Umroh #2

Hery Azwan di Mesjidil Haram
Berpose di depan ka'bah setelah tawaf

Hotel Royal Dar El Eiman (kalau versi EYD Royal Darul Iman) terletak tidak jauh dari pintu satu (Pintu King Abdul Aziz) Mesjidil Haram. Hotel ini berdempetan dengan Hotel Assofwah, dan menempel bagian belakangnya dengan Zamzam Tower. Bagian sampingnya berhadapan langsung dengan pelataran Mesjidil Haram. Hotel ini diklaim sebagai bintang lima, meskipun kalau dilihat dari standar Indonesia setara dengan bintang 3 dan 4. Katanya, standar bintang lima di Mekkah diberikan pada hotel yang jaraknya sangat dekat atau lapis satu dari Mesjidil Haram. Jadi, lupakan saja standar hotel yang umum dipakai.

Dari tempat bus berhenti kita harus naik ke lantai 3 untuk mencapai lobi hotel. Setelah mencapai lobi, kami duduk-duduk sejenak sambil menunggu rooming list. Alhamdulillah, akhirnya kamarku berhadapan dengan kamar mertuaku sehingga kami tidak kesulitan untuk bertemu. Sebelumnya, mertuaku sudah melakukan lobi khusus mengenai hal ini kepada tim Percikan Iman, bahkan dari tanah air, saat kami masih di bandara Soekarno Hatta. Ha ha….gaya Indonesia banget, tapi cukup efektif.

Rencananya, setelah meletakkan koper di kamar dan istirahat sejenak, kami akan langsung melakukan prosesi umroh, yakni tawaf, sa’i dan tahalul yang durasinya kira-kira sekitar 2-3 jam saja. Akan tetapi Pak Aam sebagai pembimbing ibadah melihat wajah-wajah keletihan terpancar dari jamaah pasca perjalanan 9 jam dengan pesawat ditambah 1.5 jam dengan bus. Maka diputuskan prosesi ibadah umroh dilakukan esok hari setelah sarapan pagi, sekitar pukul 07.30.

Pak Aam berpesan kepada jamaah laki-laki agar kami tidur dengan posisi “manis” karena pakaian ihram masih lekat di badan. Jadi, tidur dalam keadaan ibadah. Tidak boleh ada gerakan yang terlalu agresif yang bisa membatalkan ibadah. Pakaian ihram tidak boleh dilepas. Saat mandi, yang harus diingat adalah tidak boleh menggunakan sabun wangi, apalagi parfum. Adapun menyikat gigi menggunakan pasta gigi masih diperbolehkan.

Bagi yang sudah pernah ke Mekkah sebelumnya, Pak Aam mempersilakan untuk salat subuh esok harinya di Mesjidil Haram. Bagi yang baru pertama kali ke Mekkah, lebih salat subuh di kamar masing-masing, khawatir tersesat.

Setelah briefing dari Pak Aam berakhir, kami bersiap menuju kamar masing-masing. Agar lebih cepat kami dipersilakan mengambil sendiri kopor masing-masing di lantai 11. Maklumlah, di sini petugas hotelnya tidak sebanyak petugas hotel di Indonesia. Singkat kata, tibalah kami di kamar.

Ternyata ada 3 bed di kamarku, begitu juga di kamar mertuaku. Sementara kami penghuninya hanya 2 orang. Tampaknya standar kamar di hotel ini memang didesain untuk 3 orang mengingat padatnya jamaah saat musim haji. Wah, satu bed mubazir nih….

Jadi kepikiran, kalau di musim haji kebetulan ada saudara yang ikut haji reguler, bisa nebeng di kamar kita. Hi hi…. (Orang Indonesia banget deh)….Positifnya, dengan bed yang terpisah, posisi tidur yang masih dengan pakaian ihram jadi lebih aman, tidak banyak godaan.

Pagi-pagi sekali, usai salat Subuh, kami sudah antri di depan restoran. Belum pukul 06.00, tetapi restoran sudah buka. Menu ala Arab sudah tersaji. Yang rada unik adalah roti polos seperti martabak yang menjadi makanan pokok bagi orang Arab. Ada juga menu kacang merah yang diberi bumbu khusus. Ada juga daging giling yang ditumis, acar bawang, tomat giling, dan tak ketinggalan bumbu khas Arab yang masih dalam bentuk kering dengan aroma menyesakkan hidung (tampaknya campuran jinten dan kapulaga, entahlah….). Aku mengambil sedikit menu Arab ini sebagai bagian dari pengalaman kuliner, tapi mulutku rupanya belum dapat menerimanya dengan ikhlas, sehingga tidak seluruh porsi yang kuambil bisa kuhabiskan. Rasanya hampir mirip jamu. Sebagai gantinya aku mengambil telor rebus dan roti yang lebih berterima di mulutku.

Salah satu menu breakfast di Mekkah
Salah satu menu breakfast di Mekkah

Pukul 07.00 kami sudah berkumpul di lobi hotel untuk menerima briefing tentang prosesi umroh dan orientasi arah hotel menuju Mesjidil Haram. Di gedung ini rupanya ada 3 hotel yang tidak berbatas. Penanda ke hotel kami ada sebuah toko Giordano yang berwarna oranye sehingga cukup kinclong untuk dikenali.

Pukul 07.30 Pak Aam memberikan briefing. Pada kesempatan ini aku juga menyempatkan membeli kartu perdana Mobily senilai SR40 dari tim Percikan Iman. Paket blackberry untuk 7 hari senilai SR30 bisa diaktifkan dengan mengetik BIS7 dan dikirim via sms ke nomor 11000. Dalam sekejap blackberry aktiflah sudah….

Fasilitas hotel yang tidak kuduga adalah jaringan wifi. Aku mengira hotel di Mekkah tidak ada jaringan wifi-nya sehingga aku memutuskan tidak membawa iPad. Ternyata di hotel Dar El Eiman ada. Wah nyesel juga sih. Tapi nggak ding. Efeknya, nggak ada iPad, ibadah lebih khusyu’.

Tawaf

Dengan semangat empat lima kami menuruni hotel menuju masjidil haram. Setiba di depan pintu satu kami melepas sandal dan memasukkannya ke dalam plastik. Di mesjidil haram tersedia plastik dalam keadaan tergulung seperti halnya di pasar swalayan. Tas ini bisa kita masukkan ke rak yang tersedia ataupun kita masukkan ke dalam tas sandang pemberian dari Percikan Iman.

Perlahan ka’bah mulai terlihat dengan jelas. Ada rasa takjub bercampur haru seketika. Inilah tempat yang selama ini menjadi kiblatku dan semua kaum muslimin saat menjalankan salat . Kini benda berbentuk kubus yang diselubungi kain hitam ini ada di depanku. “Terima kasih Ya Allah yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk melihat benda yang didirikan oleh Nabi Ibrahim ini”. Pada saat melihat ka’bah ini kita disunahkan membaca Allahumma antassalam……dst

اللهم انت السلام ومنك السلام فحينا ربنا بالسلام

Sejurus kemudian kami berkumpul di bawah lampu hijau. Tawaf dimulai dari tempat yang segaris dengan lampu hijau ini. Lampu ini jika ditarik garis lurus akan sejajar dengan hajar aswad atau batu hitam yang terletak di salah satu sudut ka’bah. Tawaf harus dilakukan dalam keadaan berwudu. Pada prosesi tawaf, jamaah mengelilingi ka’bah melawan jarum jam sebanyak 7 kali.

Pada tawaf qudum (tawaf selamat datang), pada 3 putaran pertama disunahkan berlari kecil, selanjutnya 4 putaran berikutnya jamaah cukup berjalan biasa saja. Aku bergandengan dengan istriku, sementara mama mertuaku bergandengan dengan bapak mertuaku. Kami membentuk barisan yang dipimpin oleh Pak Aam di barisan depan.

Tawaf dimulai dengan mengangkat tangan ke arah hajar aswad, kemudian mengecup tangan tersebut sambil membaca “Bismillahi Allahu Akbar”. بسم الله الله اكبر

Selanjutnya kita boleh membaca do’a standar seperti “Subhanallah Walhamdulillah Wa la ilaha illa Allah Wallahu Akbar

سبحان الله والحمدلله ولا اله الا الله والله اكبر

Doa yang lain dalam berbagai bahasa juga dibolehkan.

Setelah sejajar dengan rukun Yamani, atau sudut Yamani (satu sudut sebelum hajar aswad), kita membaca Rabbana Atina fiddunya hasanah…ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار

Doa ini terus dibaca hingga kita tiba di hajar aswad. Di sini kita membaca lagi Bismillahi Allahu Akbar sambil mengangkat tangan dan mengecupnya. Jika memungkinkan, kita bisa mengecup atau mengusap hajar aswad. Kesempatan mengecup hajar aswad memang sulit didapat karena padatnya jamaah. Sebenarnya tidak ada fadilah atau keistimewaan mengecup hajar aswad, tetapi jamaah rela antri dan berdesak-desakan dengan risiko terinjak dan menyikut jamaah lain. Tak jarang askar harus mengusir jamaah yang berlama-lama mengecup hajar aswad.

Aku sendiri tidak begitu berminat untuk mencium hajar aswad, sementara istriku sangat bersemangat. Pada tawaf-tawaf berikutnya yang kami kerjakan istriku selalu berupaya untuk mencium hajar aswad, tetapi keadaan sangat padat sehingga keadaan tidak memungkinkan. Aku teringat perkataan Khalifah Umar bin Khattab tentang hajar aswad ini,”Engkau hanya batu hitam yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kepadaku. Jikalau Nabi tidak menyuruh kami untuk mengecupmu niscaya aku tidak akan melakukannya”.

Untuk menandai sudah berapa kali kita mengitari ka’bah lebih baik menggunakan karet gelang. Tujuh karet gelang di tangan kanan dipindahkan ke tangan kiri atau sebaliknya setiap kali kita melewati hajar aswad atau satu putaran. Tugas ini dilakukan oleh mama mertuaku.

Entah pada putaran keberapa, wajah istriku mulai memerah. Perlahan air mata mengalir. Matanya semakin sembab. Air mata mengalir semakin deras jauh lebih deras seiring dengan putaran tawaf. Wajah istriku semakin merah seperti kepiting rebus.

Sementara aku belum menangis juga. Apakah hatiku terlalu keras ya Allah…. Ampuni aku ya Allah…..

Setelah tujuh putaran, kita disunahkan untuk salat sunnah dua rakaat di dekat hijir Ismail. Setelah Al Fatihah, di rakaat pertama disunahkan membaca Surah Al Kafirun, dan di rakaat kedua membaca surah Al Ikhlas. Setelah salat kita dapat berdoa sesuai hajat masing-masing.

Nah, pada momen inilah biasanya bercampur pria dan wanita. Tak jarang, saat sujud, kepala kita dilewati jamaah lain, baik pria maupun wanita, yang mencari posisi untuk salat. Kita tidak bisa berlama-lama di sini karena biasanya askar akan mengusir.

Setelah salat, kita disunahkan minum air zamzam yang disediakan di setiap sudut masjid. Dengan cangkir plastik seukuran cup air mineral kita dapat membasahi tenggorokan. Rasa air zamzam di sini sangat nikmat dan segar, berbeda dengan rasa air zamzam yang sudah dibawa ke Indonesia yang agak payau.

Sambil minum air zamzam kita berdoa sbb: اللهم انا نسالك علما نا فعا ورزقا واسعا وشفاء من كل داء وسقم

Drum air zamzam
Salah satu tempat mengambil air zamzam

Sa’i

Setelah minum air zamzam, kita siap menunaikan sa’i, yaitu berlari kecil dari bukit Sofa ke Marwa dan sebaliknya. Posisi lintasan Sofa dan Marwa yang berjarak sekitar 450 meter ini sebenarnya masih berada di lingkungan Masjidil Haram. Dari lampu hijau kita hanya jalan sedikit ke kiri arah luar mesjid. Di sana ada petunjuk Sofa Starts Here.

Hery Azwan & Yuli Yulianti
Di depan bukit Sofa

Sofa ini memang benar-benar bukit, hanya tidak terlalu tinggi, bagai gundukan tanah setinggi 3 meter, yang sudah dilapisi marmer. Sisa batu cadas asli masih dibiarkan untuk menandai bahwa benar di sini pernah ada bukit Sofa, bukan rekayasa manusia.

Terbayang kembali bagaimana Hajar mencari air 4000 tahun lalu di tanah gersang ini. Bersama anaknya Ismail, Hajar ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim setelah mendapat perintah Allah. Jikalau menggunakan perspektif saat ini tentu saja tindakan Nabi Ibrahim dapat dikategorikan sebagai tindakan yang tidak berperasaan atau sadis. Bayangkan, istri dan anaknya yang masih bayi ditinggal di lembah tandus Mekkah, 1.000 km lebih dari daerah asalnya di Palestina. Tidak ada tumbuhan, tidak ada air. Hanya batu cadas dan padang pasir. Belum lagi kalau kita bayangkan transportasi dari Palestina ke Mekkah. Berapa lama perjalanan tersebut ditempuh? Bagaimana mereka makan dan minum di jalan? Dsb.

Kini, doa Nabi Ibrahim agar penduduk negeri ini diberikan keamanan dan rezeki berupa buah-buahan telah dikabulkan Allah. Sepanjang tahun, negeri ini dikunjungi oleh umat Islam seluruh dunia. Kunjungan ini tentu menggerakkan ekonomi Mekkah dan perdagangan. Buah-buahan dari segala penjuru dunia dapat dibeli dengan murah di Mekkah.

Setelah sampai di Sofa, kita membaca Inna assofa walmarwata min sya’airillah ان الصفا والمروة من شعائر الله

Kemudian berdoa

الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير

لا اله الا الله وحده انجز وعده ونصر عبده واعز جنده وهزم الاحزاب وحده

Di sepanjang lintasan Sofa Marwa ada dua lampu hijau. Ketika kita mencapai lampu hijau pertama kita disunahkan berlari kecil hingga lampu hijau berikutnya. Setelah itu, boleh jalan kembali.

Setiba di bukit Marwa kita berdoa yang sama dengan doa di bukit Safa. Adapun di sepanjang perjalanan Sofa Marwa kita boleh membaca doa apa saja.

Tahalul

Setelah selesai sai di bukit Marwa dan berdoa, maka kita langsung melakukan tahalul atau memotong rambut minimal 3 helai. Setelah tahalul, larangan saat berihram sudah boleh dilakukan lagi. Pakaian ihram boleh dilepas. Selanjutnya jika ingin melakukan tawaf sunnah kapan saja, kita boleh mengenakan pakaian apa saja. Tetapi perlu diingat tidak ada sai sunnah ya.

Aku hanya memotong 3 helai rambut, begitu juga dengan istriku dan mertuaku. Sebenarnya, istriku meminta agar aku memotong habis rambutku sampai plontos. Aku masih mempertimbangkannya. Bukan apa-apa. Soalnya, di barbershop hotel tarifnya SR 40 atau sekitar Rp100.000. Masa untuk pangkas botak plontos yang tidak membutuhkan keahlian semahal itu.

Sehabis tahalul, kami pulang ke hotel lewat pintu keluar di bukit Marwa. Kami berfoto-foto di halaman masjidil haram yang konon dulu Pasar Seng berlokasi di sini. Pembangunan masih gencar-gencarnya di sini. Mobil pembersih lantai juga berseliweran. Matahari pukul 10.30 pagi mulai memancarkan panasnya. Usai sudah prosesi ibadah umroh kami. Tidak sampai tiga jam.

Hery Azwan & Yuli Yulianti setelah umroh
Berpose setelah umroh di pelataran Al Haram

Inti ibadah umroh/haji memang aktivitas fisik atau total action. Semua indra bergerak. Bagi yang jarang berolahraga memang tawaf plus sai cukup melelahkan. Uniknya, mama mertuaku yang biasanya kalau jalan ke mall sebentar saja kakinya sudah bengkak, tetapi setelah menunaikan tawaf dan sai ternyata beliau tetap segar bugar tidak merasakan lelah. Inilah bukti motivasi bisa mengalahkan kelemahan fisik.

Bagi teman-teman yang belum merasakan umroh/haji, aku sarankan untuk rajin jogging atau jalan cepat beberapa bulan sebelum omroh/haji sehingga fisik kita tidak terlalu terkejut. Aku sendiri, yang jarang berolahraga merasakan betapa melelahkannya ibadah ini. Setelah selesai umroh ingin rasanya dipijat seluruh badan, minimal pijat refleksi di kaki. Apa daya, layanan ini tidak ada di Mekkah. Mungkin ini bisa menjadi bisnis yang menguntungkan jika diizinkan oleh otoritas Mekkah. Tentu saja, laki-laki dipijat laki-laki, perempuan dipijat perempuan. Ayo siapa yang mau buka usaha pijat refleksi di Mekkah? (masih bersambung….)

Iklan

5 tanggapan untuk “Umroh #2

  1. aduh bang hery pikiran dagangnya itu loh, masak mau buka panti pijat di sana?
    Jadi banyak tahu membaca tulisan ini

    Ha ha… ide ini muncul begitu saja setelah mendengar banyak teman2 yang juga pegal2 dan butuh tukang pijat.

  2. Bang …
    Saya tersenyum membaca cuplikan yang satu ini …

    … Pak Aam berpesan kepada jamaah laki-laki agar kami tidur dengan posisi “manis” karena pakaian ihram masih lekat di badan …

    juga yang ini …
    Untuk menandai sudah berapa kali kita mengitari ka’bah lebih baik menggunakan karet gelang

    Ini tips-tips ringan … tetapi saya rasa tidak bisa diangap ringan manfaat dan faedahnya

    saya catat ini bang …

    salam saya

    Mudah-mudahan bisa jadi bekal bermanfaat bagi yang pengen umroh atau haji….
    Salam kembali, bos….

  3. ada lagi yang menurut saya penting, yaitu menyiapkan pelembab. gunanya bukan hanya untuk menepis hawa panas, tapi juga untuk dioles di pangkal paha, area seputar ‘adek’…. soalnya kalo ga pake pelembab, suka lecet. kan ga boleh pake GT-Man. sementara perjalanan sa’i membuat pangkal paha selalu bergesekan….

    benar bro. tapi untung punya ane aman aja tuh. alhamdulillah gak sampe lecet….

    1. Haha… Ngakak abis baca komentar si Ulwi…
      Tapi benar juga sih..
      Kapan-kapan kalau dapat kesempatan umroh/haji, sarannya patut dipertimbangkan… 🙂

      Detail banget laporannya, bro. I like it..

      Wah, betul tuh bro. Tapi alhamdulillah aku nggak lecet tuh. Padahal gak pake lotion lho….

  4. hahaha…ide panti pijat itu bagus juga. Di negeri kita kan banyak tunanetra yang pandai memijat.

    Yup, teman2 tuna netra bisa dilatih utk memijat yg benar, bshasa Arab dan Inggris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s