Tag: Medan

Rainbow Cake

Rainbow Cake Medan
Rainbow Cake ala Nawha Cookies

Kali pertama saya mengetahui adanya kue yang bernama Rainbow Cake ini dari bos saya yang anaknya akan berulang tahun. Saat itu, beliau meminta sekretarisnya untuk memesan kue ini. Menurut keterangan beliau, kue ini lagi happening di Jakarta. O ya? Kok saya nggak tahu. Wah, ternyata saya memang kurang gaul nih…

Lanjutkan membaca “Rainbow Cake”

Bendahara Mushola

Sejak pensiun sebagai pegawai PTPN V Pekanbaru pada tahun 2000, ayahku mengisi harinya dengan pelbagai aktivitas. Untuk mengusir kejenuhan, pernah dia mencoba bekerja kembali di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta. Tetapi ini tidak berlangsung lama.

Lokasi kerja yang relatif jauh dari rumah kami di Medan menjadi salah satu alasannya. Belum lagi, di lokasi perkebunan ayah hidup layaknya anak kos. Setiap Senin pagi dia bersegera berangkat ke perkebunan yang hampir mendekati perbatasan Sumut-Aceh. Sebaliknya, Sabtu siang ayah bersiap-siap kembali ke rumah setelah lelah bekerja 6 hari seminggu. Lanjutkan membaca “Bendahara Mushola”

Kuliner Lebaran

Menu lebaran di tiap keluarga pasti berbeda. Jangankan pada etnis atau daerah yang beda, di daerah yang sama pun menunya bisa bervariasi. Ini tergantung dari kebiasaan atau tradisi stempat dan pengaruh dari budaya lain, misalnya karena kawin campur atau karena faktor merantau.

Di rumah orangtua saya di Medan, menu utama lebaran identik dengan rendang. Entah kenapa, kami yang bukan orang Padang mewajibkan rendang. Sepertinya keluarga lain di seantero Medan pun demikian, tak peduli apa sukunya. Apapun makanan utamanya, rendang selalu ada.

Terkadang rendang dimakan dengan ketupat ketan. Cukup dicocol, tidak menggunakan sayur karena ketupatnya sudah gurih dari sononya. Gurih dari mana? Ya dari pengaruh santan kelapa saat perebusan. Lanjutkan membaca “Kuliner Lebaran”

Kamus Mini Bahasa Medan

Berhubung penduduk Medan adalah campuran dari berbagai etnis, bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar yang paling dipahami. Tak heran, di seluruh Sumatera Utara tidak diajarkan bahasa daerah. Di rapor siswa, kolom bahasa daerah tetap dikosongkan.

Meskipun demikian, ada beberapa bahasa Indonesia di Medan yang tidak berlaku di wilayah lain. Hal ini baru terasa, jika ada perantau atau turis lokal yang berkunjung ke Medan. Kesalahpahaman sering terjadi akibat perbedaan dialek ini. Sepintas katanya pernah kita dengar, tapi ternyata artinya berbeda. Berikut ini, saya tampilkan kamus mini bahasa “Medan” untuk menjadi bekal bagi pelancong, sehingga dapat meminimalkan kesalahpahaman. Lanjutkan membaca “Kamus Mini Bahasa Medan”

Zulaikha’s Effect

Bisnis oleh-oleh di Medan masih berputar pada bika ambon (belum tahu bagaimana sejarah bika ambon masuk ke Medan), bolu gulung, teri, sirup markisa dan kopi. Belakangan saya melihat dendeng aceh di etalase sebuah toko bursa oleh-oleh. Di antara semua oleh-oleh tadi, brand yang sedang naik daun adalah Zulaikha untuk bika dan Meranti untuk bolu gulung.

Senin 13 Oktober 2008, sebelum pulang ke Jakarta, saya menyempatkan diri mampir ke jalan Mojopahit yang dikenal sebagai pusat penjualan bika ambon. Saat itu sekitar pukul 12.00 siang, alangkah terkejut sekaligus mangkelnya saya setelah mendengar dari penjaga toko yang tidak ramah kalau stok bika ambon di toko Zulaikha sudah habis.

“Stok baru ada lagi pukul 13.30 siang. Nanti kembali lagi aja, Bang” Lanjutkan membaca “Zulaikha’s Effect”