Menonton Syuting Kick Andy

Hari libur 30 Juli kemarin, aku dapat sms dari Bos untuk mewakili dia menghadiri syuting Kick Andy. Kebetulan buku penerbit grup kami ada yang masuk menjadi sponsor souvenir bagi penonton. Itung2 udah lama juga nggak main ke studio. Rindu aku merasakan aura studio yang sakral.

Terakhir kali main ke studio waktu nonton syuting Telkomania di Indosiar tahun 2000. Jauh sebelumnya aku tampil di Gita Remaja tahun 1992 (kalau ini serius.narsis.com). Lihat kembali postinganku “Masuk TV: Siapa Takut?”. Lanjutkan membaca “Menonton Syuting Kick Andy”

Kun Fayakun 3

Sekitar pukul 14.00 acara launching buku dimulai. Tanpa basa-basi Yusuf langsung membuka acara. Ada yang unik dengan gaya Yusuf presentasi, yakni bukan dengan slide power point biasa, tetapi dengan menuliskan kata-kata kunci lewat pulpen khusus di laptop yang dipantulkan dengan proyektor. Tulisan tangan Yusuf yang cakar ayam tidak menghalangi hadirin untuk tetap fokus pada presentasinya.

Bisa ditiru nih gaya seperti ini, tetapi memang presenternya harus mempunyai bahasa verbal yang istimewa. Kalau yang biasa-biasa aja malah gagal total nantinya. Lanjutkan membaca “Kun Fayakun 3”

Kun Fayakun 2

Waktu salah seorang santrinya azan, Yusuf Mansur memotretnya dengan Communicator teranyar dari mihrab (tempat imam duduk). Ini menunjukkan betapa sayangnya Yusuf dengan santrinya. Bahkan sebelum sholat zuhur berjamaah dimulai, Yusuf masih sempat mengingatkan santrinya agar sholat seolah-olah kita sedang dilihat Allah.

“You know Ihsan?” tanya Yusuf kepada para santrinya.

“Act as if you see Allah. If you can’t see Allah, Allah will see you.” Yusuf memang senang menyisipkan ungkapan bahasa Inggris. Hal ini untuk membiasakan santrinya dalam berbahasa Inggris. Lanjutkan membaca “Kun Fayakun 2”

Kun Fayakun

Hari Kamis kemarin (24 Juli 2008 ) seharian saya berada di Cipondoh, Tangerang. Tepatnya di pesantren Darul Qur’an yang dipimpin oleh Ustadz Yusuf Mansur. Acaranya, launching buku the Insight of Kun Fayakun yang terdiri dari 7 buku. Wah, produktif banget Sang Ustadz. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Salamadani, satu grup dengan perusahaan tempat saya bekerja.

Lokasi pesantren ini memang berada di sekitar pemukiman penduduk. Setelah terminal Kalideres kita belok kiri menyeberang kali, menyusuri jalan Semanan. Nanti jika banyak cabang jalan, tanya aja ke tukang ojek, pasti mereka bisa menjawab. Setelah bertanya dua kali, akhirnya kami tiba di tempat pada pukul 11.00. Takjub juga menyaksikan sebuah gedung berlantai 5 di tengah perkampungan yang jalannya lebih banyak terdiri dari paving blok, bukan aspal. Lanjutkan membaca “Kun Fayakun”

Hati-Hati di Rest Area Km 19!

Rest Area km 19 jalan tol Jakarta-Cikampek merupakan tempat yang paling ramai disinggahi di antara tempat lain. Posisinya yang belum jauh dari Jakarta membuatnya menjadi tempat favorit, baik untuk sekedar mengisi BBM maupun untuk mengisi perut. Hampir semua restoran yang akrab di telinga kita ada di sini, mulai dari rumah makan padang Sederhana sampai warung kopi Starbuck. Lanjutkan membaca “Hati-Hati di Rest Area Km 19!”