Tour Merah Cappadocia (Liburan di Turki #13)

Tour Merah Cappadocia (Liburan di Turki #13)

Seperti biasa tour dimulai setelah sarapan pagni. Sebelumnya, group 3 dara yang naik balon udara sudah kembali dengan wajah sumringah. Sarapan di hotel Spelunca tidak seheboh Icon Hotel Istanbul. Pilihan menunya sangat minimalis.

Kali ini tour guide yang bertugas bernama Janan, wanita cantik dan langsing mirip pemain sinetron Elif di SCTV. Rombongan kali ini cukup banyak sehingga harus diangkut dengan bus sedang berisi 40-an orang.
Tujuan pertama Gerome Open Air Museum. Kenapa dibilang open air? Ya karena museum ini memang berada di ruangan terbuka, di perbukitan. Setelah membeli tiket kita bisa masuk ke dalam museum yang sebenarnya terdiri dari bekas gereja yang terbuat dari tanah liat. Ada banyak chapel atau gereja kecil di sini peninggalan dari masa kejayaan Kristen abad pertengahan. Setelah Turki Usmani masuk, gereja ini kosong karena ditinggalkan pemeluknya.
Sebenarnya, yang membangun chapel ini adalah pelarian dari Eropa karena perbedaan faham sekitar abad 7 M. Di dalam chapel berukuran sekitar 3×3 meter ini kita tak boleh berfoto. Di dalam, masih terlihat jelas lukisan wajah Yesus dan tulisan berwarna dominan merah, biru, dan hijau. Konon chapel ini juga berfungsi sebagai kuburan.
Tak lama di sini kami segera naik bus menuju Fairy Chimney. Semua daerah di sini tanahnya terdiri dari bebatuan hasil ledakan gunung berapi. Rumah2 gua terlihat di mana2. Dulu konon di gua2 bawah tanah ini tinggal ribuan orang. Motif mereka tinggal di bawah tanah tentu saja untuk bersembunyi dari penguasa yang berbeda ajaran.
Batuan yang bentuknya berbagai macam ini memang unik. Kita bagai tinggal di dunia dongeng. Ada yang mirip onta, ada juga yang mirip manusia. Di sini kita juga bisa naik onta lho… Sayup2 terdengar suara kampanye calon anggota parlemen dari sebuah mobil. Rupanya Turki sedang menghadapi pemilihan anggota parlemen tanggal 7 Juli 2015.
Makan siang kali ini cukup enak karena menunya sedikit unik, yaitu daging yang dibakar di dalam kendi. Setelah matang kendinya dipecahkan. Dagingnya benar2 lembut dan rasanya lumayan netral, tidak terlalu banyak bumbu ala Turki.
Usai makan kami kembali mengunjungi beberapa lembah dan foto2. Kegiatannya memang sedikit monoton. Nilai sejarahnya kurang terasa. Jadi, hanya fenomena alam semata. Tambahan kegiatan ya belanja souvenir.
Acara dilanjutkan dengan mengunjungi pabrik penyulingan anggur. Setiba di sana pengunjung sudah dijamu dengan anggur merah campur anggur putih. Kami hanya bisa menyaksikan dan tidak bisa mencicipi. Menurut orang India teman kami rasa anggur ini masih mirip jus, bukan wine pada umumnya.
Minuman beralkohol memang bebas diperjualbelikan di Turki. Semua hotel yang kami inapi selalu mencantumkan menu minuman keras di buku menunya. Bahkan pada saat makan siang dan malam, rata2 turis memesan bir sebagai minuman. Hanya wilayah di halaman mesjid saja yang tidak boleh menjual minuman keras.
Ada satu kejadian yang lagi ramai di Turki, yakni pembangunan mesjid baru di Adalar, sebuah pulau kecil dekat Istanbul. Pulau tujuan wisata ini menurut penggiat wisata sudah memiliki satu mesjid, jadi tidak perlu dibangun mesjid baru lagi. Jika mesjid ini dibangun, penggiat wisata merasa mesjid ini akan menghalangi aktivitas para turis.
Dari pabrik anggur, Janan membawa kami ke toko keramik di wilayah Avanos. Penduduk Avanos memang dikenal sejak dulu sebagai pengrajin keramik atau tembukar. Aku tidak masuk ke dalam dan hanya menunggu di luar sambil foto2. Rupanya toko keramik ini dekat dengan SPBU tempat mobil kami diservis saat tiba ke Cappadocia kemarin.
Lebih setengah jam di toko keramik kami berlanjut ke Red River. Sungai ini lumayan jernih. Di sampingnya ada taman yang tidak begitu indah. Tidak tampak penduduk asli yang bermain di sini. Mungkin karena masih siang. Sebenarnya ada tempat penyewaan perahu gondola di sini tapi kok tidak ada petugas yang menjaga. Benar2 tempat wisata yang aneh. Sepi sekali.
Dari sini kami dibawa ke pabrik karpet. Kami sudah ogah2an karena sebelumnya sudah pernah ke pabrik karpet di Kusadasi. Rupanya ada kurang koordinasi antara Travelshop dengan operator tour lokal. Harusnya kejadian double program begini gak boleh terjadi. Janan juga merasa tidak enak hati dengan pemilik pabrik karena hanya tinggal segelintir orang yang ikut tour. Sementara lainnya memilih beristirahat di bus yang sedang dicuci.
Pulang dari pabrik karpet kami minta diturunkan di mesjid Jamik Cappadocia. Setelah salat jamak qasar Lohor Ashar kami kembali belanja dan malamnya makan di restoran Korea yang jadi tempat favorit. Pokoknya nggak bisa ke lain lidah.

Red Tour Cappadocia
Red Tour Cappadocia
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s