Sambutan Tak Sedap di Cami Kusadasi (Liburan di Turki #10)

Sambutan Tak Sedap di Cami Kusadasi (Liburan di Turki #10)

Usai pembalap sepeda terakhir berlalu, blokade jalan dibuka kembali. Kami dibawa Nizam ke tempat pengrajin karpet Turki yang sangat terkenal di dunia. Kami dipersilakan mencoba proses pemintalan benang sutra dari kokon. 

Setelah itu, pemilik pabrik menampilkan berbagai jenis karpet yang harus kuakui sangat indah namun harganya juga lebih indah lagi.

Nah, giliran siapa lagi yang tergoda membeli nih,? gumamku dalam hati. Apalagi, kami telah ditraktir kopi, teh dan susu sehingga peluang untuk tergoda sangat besar. Untunglah aku tidak tergoda dan bisa selamat meninggalkan toko tanpa membeli. 

Teman satu rombongan kami juga tidak ada yang bertransaksi, termasuk sepasang suami istri berkebangsaan India yang terlihat semangat bertanya saat sang Bos melakukan presentasi. Mungkin karena masih banyak tempat yang dikunjungi, jadi uangnya diirit-irit. 

Oh ya, di kota kecil seperti Selcuk ini kita tetap bisa menemukan ATM. Jadi nggak perlu khawatir kehabisan lira.

Sekitar pukul 16.00 kami mampir sebentar ke puing kuil Artemis yang terletak sangat dekat dari pabrik karpet, sekitar 500 meter saja. Hanya sedikit bangunan yang tersisa dari kuil yang berumur ribuan tahun ini, sehingga tidak ada yang bisa dinikmati atau dikagumi. 

Kuil yang berada di atas rawa-rawa ini memang tidak terlalu besar. Jangan bayangkan seperti Candi Borobudur. Di kejauhan tampak mesjid Isa Bey yang berdiri sekitar tahun 1.300 M di masa kejayaan Dinasti Seljuk. Sayang kami tidak sempat ke sana.

Menjelang pukul 17.00 kami naik ke bus dan bertolak ke Kusadasi, kembali ke hotel. Kebetulan hotel kami paling terakhir, sehingga kami memutuskan untuk turun saja di pantai Kusadasi. Apalagi, saat itu jalan di sepanjang pantai Kusadasi sangat macet karena ada acara sebuah partai yang berlambang palu arit. Sepertinya mereka memperingati hari buruh bertepatan dengan tanggal 1 Mei 20015. Aneh juga melihat di negara bekas imperium Islam terbesar di dunia, ternyata membolehkan partai komunis hidup dan mengembangkan ideologinya. Kalau ini terjadi di Indonesia tentu sudah ramai di sosmed.

Kami mencari mesjid untuk sholat jamak zuhur dan ashar. Namun tidak mudah menemukan mesjid di Kusadasi. Beberapa kali kami harus bertanya ke orang yang berbeda karena mesjid belum ditemukan juga. Lumayan jauh juga kami berjalan memasuki perumahan, tapi mesjid tidak kelihatan. Kami mulai lelah. Untunglah ada seorang remaja baik hati yang mengantarkan kami ke mesjid, bukan sekadar menunjukkan arah. Memang tidak mudah berkomunikasi dengan warga lokal Turki yang sebagian besar tidak bisa berbahasa Inggris. 

Rasanya lebih 400 meter kami berjalan sampai akhirnya mesjid ditemukan. Mesjid ini tidak terlalu besar, dan kebetulan bukan di waktu sholat sehingga pintu ditutup. Untunglah kita bisa sholat di beranda. 

Yang membuat aku shock di kamar mandi aku melihat kotoran yang belum disiram. Langsung aku memalingkan muka dan terus buang air kecil karena sudah tak tahan lagi. Setelahku ada seorang Bapak Turki yang masuk ke toilet ini. Mendapati toilet yang kotor dia berinisiatif memgambil sebatang besi dan mendorong kotoran agar mengalir lancar. Entah apa yang terjadi kemudian, aku tidak memperhatikan lagi. Yang pasti dia seolah ingin berbicara kepadaku yang sedang duduk di emperan mesjid sambil mengangkat kedua tangannya. Mungkin dia meminta maaf kepada kami sebagai tamunya atau menyayangkan kok ada orang yang tega mengotori toilet mesjid. 

Toilet di Turki pada umumnya bersih jika berbayar. Kalau yang gratisan memang mengkhawatirkan. 

Karena ada yang merasa sedikit lapar di antara kami, usai sholat kami membeli pizza di Domino Pizza. Pizza di sini agak unik karena rasanya teteup, sedikit beraroma Turki. 

Setelah pizza habis kami santap di pinggir pantai, kami bergerak lagi. Kali ini menuju galangan kapal. Kami berfoto ria di pantai dengan latar belakang kapal pesiar ukuran kecil (yacht) yang sedang bersandar. Suasana di sekitar galangan kapal ini cukup indah. Banyak toko dan restoran dibuka di tempat ini. 

Kami mampir sebentar membeli makanan dari Chinese Restaurant di depan dermaga. Yayang dan Teh Evy sudah nggak sanggup makan di hotel karena tak cocok dengan bumbu Turki yang khas, terutama bau karinya. Jadilah makanan dari restoran Cina ini sebagai penyelamat mereka. 

Sebelum itu, kami juga sudah berbelanja makanan instan dan minuman dari swalayan Migros di dekat dermaga. Popmie dijual di sini dengan harga 6 lira. Oh ya, di sini pembeli harus mandiri karena kasir tak akan memasukkan barang belanjaan kita ke dalam plastik kresek.

Pulangnya kami pulang dengan taksi yang berkursi tiga baris. Bentuknya mirip mobil Honda Freed tapi dalam ukuran lebih kecil. Merknya kalau nggak salah Renault. 

Menjelang magrib kami tiba di hotel. Azan mengalun dengan nada yang aneh bagi telinga orang Indonesia. Nadanya sendu mengiris, dengan nafas yang begitu pendeknya.

Aku dan Aa Fery makan di restoran hotel, sementara tiga dara makan bekal Chinese Food di kamar hotel.

Berfoto di depan perahu pesiar yang sedang bersandar di pantai Kusadasi
Berfoto di depan perahu pesiar yang sedang bersandar di pantai Kusadasi

Iklan

2 tanggapan untuk “Sambutan Tak Sedap di Cami Kusadasi (Liburan di Turki #10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s