Al Fatihah Tanpa Amin (Liburan di Turki #12)

Al Fatihah Tanpa Amin (Liburan di Turki #12)

Pagi-pagi sekali kami harus meninggalkan hotel Tripolis di Pamukkale menuju bandara Denizli. Karena berangkat sebelum pukul 06.00, kami tidak sempat menikmati sarapan pagi. Pihak hotel ternyata tidak memberikan kompensasi atau pengganti sarapan pagi. Pihak travel yang memesan tiket pesawat kami mungkin mencari tiket semurah mungkin sehingga mengabaikan faktor lain. Perjalanan ke bandara Denizli sekitar 1 jam lebih.

Berpose di Mesjid Jamik Cappadocia
Berpose di Mesjid Jamik Cappadocia
Tujuan kami sebenarnya adalah Cappadocia, tapi kami terpaksa memutar dulu di bandara Sabiha Ğökçen di Istanbul karena tidak ada penerbangan langsung ke Cappadocia. Setibanya di Sabiha Gökçen satu jam kemudian, langsung kami mencari tempat mengisi perut yang sudah keroncongan. Kebetulan ada Burger King, jadi terhindar dari menu Turki yang mulai membosankan. Cukup lama kami menunggu pesawat di Sabiha, sekitar 3 jam. Sekitar pukul 13.00 pesawat Pegasus yang kami tumpangi berangkat dan tiba di bandara Kayseri, Cappadocia, satu jam kemudian.

Tiba di Kayseri kami disambut hujan sehingga sedikit kebasahan saat masuk ke dalam mobil jemputan. Terbayang besok balon tidak bisa terbang akibat cuaca buruk. Untunglah, setengah jam dari bandara, cuaca berubah cerah. Sepanjang jalan mulai terlihat bukit-bukit unik dengan kontur tanahnya yang tidak lazim. Sejauh mata memandang terhampar daratan luas tak bertepi. Di daratan inilah tampaknya besok pagi balon udara akan diterbangkan.

Menjelang masuk Cappadocia mobil berhenti cukup lama di SPBU. Rupanya dari tadi ada bunyi aneh yang setelah diperiksa oleh mekanik bengkel ternyata ban bocor. Hampir setengah jam kami di sini. Rupanya tak sampai 15 menit kami tiba di kota gua Cappadocia. 

Di sekitar kota kecil ini ada sekitar seratus hotel berstruktur gua, baik gua asli maupun gua buatan. Di tengah kota ada mesjid jamik dan banyak restoran, cafe dan penjual oleh-oleh. Meskipun di kota kecil, di sini ada ATM. Jadi gak usah khawatir kehabisan uang.

Hotel kami menginap, Spelunca, terletak sekitar 200 meter dari pusat kota. Posisi hotel kami terletak di atas bukit sehingga memerlukan energi ekstra kalau berjalan kaki dari kota ke hotel. Udara dingin dan angin yang berhembus kencang membuat kami ngos-ngosan.

Hotel Spelunca yang kami tempati sangat artistik. Benar-benar serasa menginap di gua. Meskipun begitu, perabot di hotel ini sangat modern. Bahkan di kamar mandi ada bath tub berukuran lingkaran yang masih tampak baru. Air penyiraman untuk toilet selalu hangat sehingga kita tak kedinginan saat membersihkan diri. Memang bagi yang penakut, hotel ini agak spooky. Apalagi, terkadang butiran adukan semen dari langit-langit bisa tiba-tiba jatuh menimpa badan kita.

Usai check in, langsung kami berjalan menuju kota mencari restoran. Tujuannya restoran Korea yang tadi sekilas terlihat saat mobil memasuki kota. Restoran ini tidak jauh dari terminal bus kota yang ramainya hanya pagi dan sore hari saja. 

Kami memesan ramen dan nasi goreng. Lumayan rasanya cocok dengan lidah kami. Di dinding restoran tampak testimoni dari pengunjung yang berasal dari seluruh dunia.

Di restoran ini kita bisa mengambil gambar suasana kota Cappadocia dari sudut yang indah. Benar-benar seperti kota dongeng Cappadocia ini. 

Sehabis makan, kami berbelanja dulu di swalayan yang ada di bawah restoran. Kami membeli makanan dan minuman, jaga-jaga kalau lapar di tengah malam. Harga di swalayan ini relatif murah karena disubsidi oleh pemerintah. Air mineral ukuran 600 ml yang kalau di restoran Korea seharga 3 lira, di swalayan ini tak sampai 0.5 lira. Bahkan saat belanja kami berpapasan dengan waiter restoran Korea yang sedang mencari minuman untuk stok restorannya. Wah, jadi menyesal tadi pesan minuman di restoran. Hi hi…
Salat Subuh Berjamaah

Sebelum tidur malam aku sudah berniat akan solat subuh berjamaah di mesjid jamik. Aku pengen merasakan suasana salat di Turki, bagaimana prosesi ritualnya, banyakkah jamaah yang datang. Jadi, ketika esok alarm berbunyi aku langsung menuju mesjid setelah lebih dulu berwudu.

Pukul 04.00 alarm berbunyi. Aku langsung berwudu dan bersiap menuju mesjid. Udara begitu dinginnya. Di sepanjang jalan tampak bersiap mobil penjemput turis yang ingin menikmati petualangan balon udara. Acara naik balon memang dilakukan saat subuh karena di saat inilah tekanan angin yang paling pas.

Sementara, para ibu sholat di hotel sambil menunggu jemputan untuk naik balon. Oh ya aku dan Aa Ferry tidak tertarik naik balon. Kalau aku sih karena nggak tega harus bayar lebih dari dua jeti bow. Kalau Aa Ferry, mungkin karena takut ketinggian. Naik pesawat saja telinganya nyeri, apalagi naik balon.
Ternyata di mesjid belum ada orang. Kami menunggu di beranda. Sekitar 2 menit kemudian datanglah petugas yang membuka pintu mesjid dan langsung mengumandangkan azan. Jamaah pelan-pelan berdatangan dnegan kostum celana panjang dan kemeja berjas. Tak ada yang pakai sarung atau baju koko. Tak ada juga jamaah yang tidak mengenakan jas karena cuaca memang sangat dingin.

Usai azan, jamaah melakukan sholat sunnah. Tak berapa lama imam muncul dengan pakaian kebesarannya. Topi ala Turki yang berwarna merah dan tinggi sangat matching dengan jubah imam yang berwarna senada. Postur imam yang tinggi dan wajah yang rupawan membuat tampilannya sempurna.

Sejurus, imam duduk menghadap jamaah. Di depannya ada Alquran yang dibacakan secara tartil sebanyak 2 halaman. Jamaah hanya mendengarkan. Tidak ada penjelasan ataupun sekadar menerangkan arti atau tafsirnya dari imam. Kemudian iqomah dikumandangkan oleh salah seorang jamaah dan sholat subuh dengan jamaah yang hanya satu saf pun dimulai.

Ada kejadian menarik saat imam selesai membaca alfatihah. Secara refleks kita muslim Indonesia pasti akan membaca amin bersama-sama. Aku agak telat membuka mulut dan suara belum sempat keluar. Sementara Aa Ferry ternyata terlanjur mengucap amin setengah. Untunglah dia segera menyadari kalau di sini amin tidak dikeraskan melainkan cukup dibaca dalam hati. 

Di rakaat kedua gantian aku yang lupa. Aku terlanjur membuka mulut dengan semangat empat lima dan mengucap amin. Untunglah aku segera menyadari sehingga cepat-cepat menutup mulut.

Sebagai penganut mazhab Hanafi, jamaah di Turki memang tidak mengeraskan bacaan amin setelah fatihah. Aku jadi teringat kisah Andrea Hirata di buku Sang Pemimpi yang menceritakan kejadian yang sama.

Selesai sholat sebagian jamaah bersalaman. Aku bersalaman dengan seorang tua yang bertubuh agak gemuk. Rambutnya sudah putih semua. Saat kami memakai sepatu dia menawarkan kami untuk bergabung minum teh di salah satu cafe. Aku pun langsung menyanggupi. Kami saling berkenalan. Nama pak tua ini Mustofa, nama pasaran di Turki setelah Mehmet dan Ali.

Dia menanyakan asal kami, “Are you Malaysian?” Rupanya orang Malaysia sangat dikenal di sini. Setelah aku mengenalkan diri dari Indonesia, Mustofa juga langsung paham karena banyak orang Indonesia yang berwisata di Turki.

Mustofa bercerita kalau wisata di Turki bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi pariwisata meningkatkan perekonomian. Di sisi lain, pariwisata membuat kaum muda Turki terlena dan melupakan agama. Salah satu contohnya, para petugas harus stand bye sebelum subuh untuk melayani turis yang mau naik balon. Bagaimana mau sholat subuh. Satu tim balon biasanya ada sekitar 4-6 orang crew di darat dan satu pilot. Pada saat yang sama bisa terbang sekitar 100 balon.

Mustofa juga membandingkan bahwa Turki di masa Ottoman lebih baik dari Turki di masa Ataturk. 

Asyik ngalor ngidul, matahari mulai muncul. Kami pamit dan bergegas menuju tempat beroperasinya balon udara. Letak arena penerbangan balon sekitar 1 km dari pusat kota. Dari jauh terlihat berbagai balon dengan desain yang menarik. Balon-balon ini terbang perlahan menuju angkasa. Sementara di bawah, crew darat mengikuti ke manapun balon menuju. Mobil yang membawa landasan pendaratan ini hilir mudik dalam kecepatan tinggi. Kalau tidak waspada, kita bisa tersamnar mobil ini saat menyeberang jalan.

Kata istriku, pengalaman naik balon ini sangat luar biasa. Sensasinya pasti berbeda dengan naik pesawat yang serba tertutup. 

Crew balon sangat profesional. Tidak ada hentakan yang berarti saat take off dan landing. Setelah balon mendarat biasanya ada ritual tos dengan terlebih dulu mengoplos champagne. Peserta akan diberi sertifikat dan medali yang membuktikan kalau mereka sudah menaiki balon. Benar-benar paket wisata yang sudah didesain dengan profesional. Next time aku akan naik balon ah. Bisa di sini, bisa jadi di Jerman. Doain ya…
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s