Pantai Ancol

Di Jakarta, tampaknya hanya di Ancol kita dapat menemukan pantai yang tidak terlalu jauh. Kalau harus ke Pangandaran atau Anyer, wah udah capek di jalan duluan. Kalau ke Ancol, apalagi di Minggu pagi, dengan mengeluarkan uang Rp 6.000 kita sudah bisa menikmati jalan tol dalam kota dan tiba di pantai dalam hitungan menit (dengan catatan kalau rumahnya masih di dalam kawasan kota Jakarta).

Minggu kemarin, aku berkesempatan membawa tiga keponakan dari adikku yang di Bandung. Mereka kutawari, mau ke pantai atau berenang di kolam kompleks. Acal dan Miki memilih pantai, hanya Sasa memilih kolam. Maka, kuputuskan untuk ke pantai Ancol. Kami berangkat tanpa papa mereka yang sedang menguji di Purwacaraka Music School cabang Harapan Indah.

Lanjutkan membaca “Pantai Ancol”

Kamus Mini Bahasa Medan

Berhubung penduduk Medan adalah campuran dari berbagai etnis, bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar yang paling dipahami. Tak heran, di seluruh Sumatera Utara tidak diajarkan bahasa daerah. Di rapor siswa, kolom bahasa daerah tetap dikosongkan.

Meskipun demikian, ada beberapa bahasa Indonesia di Medan yang tidak berlaku di wilayah lain. Hal ini baru terasa, jika ada perantau atau turis lokal yang berkunjung ke Medan. Kesalahpahaman sering terjadi akibat perbedaan dialek ini. Sepintas katanya pernah kita dengar, tapi ternyata artinya berbeda. Berikut ini, saya tampilkan kamus mini bahasa “Medan” untuk menjadi bekal bagi pelancong, sehingga dapat meminimalkan kesalahpahaman. Lanjutkan membaca “Kamus Mini Bahasa Medan”

Zulaikha’s Effect

Bisnis oleh-oleh di Medan masih berputar pada bika ambon (belum tahu bagaimana sejarah bika ambon masuk ke Medan), bolu gulung, teri, sirup markisa dan kopi. Belakangan saya melihat dendeng aceh di etalase sebuah toko bursa oleh-oleh. Di antara semua oleh-oleh tadi, brand yang sedang naik daun adalah Zulaikha untuk bika dan Meranti untuk bolu gulung.

Senin 13 Oktober 2008, sebelum pulang ke Jakarta, saya menyempatkan diri mampir ke jalan Mojopahit yang dikenal sebagai pusat penjualan bika ambon. Saat itu sekitar pukul 12.00 siang, alangkah terkejut sekaligus mangkelnya saya setelah mendengar dari penjaga toko yang tidak ramah kalau stok bika ambon di toko Zulaikha sudah habis.

“Stok baru ada lagi pukul 13.30 siang. Nanti kembali lagi aja, Bang” Lanjutkan membaca “Zulaikha’s Effect”

Catatan Seputar Lebaran

Perayaan lebaran merupakan peristiwa tahunan yang melibatkan begitu banyak aspek, baik ritual maupun kultural. Di bawah ini beberapa catatan yang sempat saya perhatikan.

Keseragaman

Lebaran tahun ini kaum muslimin dapat merayakannya pada hari yang sama. Semua ormas yang merupakan mainstream seperti NU, Muhammadiyah dan Persis bersepakat dengan pemerintah yang merayakan lebaran pada tanggal 1 Oktober 2008. Sebuah pencapaian yang perlu dipelihara pada tahun mendatang.

Meskipun demikian, ada saja aliran yang berbeda dengan arus utama ini. Ada aliran yang merayakannya sebelum, bahkan sesudah tanggal yang ditetapkan pemerintah. Hizbut Tahrir Indonesia yang mengedepankan konsep khilafah berlebaran sehari sebelum pemerintah dengan pertimbangan negara-negara Timur Tengah sudah melihat hilal pada tanggal 29 September (29 Ramadan). Menurut mereka, hilal ini berlaku juga untuk seluruh dunia, tidak saja di negara setempat yang melihatnya. Lanjutkan membaca “Catatan Seputar Lebaran”