbins. Hampir semua motivator dunia mengaku berguru kepada Anthony Robbins yang dikenal lewat bukunya Awaken the Giant Wihin dan Unlimited Power. Anthony Robbins juga menjadi penasehat untuk Andre Agassi, Ladi Diana, dan Bill Clinton.

Menurut Adam Khoo, ini semata karena Anthony Robbins lebih memiliki jiwa salesman yang tinggi, sementara Bandler tidak. Hal sama juga terjadi pada Obama. Obama pintar menjual ide dan memahami kebutuhan rakyat Amerika sehingga dia bisa dipilih menjadi presiden. Padahal, berapa banyak orang Amerika yang lebih pintar dari Obama. Ribuan PhD dan profesor tetapi kok Obama yang dipilih jadi presiden. Itulah seni hidup. Sama dengan, mengapa kok tukang reparasi sepeda yang menemukan pesawat terbang, bukan profesor sains. Juga, Bill Gates yang drop out dari Harvard yang menemukan Windows, bukan profesor Harvard. Sama juga, Steve Jobs yang hanya setahun mengecap bangku kuliah yang menciptakan Mac, iPad, iPhone, iPod, dsb.

Ada satu cerita menarik dari Adam Khoo tentang pengalamannya pribadinya dari anak yang dianggap bodoh dan malas, tanpa masa depan, sehingga dikeluarkan dari beberapa sekolah, berubah menjadi anak yang pintar dan akhirnya jadi pengusaha sukses di umur yang sangat muda (menghasilkan uang 1 juta dolar di umur 26 tahun).

Semuanya berubah ketika di usia 13 tahun dia dikirim ke Super Camp dan mendapatkan pencerahan dari Dr Ernest Wong, orang Malaysia yang kini juga menjadi penasehat pendidikan pemerintah Hongkong. Tapi yang lebih kuat lagi sebenarnya adalah dorongan dalam diri Adam yang tidak sudi diremehkan oleh ibu tirinya yang selalu membanding-bandingkan Adam dengan saudara tirinya. Harga dirinya langsung berontak. Begitulah, terkadang kita harus dihina dulu atau merasakan sakit yang tak kepalang lebih dulu, baru kita berubah.

Cerita menarik lagi dari Adam adalah tentang buku pertamanya yang berjudul I’m Gifted So Are You.  Buku ini ditulis setelah Adam tamat kuliah, sekitar umur 24 tahun. Adam menawarkan bukunya hampir ke sepuluh penerbit di Singapore tetapi tidak ada yang menanggapi. Mereka beranggapan bahwa Adam terlalu muda dan tidak ada pembaca yang membutuhkan bukunya.

Melihat hal ini Adam tetap semangat dan akhirnya ada satu penerbit yang mau menerbitkan bukunya, yakni penerbit Oxford University. Adam senang bukan kepalang. Cita-citanya terkabul sudah. Tetapi cerita tidak berhenti di sini.

Setelah terbit, Adam mencari bukunya di toko buku Border (kalau di sini seperti Gramedia kali ye) dan menelan kenyataan pahit kalau bukunya tidak dijual di sana. Adam menelepon penerbit dan protes kenapa bukunya tidak ditemukan di Border, padahal Oxford kan penerbit besar. Menanggapi hal ini penerbit Oxford hanya tertawa,”Hai Adam, di Inggris kami memang penerbit besar, tapi di Singapore kami hanya penerbit kecil. Buku kami hanya dijual di toko buku kecil. Kami tidak punya budget khusus untuk mendisplay buku Anda di toko buku besar. Begitu juga dengan budget promosi”.

Mendengar hal ini Adam langsung berburu toko buku kecil (kalau di sini barangkali di Kwitang Senen). Setelah mengubek-ubek beberapa toko akhirnya Adam menemukan bukunya dalam posisi yang menyedihkan. Bukunya terletak di posisi paling bawah, tertimpa buku lain sehingga tak seorangpun tahu kalau  bukunya ada di sana.

Melihat hal ini ada dua sikap yang bisa dipilih Adam. Pertama, pasrah dengan keadaan sambil menyalahkan penerbit yang tidak punya budget. Kedua bertanggungjawab penuh untuk mempromosikan dan menjual bukunya sendiri. Adam akhirnya memilih yang kedua.

Dia mengerahkan segala upaya untuk mempromosikan bukunya. Dia mendatangi satu persatu toko buku kecil dan berbicara di toko seperti orang gila untuk mempromosikan bukunya. Kebanyakan pengunjung cuek saja dengan kehadirannya. Adam tidak berputus asa.

Dipasangnya iklan berukuran cukup besar di koran dengan biaya sendiri, hasil tabungannya di masa kuliah. Melihat hal ini teman Adam memandangnya sinis. “Gila lu, promosi itu tanggung jawab penerbit. Ngapain ente ngeluarin duit segitu banyak untuk iklan. Gak bakal balik tuh duit”.

Adam juga mengerahkan anak didiknya di kursus privat untuk menelepon toko Bordes berkali-kali sehingga akhirnya toko Bordes “terpaksa” mendisplay buku Adam. Selebihnya adalah sejarah. Buku I’m Gifted berhasil menjadi best seller no 1 selama beberapa bulan mengalahkan buku top dunia. Memang, jumlah yang terjual baru 250.000 copy, belum mencapai target 1 juta copy  seperti yang ditargetkan Adam. Apakah Adam gagal? Tidak, karena paling tidak angka tersebut berjalan menuju arah yang benar. Kegagalan terjadi jika Adam tidak bertindak dalam mempromosikan bukunya dan pasrah dengan keadaan.

Dari buku I’m Gifted inilah Adam merambah dunia pelatihan. Dia membuka kelas I’m Gifted di Singapore, Malaysia, Indonesia, Thailand, India dan telah membantu ribuan pelajar yang bermasalah dalam belajar dan harga diri. Pelatihan biasanya berlangsung 5 hari. Di Jakarta, pelatihan berikutnya tanggal 21-25 Juni di Grand Pasundan, Bandung.

Pelajaran dari cerita Adam di atas adalah bahwa kita harus bertanggungjawab penuh terhadap apa yang kita lakukan. Jangan menyalahkan pihak lain, menyalahkan atasan, menyalahkan lalu lintas yang macet, menyalahkan pemerintah, menyalahkan penerbit, dsb. Jika kita mengandalkan pihak eksternal untuk menyelesaikan masalah kita, maka energi akan berada di mereka, sementara kita tidak punya kekuatan sedikitpun. Untuk itu, sedemikian sulit apapun tantangan, kita harus TAKE CHARGE untuk mengatasinya. Maka, energi akan berada di tangan kita. Don’t BLAME, No Excuse….

Power of Visualization

Betapa kuatnya visualisasi dan pikiran manusia didemonstrasikan pada training ini. Mula-mula Leroy, trainer lain peranakan India dan Portugis, mengundang satu orang peserta sebagai contoh. Leroy menyuruh peserta tadi berbaring di atas karpet dan memandunya untuk menutup mata, rileks, menarik napas yang dalam, dan membayangkan kalau dia melihat STEEL ROD (batang baja) pada sebuah gedung. Secara perlahan STEEL ROD tadi dibayangkan oleh peserta tadi masuk ke dalam tubuhnya tadi dari kepala, dada, tangan hingga kaki. Secara tak terduga, tubuh peserta tadi mengeras, meskipun tetap elastis.

Tubuhnya kemudian diangkat oleh tiga orang peserta lain dan diletakkan di antara dua kursi. Kepala di satu kursi, dan kaki di kursi yang lain. Secara logika awam, harusnya peserta tadi akan jatuh karena di tengahnya kosong. Tapi, dalam kondisi ini dia tidak jatuh, bahkan setelah perutnya diduduki oleh beberapa peserta yang bertubuh gemuk dan berat badannya jauh di atas peserta yang jadi subjek tadi. Wow, luar biasa kekuatan pikiran.

Semua peserta, termasuk saya mencoba game ini dalam group kecil (berisi 5 orang). Panduan diberikan oleh coach, alumni program ini yang masih muda-muda. Semuanya sukses. Ada beberapa wanita yang pada awalnya gagal dan belum apa-apa sudah berhenti tetapi akhirnya sukses juga. Permainan ini menunjukkan bahwa otak manusia sangat POWERFUL. Saya tak habis pikir kok saya bisa melakukannya.

Saat saya jadi subyek, saya merasa pantat saya hampir menyentuh lantai, padahal kata teman-teman pantat saya tetap di atas. Setelah selesai, seorang teman yang gendut meminta maaf kepada saya karena telah menduduki saya. No problem, kata saya. Ya iyalah….Wong saya tidak merasakan berat tubuhnya. Saya hanya merasakan seperti sentuhan pelan di perut saya.

Wow….Sampai sekarang saya masih penasaran lho…Saya penasaran apakah saya bisa mempraktekkannya dengan subyek lain yang belum pernah ikut NLP. Ada yang mau jadi subyek?

Dalam artikel yang saya baca dari Portal NLP, bahkan ada yang bisa membuat lampu bohlam berkekuatan seperti batu kali, sehingga ketika dijatuhkan bisa menghancurkan ubin yang ditaruh di bawah. Tangan kanan orang yang memegang bohlam tadi, katanya setelah melakukan demonstrasi ini dan salaman dengan kita, akan dirasakan getaran yang berbeda. Entahlah…

Saya penasaran, bagaimana sistem otak manusia, kalau di NLP di sebut submodalities, bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Apakah juga bisa membuat yang lebih dahsyat lagi? Sampai sejauh mana pikiran bisa diberdayakan dan di-pushed to the limit. Subhanallah…

Ini menjelaskan mengapa placebo bisa menyembuhkan pasien. Dalam satu percobaan dokter memberikan placebo kepada pasien dan ternyata bisa menyembuhkan. Karena itu, FDA mensyaratkan kepada produsen agar obat yang mereka produksi minimal bisa berefek menyembuhkan di atas rata-rata placebo. Kalau masih sama dengan placebo artinya obat tersebut memang tidak memiliki kemampuan khusus untuk menyembuhkan. Masih mau lanjut?

Iklan

11 tanggapan untuk “Pattern of Excellence #3

  1. otak manusia sangat POWERFUL.

    Ini yang selalu ingin saya pelajari …
    Selama ini yang saya baca adalah Buku Ibrahim ElFiky
    Sepertinya harus mengikuti workshop seperti ini untuk bisa mengetahui lebih dalam

    Salam saya Bang

    Yoi, bos. Cepet ikutan workshopnya 7 hari. Minta dibayarin kantor…

  2. ya iyalah masih mau lanjut… hahaha… 😀

    Apa yang dilakukan Adam dalam mempromosikan bukunya, agaknya hampir mirip-mirip dengan kawan kita si motivator MJW itu ya bro… 🙂 Coba saja dia tidak melakukan self marketing, bisa jadi bukunya tidak sampai kepada yang kedua.. Maka, karena Adam dan AZ memiliki kesamaan, aku yakin si AZ juga akan sesukses Adam… (semoga ybs membaca komen ini dan mengajakku makan enak, hahaha….)

    Otak manusia memang luar biasa ya bro. Unlimited deh kayaknya.. Maka, harus disyukuri anugerah terbesar ini dengan memaksimalkan kerjanya. Bukan begitu Ustadz? 😀

    Si AZ memang mirip Si AK dalam mempromosikan bukunya. Cuma, Si AZ tidak banyak mengalami kegagalan dalam menawarkan naskahnya. Sekali maju langsung dapat. Rugi juga sih AZ. Dia jadinya nggak punya cerita yang bagus buat di-share di training Man Jadda Wajada. He he….

  3. otak manusia itu memang misteri tinggal bagaimana kita manusia mampu mengolahnya semaksimal mungkin…

    Yup. Mau dipakai buat pesawat, buat iPad, atau sekadar buat jadi STEEL ROD yang hanya bermanfaat untuk diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s