Semalam di Padang

Perjalananku ke Padang kali ini bukanlah perjalanan sebagai relawan gempa, namun perjalanan bisnis. Maksudnya, ya urusan kantor gicuuu.

Aku berangkat hari Kamis 15 Oktober. Dari bandara Soekarno Hatta sudah terlihat kepadatan di terminal 1B. Untuk masuk ke ruang penumpang saja dibutuhkan waktu sekitar 15 menit. Antrian semakin mengular, sementara penumpang lain duduk di kursi, bahkan ada yang duduk di lantai. Sudah tak ada lagi beda antara bandara dengan terminal bus antar kota sepertinya. Lanjutkan membaca “Semalam di Padang”

Mandi di Kali

duh aduh Siti Aisyah

mandi di kali bajunya basah

tidak sembahyang tidak puasa

di dalam kubur mendapat siksa

(sebuah lagu kasidahan, judulnya lupa)

Bagi anak-anak yang tinggal di Jakarta saat ini (tahun 2009), mandi di kali barangkali tidak pernah terpikirkan dalam benak mereka. Ya iyalah. Udah airnya kotor, banyak sampah, terkena polusi pula.

Meskipun demikian, jika kita sedikit rajin mengintip di sepanjang aliran kali Ciliwung, maupun di bawah simpang susun selepas tol bandara, kita dapat menemui masyarakat yang masih memanfaatkan kali untuk mandi, mencuci, bahkan sikat gigi. Kemiskinan membuat mereka terpaksa melakukannya dan lama-lama jadi terbiasa meskipun sebenarnya mereka tidak suka. Lanjutkan membaca “Mandi di Kali”

Bendahara Mushola

Sejak pensiun sebagai pegawai PTPN V Pekanbaru pada tahun 2000, ayahku mengisi harinya dengan pelbagai aktivitas. Untuk mengusir kejenuhan, pernah dia mencoba bekerja kembali di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta. Tetapi ini tidak berlangsung lama.

Lokasi kerja yang relatif jauh dari rumah kami di Medan menjadi salah satu alasannya. Belum lagi, di lokasi perkebunan ayah hidup layaknya anak kos. Setiap Senin pagi dia bersegera berangkat ke perkebunan yang hampir mendekati perbatasan Sumut-Aceh. Sebaliknya, Sabtu siang ayah bersiap-siap kembali ke rumah setelah lelah bekerja 6 hari seminggu. Lanjutkan membaca “Bendahara Mushola”

Kuliner Lebaran

Menu lebaran di tiap keluarga pasti berbeda. Jangankan pada etnis atau daerah yang beda, di daerah yang sama pun menunya bisa bervariasi. Ini tergantung dari kebiasaan atau tradisi stempat dan pengaruh dari budaya lain, misalnya karena kawin campur atau karena faktor merantau.

Di rumah orangtua saya di Medan, menu utama lebaran identik dengan rendang. Entah kenapa, kami yang bukan orang Padang mewajibkan rendang. Sepertinya keluarga lain di seantero Medan pun demikian, tak peduli apa sukunya. Apapun makanan utamanya, rendang selalu ada.

Terkadang rendang dimakan dengan ketupat ketan. Cukup dicocol, tidak menggunakan sayur karena ketupatnya sudah gurih dari sononya. Gurih dari mana? Ya dari pengaruh santan kelapa saat perebusan. Lanjutkan membaca “Kuliner Lebaran”