Suntik Anjing di Halaman Mesjid Jamik (Liburan di Turki #14)

Suntik Anjing di Halaman Mesjid Jamik (Liburan di Turki #14)

Pesawat kami yang akan membawa ke Istanbul masih lama, sekitar pukul 17.00, sehingga kami punya banyak waktu untuk membeli oleh-oleh di Cappadocia. Sebenarnya, kami bisa saja langsung bertolak ke Istanbul kemarin sore, tapi jadwal sudah ditetapkan. 

Di malam hari sebenarnya banyak pertunjukan di Cappadocia, mulai dari tari perut hingga tarian sufi dari kelompok Darwis pengikut Jalaluddin Rumi. Selain mahal, rupanya kami juga cukup lelah. Tour yang sudah masuk hari ke-8 ini rupanya cukup mengurus fisik kami.
Pagi-pagi sekali setelah sarapan kami mulai packing. Usai packing kami menitipkan bagasi ke resepsionis hotel. Setelah itu, dengan berjalan kaki kami menikmati lagi suasana Cappadocia di waktu pagi. Tampak beberapa turis perempuan baru turun dari bus malam dan menggeret kopernya yang tidak terlalu besar. Toko souvenir juga baru sebagian yang buka. Aku mengincar sebuah coffe shop yang sudah buka untuk sekadar menikmati wifi gratis.
Matahari sebenarnya sudah menampakkan dirinya, tapi cuaca masihlah dingin. Kami sengaja berjemur di kursi taman yang terkena banyak ekspos matahari. Matahari begitu berharganya di sini. Tiga dara rupanya juga sudah gak penasaran lagi mencari oleh-oleh. Rasanya semua toko sudah dikelilingi. 
Sekitar pukul 11.00 terjadi kerumunan di depan mesjid jamik. Secara bergantian mobil berdatangan ke tempat ini. Dari mobil keluarlah seorang demi seorang sambil menggendong atau menuntun anjing. Lalu mereka menyerahkan anjing ke dokter hewan untuk disuntik. Sebuah pemandangan yang tidak lazim bagi kita di Indonesia yang sebagian besar bermazhab Syafii dan menganggap anjing sebagai najis mughalazoh atau najis berat.
Bagi masyarakat Turki yang bermazhab Hanafi, apalagi bagi yang sekuler, anjing merupakan hewan domestik yang dipelihara hampir oleh sebagian warga. Jadı, anjing bukan dianggap najis sebagaimana pendapat mazhab Syafii. Dari banyaknya mobil yang datang ke tempat ini (sekitar 30 mobil), bisa dipastikan bahwa memelihara anjing bagi orang Turki suatu yang jamak.
Siang yang panjang membuat kami kehabisan aktivitas. Belanja sudah, update status sudah, berjemur sudah, solat sudah. Akhirnya kami kembali ke hotel meski waktu kedatangan bus penjemput masih lama. Kami menunggu di lobi hotel sambil tiduran.
Sekitar satu jam lebih mobil penjemput dengan ukuran kecil tiba. Seterusnya mobil menjemput penumpang satu persatu ke hotel mereka untuk kemudian menuju bandara di kota Kayseri. Kali ini kami naik pesawat Turkish Airlines, bukan Pegasus. Lumayan, di Turkish Airlines diberi makanan ringan dan minuman. Lumayanlah, dibanding harus beli pop mie termahal sedunia dengan harga 12 lira atau setara Rp60.000. 
Sejam lebih sedikit pesawat kami tiba di Ataturk, namun harus antri lebih dari setengah jam di taxiway karena bandara sangat padat. Keluar dari bandara kami sudah dijemput oleh sopir dan tour guide yang aku lupa menanyakan namanya karena perannya sebenarnya sudah tidak signifikan lagi. Tour guide ini hanya bertugas menjemput kami dan mendrop kami di hotel Icon. Setelah kami naik ke mobil, tak ada lagi pembicaraan. Semua sibuk dengan gadget masing2.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s